
Balasan kata salam belum lagi selesai Seruni ucapkan saat tiba-tiba lidahnya kelu bersamaan dengan tatapannya dan Bima yang saling bertubrukan. Seruni terpaku menatap Bima yang masih pula berdiri di ambang pintu. Perlahan, Seruni memejamkan matanya lantas menarik nafasnya berat. Sungguh, ia kesal setengah mati kepada Bima yang masih saja menghantui setiap langkahnya. Ia di Jakarta, lelaki itu juga di sana, kini dia kembali ke kampung, lelaki itu juga ada di sana. Kalau saja tak mengingat sucinya acara tahlilan ibunya itu, Seruni mungkin sudah berkata-kata kasar kepadanya. Namun, demi kesakralan acara itu, akhirnya Seruni hanya berujar datar.
"Waalaikumsalam, masuklah."
"Terimakasih, Seruni. Apa yang bisa aku bantu?" tanya Bima mencoba berbasa basi sementara dari arah dapur sudah hampir berteriak para anak gadis juga beberapa ibu-ibu tetangga Seruni yang membantu memasak untuk acara nanti malam, mereka menatap kagum sekaligus penuh selidik kepada Seruni dan Bima yang sepertinya punya hubungan spesial itu.
"Para pria di sana sedang memasang tenda, mungkin kau bisa membantu mereka kau kau tak keberatan."
Bima tersenyum mendengarnya. Ia segera bergerak, mulai berbaur dengan para pemuda juga pria-pria paruh baya di depan sana.
"Ini Nak Bima? Anaknya juragan Tono?" tanya seorang pria tua dengan pandangan kagum melihat Bima yang semakin gagah dan sudah jadi abdi negara di Jakarta itu. Bima menganggukan kepalanya dengan senyum sekilas. Para pria itu pasti heran melihat anak juragan orang paling kaya di kampung itu mau berbaur dengan mereka yang hanya kalangan bawah.
Setelah selesai, Bima kembali lagi ke dalam, ia mulai berinisiatif membantu Seruni membentangkan karpet. Seruni seolah tak menggubris kehadirannya sementara Bima masih sering kedapatan melirik ke arah perempuan itu.
"Run, kau dan anak juragan Tono itu berpacaran ya?" tanya seorang ibu-ibu ketika Seruni ke dapur.
__ADS_1
"Tidak, Bu." Seruni membalas singkat.
"Tapi dia seringkali melirikmu, Run. Nampaknya dia suka padamu."
"Melirik bukan berarti suka, Bu."
Lalu Seruni kembali lagi ke depan saat ia mendengar rombongan mak Ute datang. Seruni menyambut kedatangan mereka. Beberapa pekerja mak Ute juga ikut dengan mengenakan pakaian sopan dan selendang.
"Run, itu siapa? Ganteng sekali." Salah satu pekerjanya mak Ute berseru menunjuk Bima yang sedang berbincang dengan para pria di depan.
Maka ketika Bima sedang duduk di teras, mak Ute pergi ke sana. Dilihatnya Bima sedang menyenderkan tubuhnya yang tegap di kursi plastik itu.
"Boleh saya duduk di sini?" tanya mak Ute kepada Bima yang sempat terkejut, tapi kemudian lelaki itu mengangguk.
"Ibu siapa?" tanya Bima setelah mak Ute duduk tepat di depannya.
__ADS_1
"Saya Mak Ute, dulu Seruni bekerja pada saya. Dia menjadi pengantar minum bagi tamu yang datang ke warung remang-remangku. Kau tentu heran mengapa aku tiba-tiba menghampirimu."
Bima mengangguk. Mak Ute tersenyum kecil lalu menunjuk jam tangan yang Bima pakai.
"Dulu, ketika Seruni masih bekerja denganku, jam tangan itu selalu mengiringi langkahnya kemana saja. Tapi, aku lebih sering melihatnya menangis setiap kali ia menatap jam tangan yang sedang kau pakai itu. Aku memang tak tahu, apa yang sudah terjadi di antara kalian berdua di masa lalu dulu, tapi aku hanya minta kepadamu, jangan pernah menyakiti Seruni. Dia sudah terlalu sering mendapat cobaan di dalam hidupnya."
Bima diam membisu. Kata-kata mak Ute bagai menghantam dinding pertahanannya sendiri. Dia juga sadar, dia adalah salah satu cobaan yang pernah terjadi di dalam hidup Seruni, dan mungkin saja dialah cobaan terbesar di dalam hidup Seruni.
"Mak, aku Seno Ari Bimantara, akulah yang sudah merenggut kesucian Seruni sepuluh tahun yang lalu, lalu dengan teganya aku meninggalkannya sendiri di balik bilik bambu di rumah tak berpenghuni tak jauh dari gapura di depan sana. Seruni sampai hari ini belum memaafkanku. Aku sangat menyesal atas kesalahan fatal itu dan sepertinya, karma sedang menerkamku tanpa ampun, Mak. Karena sekarang aku bukan cuma sedang menyesali perbuatanku dulu kepadanya tapi aku ..."
Bima menghentikan kalimatnya sesaat, ia menatap mak Ute yang masih dengan sabar menunggu ia melanjutkan ucapan.
"Teruskan saja, Nak."
"Aku jatuh cinta kepadanya, Mak. Aku seperti sedang tergila-gila dengan Seruni."
__ADS_1
Diucapkan dengan sadar dihadapan mak Ute yang membuat Bima diam kemudian, ia seperti tak bisa menahan kejujuran terdalam di hatinya. Dia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh bibirnya sendiri saat ini. Tapi mak Ute hanya menatapnya dengan pandangan penuh pengertian, dia tahu apa yang terjadi di masa lalu antara Bima dan Seruni bukan hal yang sepele, tapi menyangkut kehormatan perempuan yang sudah menutup hati untuk lelaki itu.