
"Terima kasih ya, Pak, sudah mau membeli rumah ini. Rumah ini punya banyak kenangan untuk saya, tetapi bagaimanapun saya sudah tak punya siapa-siapa lagi untuk mengurusnya."
Seruni menjabat tangan pria di hadapannya. Tetangga yang berjengkal beberapa rumah dari rumahnya itu membeli rumah Seruni dengan harga yang cukup murah untuk ditinggali anak dan menantunya yang baru menikah.
Seruni kemudian melangkah, menyeret koper dan pergi dengan ojek menuju ke warung remang-remang mak Ute. Perempuan paruh baya itu menyambut Seruni dengan rentangan tangan.
"Aku pamit lagi ya, Mak. Mungkin akan lama sekali kembali ke kampung dan ke sini. Rumah sudah kujual, Mak."
"Mak mengerti, Run. Kau yang baik ya di Jakarta. Ingat, apapun yang terjadi, tetaplah berbahagia."
Seruni mengangguk, menunduk sebentar lantas naik lagi ke ojek yang akan mengantarkannya ke terminal. Di sana dia akan mencari bus atau travel menuju ke bandara. Tadinya, Seruni mau mengantar jam tangan Bima, tapi dia urungkan. Biarlah nanti di Jakarta akan dipulangkannya lagi benda itu.
Mak Ute melepas kepergian Seruni untuk kedua kali dan setelah ini entah kapan mereka bisa berjumpa lagi. Mungkin ketika Seruni kembali, dia pun sudah dikandung tanah. Entahlah, perkara umur memang tak ada yang tahu.
Seruni melambaikan tangan hingga menghilang dari pandangan.
Sementara itu di rumah kedua orangtuanya, Bima sedang berdiri di teras atas rumahnya, ia melihat semua rumah penduduk yang bisa dilihatnya dari atas sana. Ia mencari di mana letak rumah Seruni. Senyum Bima tercetak setiap dia ingat Seruni. Sungguh sebenarnya dia sudah jatuh hati.
"Bima ..."
__ADS_1
Bim menoleh, melihat ibunya di belakang sedang melipat kedua tangan di depan dada. Bima mengajak ibunya duduk kemudian. Wajah ibunya terlihat begitu serius seperti ada yang ingin dibicarakan.
"Ibu kelihatan serius sekali." Bima tertawa kecil melihat ibunya.
"Memang ada hal yang serius yang ingin Ibu bahas denganmu."
"Katakan saja, Bu. Tak biasanya Ibu seserius ini."
"Bim ... Kau dan Atikah apakah baik-baik saja?"
Bima langsung terdiam. Ekspresinya berubah. Benar, apa hubungannya dengan Atikah baik-baik saja saat ini? Bima sendiri tak tahu, tapi yang jelas sekarang bayangan Atikah nyaris tak ada lagi. Sudah berganti dengan sosok yang lain, perempuan yang pernah ia tinggalkan begitu saja sepuluh tahun yang lalu. Perempuan yang masih menatapnya dengan kebencian. Seruni.
"Dengar, Ibu sudah sangat setuju kau menikah dengan Atikah. Keluarganya sepadan dengan keluarga kita. Ibu tidak mau hubunganmu dan Atikah sampai bermasalah karena kehadiran orang lain."
"Maksud Ibu?"
"Ibu tahu kau akhir-akhir ini sering mengunjungi perempuan yang ibunya baru meninggal itu. Dia tidak pantas untukmu, Bim. Ibu harap kau tidak salah langkah. Apalagi dia bekerja sebagai perempuan penghibur di Jakarta sana, sungguh akan sangat memalukan bila kau sampai main hati dengannya."
Bima menatap ibunya lekat, sesungguhnya, lamarannya dengan Atikah saat itu memang dipercepat karena ibu Bima sudah mendesaknya agar menikahi Atikah. Padahal, Bima saat itu belumlah siap. Sementara ibunya punya alasan karena Laras sudah kebelet nikah dan di keluarga mereka tidak ada yang boleh melangkahi kakaknya. Karena itu Bima didesak untuk segera menikah dengan Atikah.
__ADS_1
"Ibu jangan asal bicara seperti itu. Seruni tak seperti itu, Bu. Dan jujur saja, rasanya aku tidak bisa meneruskan pernikahan dengan Atikah. Aku akan datang langsung ke orangtuanya untuk membatalkan pernikahan itu."
"Bim!!!"
"Ibu, sungguh, perkara aku dan Seruni bukan tentang perasaan semata. Ada hal yang telah aku renggut darinya sepuluh tahun yang lalu. Aku ingin mempertanggungjawabkan semua perbuatanku kepadanya di masa lalu."
Nyonya Tono menekan dadanya. Bima segera mendekat dan menenangkan ibunya itu. Mau tidak mau, dia ingin mengatakan hal yang sebenarnya agar keluarganya tahu bahwa dialah yang sudah mengejar Seruni selama ini.
"Sampai mati pun, Ibu tidak akan pernah merestui niatmu itu, Bim! Ibu tidak sudi punya menantu yang tidak sederajat dengan kita! Kau harus paham darimana kau berasal, jangan sampai kau mempermalukan keluarga kita dengan semua keputusan sesatmu itu. Ingat, hanya Atikah yang boleh menikah denganmu. Nikahi dia sesuai tanggal yang sudah kita sepakati bersama keluarganya karena setelah itu Laras juga akan dipinang oleh kekasihnya."
"Maaf, Bu, aku tidak ingin dikurung rasa bersalah terhadap Seruni hingga akhir hayatku. Aku sudah punya keputusan setelah kembali ke Jakarta kelak. Dan perihal Laras yang ingin segera menikah, maka biarkan dia melangkahiku. Jangan biarkan Laras terlalu lama berpacaran dengan lelaki, aku tidak ingin sesuatu yang pernah terjadi kepada Seruni di masa lalu karena ulahku dulu, akan terjadi pula kepada Laras."
"Ibu tidak mengerti apa yang kau maksud! Tapi Ibu tidak akan pernah merestui jika kau nekat tetap mengejar perempuan itu. Ingat, Bima, kau dari keluarga terpandang. Lemparkan uang kepada perempuan itu dan lupakan dia juga peristiwa yang pernah terjadi di antara kalian dulu."
Bima menggeleng, ia melepaskan pegangannya kepada ibunya perlahan.
"Sungguh, Bu, tak semua hal bisa dibeli dengan uang."
Bima kemudian berlalu, turun ke bawah dengan nyonya Tono yang masih memanggil-manggil dirinya untuk kembali.
__ADS_1