
"Bajingaan!" Bima menyeret Laras seperti sedang menyeret seekor sapi. Laras merasakan cengkaraman Bima di tangannya semakin menguat, bahkan tercetak cukup dalam di kulitnya yang putih. Sampai saat ini, Laras belum mengerti apa kesalahannya hingga sang abang yang menyayanginya itu jadi semarah ini.
"Apa yang kau lakukan ini, Bang?! Kau sudah gila! Aku kau perlakukan begini! Lihat saja, kau akan dimarahi ibu habis-habisan!" Laras berteriak kesakitan, berusaha melepaskan cengkraman Bima yang semakin menggila. Sampai di tengah ruang keluarga, Bima menghempaskan adiknya itu hingga terjatuh ke lantai. "Aduh! Sakit! Ibu!!!!"
Mengadu. Laras hanya bisa melakukan itu setiap kali ada yang menjahatinya. Beberapa pelayan di rumah itu mendekat ke sumber suara keributan sementara Bima sedari tadi menatapnya bak singa siap menerkam. Sebenarnya Laras takut sekali, jujur saja, Laras lebih takut abangnya mengamuk dibanding dimarahi oleh ayahnya, Tuan Tono.
"Nya, Nyonya ... Cepat ke bawah, Nya, Den Bima dan Non Laras bertengkar."
"Bima?"
Sejak kapan anak bujang itu pulang? Ibunya yang berada di lantai atas dan kebetulan pula sedang bersama teman-teman arisan segera turun. Awalnya hanya ibunya Bima yang tergopoh-gopoh turun, tapi rupanya, grup penggosip berkedok arisan kampung itu juga ikutan turun.
"Ya ampun, Bima, Laras! Apa-apaan ini?!" pekik nyonya Tono sembari mendekat ke arah Laras yang baru saja dipukuli abangnya itu dengan tali pinggang. "Sudah gila kau, Bim?! Adikmu kau pukuli begini?"
"Masih bagus cuma ku pukuli dia, Bu! Tadinya mau langsung aku penjarakan!"
Nyonya Tono tersentak mendengar kata penjara begitupula dengan Laras. Seakan tak terima dengan apa yang dikatakan oleh anak lelakinya itu, nyonya Tono mendekati Bima, memandangnya tajam dengan pandangan berkilat-kilat.
"Dia adikmu, Bim, kau tak salah bicara ingin memenjarakan dia?" tanya ibunya dengan tatapan tak percaya.
__ADS_1
"Ya! Dia sudah keterlaluan! Atau Ibu ternyata juga ikut-ikutan kegilaannya Laras?" tanya Bima tajam.
"Apa maksudmu? Mengapa menuduh Ibu dan adikmu begitu? Apa ini ada hubungannya dengan gadis sialan itu?"
"Stop menyebut Seruni begitu! Kalau ada yang sialan, itu bukan Seruni! Tapi dia!" Sekali lagi, tali pinggang Bima terayun, menyabet badan Laras yang sudah merah-merah.
"Hentikan! Apa yang kau maksud ini?! Ibu sama sekali tak mengerti!"
"Dia sudah menyuruh bajingan itu melecehkan Seruni! Mengambil fotonya dan mengancam Seruni dengan foto-foto tak senonoh itu! Mengaku kau!" tunjuk Bima kepada Laras yang seketika membeku dan tersentak.
Ia memalingkan wajahnya, tangannya terkepal tapi tak ada kata-kata keluar dari mulutnya. Ibu Bima juga menutup mulutnya tak percaya. Sementara itu, kerumunan ibu-ibu arisan semakin memadati ruang tengah itu, membuat nyonya Tono jadi malu.
"Semuanya, tolong bubar." Bima memandang ibu-ibu arisan yang sudah saling berbisik itu. Pada akhirnya mereka pun pulang dan tidak bisa menyimak cerita seru itu, tapi mereka tentu sudah punya beberapa penggal cerita yang bisa disebarkan ke penjuru kampung.
"Tak ada kata yang keluar, Laras bersikukuh tak mau menjawab."
"Baik, jika kau tidak mau mengaku, aku sendiri yang akan menyeretmu ke penjara!"
Mata ibu dan Laras terbelalak. Laras segera menggeleng, menatap ibunya minta pertolongan.
__ADS_1
"Kau gila, Bim! Kau mau membuat adikmu jadi napi?"
"Loh, itu memang hukumannya. Dia harus bertanggungjawab."
"Tidak, Bang. Aku tak mau! Aku tak mau masuk penjara! Semua ini salah Seruni!"
Satu tamparan di wajah Laras kembali ia terima dari Bima.
"Kau memang tak tahu malu! Ingat, semua ini tergantung Seruni. Jika dia menginginkan penjara untukmu, maka aku tak segan akan melakukannya, Ras, Ibu tidak bisa ikut campur hal ini! Semua ini kesalahan Laras, fatal!"
Saat Bima melangkah suara ibunya terdengar kembali.
"Bebaskan adikmu dari tuntutan hukum. Ibu merestui kau menikahinya."
Tenggorokan Bima tercekat, harus nya dia bahagia mendengar itu. Tapi dia tahu, ibu melakukannya karena ingin melindungi Laras.
"Dengan atau tanpa restu kalian, aku memang tetap akan menikahinya. Dan kau, semua tergantung Seruni." Bima menunjuk Laras yang menunduk dengan wajah merah padam.
Tak cukup sampai di situ, Bima pergi ke kantor kelurahan, mengatakan tentang kebobrokan tingkah laku adiknya yang sudah keterlaluan. Atas permintaan kakaknya dan dengan segala bukti kejahatan, perangkat desa akan mengurus dan mengirimkan surat ke pusat. Laras akan segera dicopotkan dari jabatannya sebagai pegawai negeri sipil. Hal itu membuat Laras menangis terisak-isak saat mendapat kabar tersebut dari pejabat desa yang akan menangani kasus pencopotan jabatannya.
__ADS_1
"Makanya, Ras, berpikir dulu sebelum kau nekat begitu!"
Nyonya Toni memijit kepalanya yang pening, suaminya hanya berlalu, tak mau ikut pusing memikirkan istri dan anak perempuannya yang memang sudah keterlaluan.