Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Seperti Mengulang Asmara


__ADS_3

Pagi hari tepat pukul setengah delapan, Bima sudah di depan kontrakan Seruni. Seruni pun sudah siap dengan setelan celana panjang juga kemeja berbahan licin. Bima mengambil alih koper berukuran sedang milik perempuan itu.


"Mau kemana kau rupanya, Run?" tanya salah satu tetangga yang sedang menjemur pakaian.


"Pulang ke desa lagi, Mbak. Titip kontrakan ya."


"Oalah, apa mau menikah rupanya kau dengan pak polisi ini?" goda tetangganya lagi yang disambut Seruni dengan senyuman saja.


Sedang Bima pun sama, dia hanya tersenyum kecil. Lingkungan kontrakan Seruni penuh dengan orang-orang kecil dan pinggiran tetapi penuh tata krama. Mereka ramah tamah juga tak segan membantu sesama tetangga. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang berkeluarga dengan banyak anak di dalamnya. Seruni nyaman sekali tinggal di lingkungan itu. Sebab para tetangga suka membantu dan tidak pernah usil dengan kehidupannya selama ini.


"Mari, Sayang, kita harus segera berangkat ke bandara." Bima membuat Seruni sadar dan segera mengangguk lalu mengikuti langkahnya.


Bersama mereka berjalan menuju ke depan gang di mana aktivitas para warga di sekitar tempat itu mula ramai. Seruni berjalan dengan tenang, meski kekhawatiran akan ditolak setibanya di kampung halaman nanti malah semakin membayangi langkahnya.


Mereka masuk ke dalam mobil dan Bima melajukan kendaraan mewahnya itu menuju bandara, membelah jalanan Jakarta yang kebetulan tak terlalu macet hari ini.


"Kau izin cuti lagi?" tanya Seruni ketika mereka sudah di setengah perjalanan. Bima mengangguk seraya menoleh dan memberikan senyum manis untuk Seruni.


Lalu keheningan melingkupi. Jika Bima saat ini sedang fokus mengemudi, Seruni malah berkutat dengan pikiran dan kekalutannya sendiri. Sedari kemarin, hati Seruni sama sekali tak tenang. Sampai hari ini, ketika mobil Bima sudah memasuki parkir bandara, ia semakin tak karuan. Hal itu membuatnya jadi banyak diam daripada bicara.


Sembari menyeret koper dan membawanya ke bagian pemeriksaan, Bima bisa melihat keraguan begitu nyata terpancar dari mata pujaan hatinya. Lalu ketika pesawat mereka sudah lepas landas dengan mereka yang saling bersisian duduk di dalamnya, Seruni masih juga diam.


"Seruni, apa yang kau pikirkan? Apa kau sakit, Sayang?" tanya Bima akhirnya.

__ADS_1


Seruni masih tak menyahut, ia benar-benar tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Seruni?"


Ketiga kali panggilan akhirnya membuat Seruni sukses tersentak. Ia memejamkan mata, menghirup udara lalu menoleh dan tersenyum kecil.


"Iya, Bim, maaf aku sering melamun akhir-akhir ini."


"Tenanglah, Sayangku, aku tak ingin kau terbebani dengan keberangkatan kita hari ini sementara kau tahu sendiri niat kita baik bukan?" tanya Bima lembut.


Seruni mengangguk pelan, dia paham, sebenarnya, Bima pun sama. Namun, lelaki itu lebih bisa mengendalikan dirinya dengan ketenangan.


"Apa kau merasa apa yang aku rasa sekarang, Bim?" tanya Seruni lirih.


Bima mengangguk. " Tentu, Seruni. Aku pun merasakannya. Tapi, bukankah akan lebih menyenangkan jika kita mampu menghadapinya bersama?" tanya Bima meminta persetujuan dari Seruni.


Lalu karena begitu kuatnya rasa lelah di pikiran, Seruni tanpa sadar merebahkan kepalanya di bahu Bima. Bima tersenyum lalu mengusap lembut pipi Seruni yang putih dan halus itu.


"Tidurlah, kalau sudah sampai, aku akan membangunkanmu."


"Tanggung, Bim, perjalanan memakai pesawat dari Jakarta menuju desa kita sejatinya tak memakan waktu lama."


Bima terkekeh mendengarnya. "Kalau begitu, tenanglah di bahuku."

__ADS_1


Seruni mendongak, sedang Bima menunduk, pandangan mereka jadi bertemu. Seruni tersenyum kecil, Bima membalasnya. Meski saat ini Seruni yakin Bima memang tak akan mundur dengan niat dan rencananya, tapi ia bisa melihat bahwa Bima juga seperti sedang memikul beban. Beban yang akan lepas jika nanti ketika mereka sudah bertemu keluarga Bima dan mereka merestui.


Iya merestui, kalau tidak?


Seruni memandang awan di samping jendela pesawat. Tak pernah dia sangka bahwa hari ini ia akan berada di samping lelaki yang akan memperjuangkannya. Lelaki yang meninggalkannya di dalam bilik bambu dengan penyesalan yang sudah Seruni sematkan di sana dahulu.


Setibanya mereka di kota pertama, Bima dan Seruni ternyata sudah ditunggu oleh supir yang selama ini sering menjemput Bima apalagi lelaki itu pulang kampung.


"Seruni?" tanya lelaki paruh baya itu, menatap Bima dengan tanda tanya. Tak seberapa luas desa mereka jadi tentu Seruni juga dikenal oleh sebagian warga.


"Ya, calon istriku." Bima yang menyahut membuat lelaki itu nampak terkejut.


Namun, lelaki itu hanya diam. Ia hanya bingung, karena setahunya, Bima memang akan menikah tapi bukan dengan Seruni. Namun, dengan gadis kota metropolitan yang bekerja di bank swasta dan merupakan anak konglomerat di sana.


Setelah di dalam mobil, Seruni dan Bima saling menguatkan, meski sebenarnya hati Seruni malah semakin berdebar tak karuan. Laju mobil yang akan membawa mereka ke desa seolah sedang membawa Seruni kembali ke kenangan sepuluh tahun silam. Ia juga tak sabar ingin segera sampai ke depan gapura desa mereka, dimana tempat kenangan pahit itu akan terlihat dan sekarang katanya sedang dalam pembangunan ulang. Memikirkan itu, rasa berdebar karena keluarga Bima sedikit memudar berganti dengan perasaan yang lain. Ada haru yang hinggap.


Hingga ketika mereka sudah berada di tiga jam perjalanan, mata Seruni berkaca-kaca, kala mereka hampir tiba di depan bangunan yang memang sedang dibangun begitu megah. Seruni menatap Bima penuh tanda tanya.


"Bim?"


"Kau suka, Run?"


"Itu terlalu besar, Bim," sahut Seruni dengan suara serak.

__ADS_1


"Bahkan besarnya tak akan mampu membuat aku kembali ke masa itu untuk tak menyakitimu, Seruni."


Seruni diam seribu bahasa, tanpa bisa dicegah, Bima menarik perempuan itu ke dalam pelukannya, lalu mengecup kening Seruni begitu dalam dan lama.


__ADS_2