Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Lintang Perestu


__ADS_3

"Kau mau turun dulu, sebelum kita bertandang ke rumah kedua orangtuaku?" tawar Bima.


Ia takut Seruni tak siap kembali masuk lagi ke dalam bangunan yang sudah direnovasi dengan masih banyak kuli bangunan di dalamnya itu.


"Ya, boleh aku melihatnya, Bim?" tanya Seruni yang tentu saja langsung diangguki Bima.


Akhirnya laju mobil berhenti sepenuhnya dari yang tadi berjalan perlahan. Seruni dan Bima turun. Beberapa pekerja yang sedang istirahat makan di dalam bangunan nampak terkejut.


"Tak apa, makanlah, kami hanya ingin berkeliling melihat-lihat." Bima tersenyum kepada para kuli bangunan yang mengangguk sopan.


Bima dan Seruni kembali melanjutkan, lalu Seruni berhenti di sebuah bilik yang belum dirobohkan sepenuhnya tapi di dalamnya sudah kosong, tak ada lagi karpet dan kasur lusuh tempat dimana darah kesuciannya pernah tercetak.


Seruni memejamkan matanya sesaat, berusaha menarik nafas panjang hingga penuh rongga paru-parunya dengan udara. Ia sedang menahan airmata agar jangan sampai tumpah.


Bayangan itu berkelebat begitu saja ketika ia memasuki bilik bambu itu. Meski telah sekuat tenaga Seruni menahannya, pada akhirnya, airmatanya meleleh begitu saja. Bima mendekati Seruni. Seruni menoleh.


"Nanti, di tempat ini juga, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi, Seruni. Aku ingin menghapus sepenuhnya penyesalan yang sudah tertinggal di sini."


Seruni tak bisa menjawab, dia hanya menatap lurus pada sisi di mana dulu Bima pernah merebahkannya dengan hembusan gairah juga nafsu yang berkuasa.


"Ayo keluar, Bim." Seruni menoleh lalu tersenyum.


Bima menghembuskan nafas lega sebab Seruni tak melihatnya dengan pandangan terluka. Bersama mereka bergandengan tangan menuju keluar. Rupanya Bima membuat bangunan itu menjadi bertingkat dua. Sungguh luas dan megah bila sudah jadi kelak. Seruni hampir tak percaya bahwa Bima melakukan itu semua, untuknya, demi dia.


"Bim, aku sekarang berdebar-debar."


"Kita hampir sampai ke rumah kedua orangtuaku, Seruni. Tenanglah, ada aku."


Seruni mengangguk lemah, sekarang memangnya dia bisa apa? Dia harus menguatkan hati, dia harus menghadapi segala resiko. Dia ingat terakhir bertemu nyonya Tono yang terhormat itu, ketika perempuan itu menemuinya di rumah waktu itu, tak ada keramahan sama sekali. Bahkan secara terang-terangan, perempuan yang sudah melahirkan Bima itu menentang dirinya jika sampai berhubungan dengan Bima.


Jadi, entahlah apa yang akan didapatkannya sebentar lagi. Kala mobil yang mengantar mereka semakin dekat dengan gerbang rumah Bima yang lalu datang seorang lelaki tua, tergopoh-gopoh membuka gerbang dengan kain sarung melintang di badan juga kopiah di kepala.

__ADS_1


"Den Bima," sapanya. Bima mengangguk lalu tersenyum.


Tertegun pula lelaki tua itu melihat Seruni yang hanya menunduk di dalam mobil, di samping Bima, dekat dengan jendela yang dibiarkan terbuka.


Sampai mereka di garasi tempat motor besar Bima berada, mobil milik Laras juga mobil tuan Tono. Seruni menarik nafasnya panjang, sungguh berat sekali rasanya tangan membuka pintu mobil dan memaksa menyeret langkah kaki keluar dari sana.


"Ayo," Bima meraih jemari Seruni lalu menggenggamnya.


"Bim, aku ragu," ungkap Seruni jujur.


Bima menggelang. "Kita hadapi bersama," bisik Bima.


Akhirnya dengan memaksa kaki terus berjalan hingga sampai di depan pintu utama lalu semakin masuk lagi ke dalam, Seruni baru bisa melihat keadaan kediaman keluarga Bima selama ini. Memang hanya keluarga Bima yang paling kaya dan terpandang di desa mereka. Siapapun ingin sekali menjadi menantu tuan dan nyonya Tono.


"Bima!" Seruan itu terdengar dari lantai atas.


Seruni dan Bima mendongak bersamaan. Tatapan sinis, marah, kecewa terlempar begitu saja. Dialah sang nyonya, yang memandang Seruni dari atas hingga ke bawah.


Secepat mungkin nyonya Tono turun dari tangga tinggi di rumah itu. Bima semakin memperkuat genggamannya kepada jemari Seruni yang sekarang terasa begitu dingin. Ia bisa melihat tatapan tajam itu menghujam jantung Seruni.


"Memberitahu bahwa kau sudah membatalkan rencana pernikahanmu dengan Atikah karena perempuan ini?" potong ibunya langsung.


Seruni mengatupkan bibirnya. Ternyata firasatnya sama sekali tak salah.


"Ya, aku sekalian ingin meminta restu Ibu dan ayah karena aku akan menikahi Seruni."


"Kau betul-betul mengecewakan Ibu, Bim! Atikah sudah yang paling pas untuk mendampingimu! Mengapa perempuan seperti dia yang malah kau pilih?!"


Beberapa pelayan nampak mengintip dari sela tiang penyangga rumah. Seruni merasakan hatinya mengerucut begitu saja. Ia tidak ingin mengatakan apapun. Tak juga akan membela dirinya. Hanya diam.


"Aku dan Atikah tak berjodoh, Bu. Aku mencintai Seruni. Ibu harus tahu, sepuluh tahun yang lalu aku sudah menidurinya lalu pergi begitu saja."

__ADS_1


"Kau butuh uang berapa untuk pergi dari sisi puteraku?" tanya nyonya Tono tanpa mengindahkan kata-kata dari Bima barusan.


"Bu!" Bima terkesiap mendengar begitu rendahnya sang ibu menilai harga diri Seruni.


"Kenapa? Bukannya di Jakarta juga pekerjaannya adalah men ..."


"Abang! Ibu betul! Sumpah, dari sekian banyak perempuan, kenapa harus wanita semacam dia?!" Kali ini suara itu datang dari pintu utama. Laras baru saja masuk dengan kekasihnya.


Seruni tak lagi bisa menahan diri. Ia melepaskan perlahan genggaman tangan Bima yang masih berusaha menahannya.


"Tidak semua hal bisa dibeli dengan uang, Nyonya. Termasuk harga diri saya."


Lalu Seruni menatap mereka satu-persatu, perlahan di baliknya tubuh. Seruni setengah berlari keluar dari rumah itu dengan Bima yang berusaha mengejar tapi tidak bisa pula meninggalkan ibunya yang tiba-tiba memegang dadanya kesakitan.


"Urus Ibu, aku akan mencari Seruni!"


Bima mengatakannya kepada Laras setelah meletakkan ibunya di atas sofa ruang tengah. Laras berusaha mencegah tetapi Bima menampar pipi adiknya itu.


"Sebagai perempuan, sungguh kau tak pantas mengatakan hal sepicik itu tentang Seruni!" desis Bima penuh ancaman. Laras memegang pipinya kesakitan.


Di depan gerbang, Seruni bertemu dengan tuan Tono yang baru saja datang dengan mobilnya. Lelaki itu tersenyum kecil sembari mengerutkan dahi melihat Seruni yang lekas berlari menjauh setelah bertatapan dengan ayah dari Bima itu. Nampaknya lelaki itu belum tahu apa yang sudah terjadi di rumah. Sebuah kekacauan karena lintang perestu.


Setelah ia masuk ke dalam rumah, barulah dia paham.


"Apa perempuan tadi Seruni?" tanya tuan Tono kepada Laras.


"Dia perempuan licik, Ayah!"


Tuan Tono mendekati istrinya yang masih pingsan.


"Laras, kenapa pipimu memerah?" tanya tuan Tono melihat Laras yang nampak memegang pipinya.

__ADS_1


"Ditampar abang!" dengus Laras kesal.


Sementara Seruni sudah pergi dengan ojek yang dia temui. Hanya satu tujuannya kini, warung remang-remang mak Ute.


__ADS_2