
"Jadi kau sudah mengantungi izin untuk pulang ke desa?" tanya Bima keesokan harinya selepas ia selesai bekerja. Ia mampir dulu ke kontrakan Seruni dengan membawa buah kesukaan Seruni, apel hijau.
"Sudah, awalnya, Angga tidak begitu mengizinkan, tapi aku juga tak masalah kalau harus diberhentikan."
"Nah, bagus. Aku lebih suka kau dipecat," celetuk Bima membuat Seruni mencubit gemas perut berotot lelaki itu.
"Kau ini! Aku belum selesai bicara, tahu." Seruni mengerucutkan bibirnya, nampak lucu di mata Bima.
Bima tersenyum lalu mengusap pipi Seruni lembut. "Ya, lalu apa tanggapannya, Sayang?" tanya Bima penuh pengertian.
"Dia mengizinkan, aku izin empat hari ke desa kita."
"Ah, tadinya aku berharap sekali dia memecatmu saja."
"Bima!" seru Seruni membuat Bima tertawa terpingkal.
"Ya, ya, Sayang. Sekarang kau boleh saja bekerja, tapi nanti kalau kita sudah menikah, jangan harap ya," ancam Bima dengan senyum jahilnya.
Seruni masih saja mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
"Nanti bukalah usaha, Sayangku. Kau bisa membuka butik, atau usaha lain. Aku akan memodalimu."
Seruni menoleh, memang sudah sangat lama dia ingin punya usaha sendiri. Dia ingin punya butik sendiri kalau perlu berikut pabriknya. Tapi, Seruni paham bahwa itu hanyalah angan semata. Seruni menoleh lalu tersenyum kecil.
__ADS_1
"Bim, anganmu sungguh terlalu tinggi, sementara aku sendiri masih terlalu takut menghadapi kenyataan di depan kelak."
"Apa yang kau takutkan. Aku selalu di sampingmu. Aku tidak akan meninggalkan kau sendiri."
Seruni terdiam sesaat. Ia memang bisa merasakan kesungguhan Bima untuknya, lelaki itu begitu mencintainya hingga benci yang kemarin sempat menghinggap sepuluh tahun lamanya, perlahan mulai mencair. Seruni juga seolah bisa menemukan rasa yang sama seperti dulu yang pernah tertinggal di bilik bambu. Bicara tentang bilik bambu, rasanya Seruni juga tak sabar untuk melihat bangunan yang katanya sedang dirombak habis oleh lelaki berpangkat itu. Seruni ingin sekali melihatnya, masuk ke dalamnya dan memastikan bahwa tak ada lagi penyesalan yang tertinggal di sana.
"Seruni ..."
"Eh ... Maaf, Bim, aku melamun."
Seruni mengusap wajah cantiknya. Maghrib hampir menyambangi. Seruni melihat Bima.
"Ya, aku paham waktu ku sudah mau habis. Baiklah, aku pamit pulang. Nanti malam, aku akan ke sini lagi. Kau bilang kau ingin makan pecel lele di seberang gang sana bukan?"
Seruni sudah memaafkan Bima, lelaki itu nyatanya serius ingin bertanggungjawab atas segala luka yang sudah tercipta. Namun, menyadari ada satu lagi masalah, keluarga Bima belum tentu menyetujui hubungan mereka membuatnya jadi sedikit bersedih saat ini.
"Aku pulang ya," kata Bima membuat Seruni segera sadar lantas segera mengangguk.
"Hati-hati di jalan, Bim, jangan lupa sholat magrib."
Bima mengangguk lantas segera meninggalkan tempat Seruni yang juga segera menutup pintunya. Seruni bergegas untuk menunaikan maghrib dan mengadu tentang kegalauan hatinya saat ini. Entah mengapa, firasatnya begitu tak enak apalagi besok dia dan Bima akan berangkat ke desa mereka.
Malam harinya tepat pukul delapan, Bima sudah berdiri di depan pintu kontrakan Seruni. Seruni sendiri sudah cantik dengan celana panjang dan kaus berwarna hitam yang pas di tubuhnya. Darah Bima berdesir memandang pujaan hatinya, begitu cantik dan mempesona meski dalam bingkai sederhana.
__ADS_1
"Ayo, kau sudah lapar bukan?"
"Ya, ayo, Bim."
Bersisian mereka berjalan, membalas sapaan para tetangga Seruni yang sedang nonton bersama di salah satu kontrakan tetangga lainnya. Memang ada acara tanding sepak bola, jadi wajar saja banyak penghuni gang sempit itu sedang nonton bersama.
"Pesan saja semua yang kau mau."
Seruni tertawa mendengarnya lalu memesan makanan dan menyusul Bima duduk di pojokan. Kemudian, keduanya saling memandang. Mereka bercerita banyak hal termasuk rencana besok.
"Aku akan menjemputmu pukul delapan pagi, nanti kita akan pergi bersama ke bandara."
Seruni mengangguk. "Bim, kau sudah mengabari keluargamu tentang kepulanganmu besok?" tanya Seruni hati-hati.
Bima menggeleng. "Tidak. Aku sengaja tak mengatakan apapun kepada mereka. Besok kita berdua akan langsung ke rumahku."
Seruni diam sesaat, membicarakan tentang keluarga Bima malah membuat firasatnya semakin tak nyaman. Namun, pembicaraan itu terhenti sempurna setelah pesanan mereka datang.
Bima dan Seruni mulai menekuni makanan mereka masing-masing, tetapi tetap saja, hati Seruni masih ragu dan bimbang. Ia takut harapan takkan sesuai kenyataan. Bima juga nampaknya menyadari kegalauan hati Seruni.
"Tenanglah, Seruni, tak ada yang perlu kau takutkan. Semua akan baik-baik, Sayang."
Kalimat itu memang menenangkan. Seruni mengangguk lalu meneruskan lagi makannya seolah tak lagi memikirkan semua yang mengganggu hatinya. Meski kuat keinginan Bima membawa Seruni ke depan keluarganya, entah mengapa, Seruni justru merasa semakin ragu tentang keberangkatan mereka besok. Hatinya jarang cemas begini. Sekarang, jantungnya berdebar tiada henti. Meski kuat jemari Bima menggenggam, meski begitu yakin mata Bima memandangnya. Seruni tetap saja lebih peka terhadap semua bentuk penolakan. Ia hanya berharap, semoga besok, Tuhan akan berbelas kasihan kepadanya yang sudah lelah menghadapi masalah kehidupan. Apalagi terjalnya jalan bak belum juga selesai melewati badai.
__ADS_1