
Rasanya, Seruni masih tak mempercayai dengan apa yang disampaikan oleh Laras beberapa saat yang tadi. Saat ini ia sedang termangu, duduk di salah satu kursi yang biasanya diduduki oleh para tamu. Malam ini pasti akan ramai dengan tamu yang berlalu-lalang, hilir mudik, datang dan pergi. Para tamu, pria hidung belang yang datang hanya sekedar duduk santai dan minum, atau sekalian ganti 'oli'. Seruni jadi ingat dengan kegiatannya sepuluh tahun yang lalu, ketika masih menjadi pegawainya mak Ute.
"Kau melamun saja, Seruni, semenjak tadi kedatangan adiknya kekasihmu itu, kau tampak murung. Memangnya apa yang disampaikan oleh gadis itu?" kata mak Ute kepada Seruni. Di rambutnya nampak banyak sekali roll yang menggulung rambut perempuan paruh baya itu.
"Aku hanya bingung, Mak, entah mengapa hubunganku dengan Bima sepertinya sulit sekali. Banyak sekali rintangan. Dan sekarang aku tidak tahu harus percaya pada siapa. Aku memang belum membicarakan ini dengan Bima, tapi sejujurnya aku jadi kepikiran," ujar Seruni ambigu. Ia lebih tepatnya seperti sedang bergumam kepada dirinya sendiri, sementara mak Ute tidak mengerti maksud dari gadis itu.
"Maksud kau ini, apa, Run? Coba bicaralah dengan jelas, siapa tahu bisa membantumu. Karena sedari tadi, aku hanya melihat wajahmu itu mendung sekali. Padahal dari siang hingga petang, matahari hampir membuat kulitku terbakar sangking teriknya, tetapi kalau melihatmu kini, seperti akan melihat hujan yang akan turun sebab mendungnya wajahmu itu."
Seruni menarik nafas panjang mendengar celotehan dari mak Ute. Wanita tambun itu tentu saja tidak mengerti apa maksud dari gadis itu. Mak Ute memang sempat melihat bahwa Laras datang menghampiri Seruni tetapi dia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Seruni juga Laras. Yang jelas semenjak adik dari Bima itu pergi dari warung remang-remangnya, yang nampak di wajah Seruni hanyalah kemurungan. Bahkan nampaknya lebih murung dari ketika ia ditolak oleh ibu Bima kemarin.
"Masa Bima menghamili mantan pacarnya, Mak?" tanya Seruni seraya menoleh. Mak Ute tampak tersentak sebentar kemudian mengambil tempat tepat di samping Seruni.
"Kau dengar dari siapa? Dari adik Bima?" tanya mak Ute kepada seruni dan Seruni mengangguk. "Lantas, kau percaya? Percaya begitu saja maksudku?" tanya mak Ute lagi.
Seruni mengendikkan bahunya, tapi kemudian tampak memijat pelipisnya. Mak Ute paham Seruni pasti juga lelah dengan permasalahan yang dihadapi saat ini.
__ADS_1
"Mak tak mau membela siapa-siapa. Perkara cinta itu, Mak tak mengerti, Run. Jatuh cinta dulu pernah, tapi sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu kepada mantan suamiku yang sudah meninggal. Jadi aku tak tahu bagaimana kau dan Bima ini, maksudku kelanjutannya ya. Hanya saja, untuk sekarang berita yang dibawa oleh adiknya Bima itu jangan sepenuhnya kau percayai. Kau harus mencari tahu dulu, kau harus berbicara dulu dengan Bima. Aku melihat Bima itu benar-benar orang yang bertanggung jawab, walaupun sepuluh tahun yang lalu dia sedikit pecundang karena sudah meninggalkanmu, tetapi sekarang, aku melihat dia benar-benar bersungguh-sungguh ingin menikahimu dan bukan hanya itu, dia nampak mencintaimu, Run. Tidak mungkin Bima tega membiarkan perempuan lain yang sedang hamil lalu berniat menikahi perempuan lainnya lagi. Jadi kau jangan asal percaya walaupun itu dikatakan oleh adiknya Bima sekalipun. Apalagi kau tahu persis bahwa dia memang membencimu dari dulu, jadi bisa saja berita itu dilebih-lebihkan."
Seruni mengatupkan bibirnya, ia tampak berpikir keras, apa yang dikatakan oleh mak Ute sebenarnya masuk akal juga. Ia tidak boleh langsung ambil kesimpulan bahwa Bima yang sudah menghamili Atika, sementara belum ada perbincangan mengenai itu dari mulut lelaki itu. Jadi pada akhirnya, Seruni memutuskan untuk menelepon lelaki itu, sepertinya mereka bisa bertemu malam ini.
"Syukurlah kau menelpon ku, Run, aku sedari tadi menunggu teleponmu karena aku ingin menghubungimu tapi aku tahu kau pasti akan mengabaikan aku," ujar Bima ketika ia mengetahui bahwa Seruni lah yang saat ini sedang menghubunginya. Betapa hatinya berbinar-binar bahagia. Bima sendiri saat ini tidak sedang berada di rumah kedua orang tuanya, ia sedang mengasingkan diri, bahkan rela berbagi tempat istirahat dengan para kuli yang saat ini sedang membangun istana untuk Seruni.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kau, Bim, kau bisa menemui aku?" tanya Seruni.
"Tentu. Sekarang juga aku akan menemuimu," jawab Bima cepat.
"Tidak, maksudku jangan sekarang, nanti saja selepas isya. Kau boleh ke sini, aku tidak kemana-mana, Bim. Kita mungkin akan bertemu di warung remang-remang ini, aku harap kau tak terganggu dengan suasana di dalamnya," ujar Seruni kemudian.
"Sudah, jangan khawatirkan aku. Kau juga jangan abaikan kesehatanmu, Bim, dan aku minta maaf kalau kehadiranku ternyata membuat ibumu sampai jatuh sakit."
"Ini bukan kesalahanmu, Sayang. Baiklah, kau boleh menutup teleponnya, aku juga ingin beristirahat barang sebentar."
__ADS_1
"Ya, Bim, baiklah. Ehmmmm, kau saat ini di rumah, bukan?" tanya Seruni lagi.
Bima tak langsung menjawab karena sejatinya ia sedang tidak berada dirumah. Sungguh ia sedang berada di bekas bangunan dengan bilik bambu yang saat ini sedang dalam masa pembangunan baru. Ia betulan sedang beristirahat dan berbagi tempat dengan para kuli.
"Aku di tempat lain, jangan khawatirkan aku. Mendengar suaramu saja sudah membuat aku lebih baik, Seruni, tunggulah malam ini, aku harap aku bisa bersamamu lebih lama."
Seruni tersenyum kecil mendengarnya. Entah mengapa, walaupun ia mendengar berita dari Laras bahwa abangnya sudah menghamili Atika, tapi ia sama sekali tidak bisa marah dengan Bima. Seruni bahkan masih bisa dengan tenang menghadapi itu semua. Tapi tetap saja, Seruni butuh kepastian itu dari Bima. Dan perjumpaan mereka akan berlangsung lagi malam ini.
"Nah, sudah tenangkan kau selepas menelepon Bima?" tanya mak Ute sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan kipas tangan yang ia bawa kemana-mana. Seruni mengangguk kemudian tersenyum singkat.
"Ya, aku akan membantu mempersiapkan tempat ini, Mak, sebelum maghrib tiba," ujar Seruni yang segera beranjak dan menyusun botol-botol minuman juga merapikan meja juga kursi.
Mak Ute sudah sedari tadi mencegahnya tapi Seruni tetap saja membantah, ingin membantu pelayan yang ada di sana.
"Rasanya seperti mengulang sepuluh tahun yang lalu, Mak. Bedanya dulu aku masih sangat muda, masih sekolah, aku ingat Mak selalu memarahiku kalau aku bekerja lebih dari jam setengah dua belas malam." Seruni tersenyum sembari mengelap meja-meja. Mak Ute pun tersenyum hangat menyambut kata-kata dari perempuan yang sudah ia anggap sebagai putrinya itu.
__ADS_1
"Ya, sepuluh tahun sejak kau hadir di sini, Seruni. Tapi kau lihat kehidupanku? Seperti ini saja, rasanya aku ingin berhenti karena bukan tak mungkin mungkin besok nyawaku akan dicabut Tuhan sementara aku sendiri belum bertaubat," gumam mak Ute dalam kepasrahan dan membuat Seruni segera mendekatinya, mengelus dan menepuk-nepuk punggung perempuan tambun itu. Mak Ute sebenarnya ingin segera berhenti, tetapi ia kasihan pula dengan para pekerja setianya yang bahkan ada beberapa yang sudah memiliki anak dari pria yang tidak jelas siapa ayahnya.
"Kalau aku kaya, Mak, aku tak akan membiarkanmu juga mbak-mbak yang lain berkecimpung dalam kehidupan gelap ini, tapi aku pun sama, aku pun tak punya apa-apa. Semoga nanti ada rezeki untukku agar bisa mengangkat derajat kita dan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik lagi," bisik Seruni kepada mak Ute yang segera menghapus lelehan air mata gadis itu.