
Siang yang terik itu, Bima menuntun Seruni, membawanya ke tempat penjualan bibit tanaman. Salah satu syarat sidang nikah adalah membawa pohon yang akan di tanam di sekitar kantor kepolisian. Meski panas terik membungkus Bima juga Seruni, tampak keduanya semangat sekali memilih tanaman yang akan di tanam nanti di sekitaran kantor.
"Yang ini sepertinya bagus, Bim." Seruni menunjuk sebatang kecil tanaman dengan beberapa helai daunnya yang hijau. Bima kemudian memberi kode kepada penjual untuk segera membungkusnya.
"Pilihan yang bagus, ayo sekarang kita ke warung di sana. Perutmu pasti lapar."
Sembari membawa bibit tanaman yang sudah berada di dalam polibag, Seruni mengikuti langkah Bima yang berusaha memayunginya dengan jaket kulit yang ia pakai agar Seruni tak kepanasan.
Tinggi tegap dan garis tegas tubuh lelaki itu jadi menyita perhatian, apalagi terbungkus seragam cokelat kebanggaan. Beberapa kali Seruni melihat tatapan terpesona para mahasiswi yang kebetulan juga sedang berada di dalam warung makan itu.
"Ramai, kau tak keberatan? Atau mau cari tempat lain saja?" tawar Bima.
"Tak usah, Sayang. Di sini saja. Di pojokan itu masih ada yang kosong. Duduklah, biar aku pesan makanan kita."
Bima segera mengangguk lalu menuju tempat yang tadi Seruni tunjuk. Dari kejauhan, ia melihat Seruni sedang memilih makanan untuk mereka berdua dilayani seorang perempuan paruh baya.
Beberapa kali pula, terlihat beberapa mahasiswi yang menatapnya penuh arti. Ada yang memberi kode bahwa mereka bisa dibawa. Bima paham betul. Dia tak menggubris. Kehidupan gadis muda di kota besar seperti Jakarta memang mengerikan. Terlampau bebas dan luput dari pandangan orangtuanya. Ada pula yang masih sekolah tetapi sudah begitu mahir dalam menurunkan risleting pria-pria hidung belang, tak mau tak bisa bergaya, sebab itulah mereka sering terjerumus.
__ADS_1
Melihat mereka, jadi mengingatkannya pada Laras. Entah apa kabar adik bungsunya itu. Bima sudah tak mau lagi bicara padanya, sudah terlanjur kecewa dan murka, meski Seruni seringkali mengingatkan untuk menjaga hubungan baik antar adik beradik.
"Apa masih ada yang kurang, Bim?" tanya Seruni kepada Bima sambil menunjuk nasi dan lauk pauk yang diantar oleh pelayan barusan. Bima menggeleng, sudah cukup baginya.
"Mari makan, Seruni," ajak Bima kepada Seruni yang segera menekuni makanannya.
"Para gadis itu sepertinya suka sekali kepadamu." Seruni terkekeh ketika tak sengaja bertatapan dengan seorang mahasiswi dengan rok mini yang ketahuan sedang memandang Bima lama.
"Biar saja, aku tak suka gadis seperti mereka," jawab Bima acuh tak acuh.
"Apa yang kau suka?"
Singkat, tetapi mampu menghadirkan senyum lebih lebar di wajah Seruni. Sembari makan, keduanya berkisah banyak hal. Mereka tak lama berada di dalam warung itu, sebab semakin terik tempat itu malah semakin ramai. Nampaknya, kipas angin di dalam ruangan itu tak lagi mampu menghadirkan suasana sejuk.
Keluar dengan kembali membawa bibit tanaman kemudian mereka masuk ke dalam mobil. Malam ini, kabarnya kedua orangtua Bima akan tiba di Jakarta. Mereka tetap harus hadir untuk mengikuti sidang nikah keesokan harinya.
"Nanti istirahatlah, persiapkan dirimu untuk besok ya," ujar Bima kepada Seruni setelah ia mengantarkan gadis itu ke kontrakan. Seruni mengangguk.
__ADS_1
"Apa kedua orangtuamu jadi datang malam kelak?" tanya Seruni, ia nampak gelisah.
"Ya, tadi ayah meneleponku. Tenanglah, semua akan berjalan lancar."
Tenang akhirnya Seruni. Ia masuk ke dalam kontrakan dan akan beristirahat barang sejenak sebelum masuk waktu ashar. Ia akan berdoa semoga saja sidang nikah besok berjalan lancar sesuai rencana juga harapan.
Keesokan harinya, tepat pukul sembilan pagi, calon-calon pengantin di dampingi orangtua sudah duduk di kursi masing-masing. Berdampingan Seruni dan Bima juga pasangan lainnya.
Setiap orangtua ditanyai kerelaan dan keikhlasan juga kesiapan mereka untuk melepas anak-anaknya menikah. Meski Seruni melihat ibunya Bima menjawab iya, tetapi ia tahu, perempuan itu tak sepenuhnya ikhlas. Tak apa, Seruni akan berusaha sebisanya untuk menjadi menantu yang baik bagi kedua mertuanya itu.
Tak terlihat Laras. Gadis itu masih belum terdengar kabarnya baik oleh Seruni maupun Bima, yang jelas dia pun tak bisa berbuat apapun saat ini. Lagipula, dia juga punya Masalah yang lebih besar saat ini.
"Sudah lega, Bim?" tanya ayahnya ketika mereka selesai sidang dan sedang duduk di kursi-kursi yang tersedia di setiap unit pelayanan.
"Syukurlah, Yah, sudah. Terimakasih atas restunya."
Tuan Tono mengangguk lantas menepuk-nepuk pundak anak keduanya itu. Ia juga menatap Seruni hangat. Namun, nyonya Tono nampaknya sudah jengah berada terlalu lama di antara anak, suaminya dan Seruni. Dia memilih untuk masuk ke dalam mobil, menunggu dengan menggerutu.
__ADS_1
"Orang-orang desa sudah tahu kalian akan menikah, semuanya sudah diatur dengan baik."
Senyum Bima dan Seruni mengembang, ikrar janji setia itu akan segera terdengar syahdu tak lama lagi.