Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Apa Salahku?


__ADS_3

Dua hari sudah kepulangan Seruni ke Jakarta dan dua hari sudah artinya dia tidak bertemu dengan Bima, sampai hari ini lelaki itu masih mendiamkannya. Seruni juga sudah masuk bekerja. Di perusahaan dia jadi tidak fokus untuk menjalankan tugasnya, sampai beberapa kali Angga menegurnya karena ia kedapatan melamun.


"Seruni, sepertinya ada yang kau pikirkan saat ini? Kalau kau ingin bercerita, kau bisa bercerita kepadaku, mungkin saja itu bisa membuat kau tenang," ujar Angga kepada Seruni.


Seruni jadi sedikit tersentak. Ia segera menoleh kemudian menggeleng pelan, diberikan-nya seulas senyum kepada Angga untuk menghormati atasannya itu, atas perhatian yang diberikan.


"Tak ada, Pak. Aku hanya masih sedikit lelah."


"Kalau kau memang masih butuh istirahat, aku tak keberatan jika kau ingin mengambil libur lagi," kata Angga kepadanya, tapi Seruni segera menggeleng, ia tidak ingin terlalu diperhatikan oleh lelaki itu. Ia tidak ingin nanti karyawan-karyawan yang lain semakin cemburu kepadanya atas perhatian yang diberikan Angga yang lebih dirasa sebagai perhatian di luar dari hubungan atasan dan bawahan, ia tidak ingin mengakibatkan kesalahpahaman seisi kantor.


"Sungguh tak ada yang terjadi. Aku akan minum multivitamin dan itu biasanya akan membuatku sedikit lebih segar."


"Baiklah, aku akan segera membelikanmu vitamin. Kau cukup duduk manis di sini, aku akan segera kembali."

__ADS_1


Seruni tak lagi bisa mencegah ketika Angga pergi keluar dari ruangan tanpa mendengar panggilannya. Akhirnya Seruni hanya mendiamkan dan membiarkan Angga pergi untuk membelikannya vitamin. Sepertinya, lelaki itu juga sengaja untuk membelikannya langsung dengan tidak menyuruh karyawannya yang lain karena tidak ingin nanti karyawan lain juga berpikiran yang macam-macam.


Beberapa saat kemudian, Angga datang lagi dengan membawa multivitamin yang baru ia beli dari apotek tak jauh dari gedung perusahaannya. Seruni segera meminumnya, kepalanya memang jadi sedikit pusing karena terlalu banyak berpikir. Masalahnya dengan keluarga Bima saja belum selesai. Sekarang ditambah dengan masalah hubungannya dengan Bima yang terasa sedikit rumit, lelaki itu entah mengapa tidak mau dihubungi oleh dirinya. Seruni rasanya ingin sekali menemui Bima ke kantor tetapi ia masih menjaga harga dirinya sebagai seorang perempuan dan juga ia tidak ingin nanti Bima merasa terganggu dengan kehadirannya.


Entah apa yang terjadi dengan laki itu sehingga ia tidak mau berkomunikasi dengan Seruni sampai hari ini, tapi Seruni akan mencoba untuk mengiriminya pesan agar ia segera menemukan jawaban atas semua rasa penasaran dan sifat Bima yang berubah kepadanya akhir-akhir ini.


"Kau bilang kepadaku bahwa kau akan segera menikah sekembalinya kau dari kampung halamanmu. Aku tidak melupakan itu, Seruni. Tapi sepertinya kau diam-diam saja, tak ada undangan atau pembicaraan mengenai itu," ujar Angga kepada Seruni yang membuat perempuan itu malah jadi semakin sakit kepala memikirkannya, tetapi karena ingin menghormati Angga sebagai atasannya, Seruni hanya tersenyum kecil lalu menjawab.


"Kami sedang menentukan tanggalnya. Bapak tenang saja, nanti pasti akan aku sampaikan undangan."


"Entahlah, Seruni, aku masih merasa bahwa kesempatan untuk meraihmu masih ada. Jadi jangan pernah larang aku untuk menyukaimu," ujar Angga kepada Seruni yang hanya ditanggapi sebagai basa-basi oleh Seruni, padahal Seruni sejatinya memang tidak ingin Angga memaksakan perasaan.


Setelah jam pulang ketika Seruni sedang menunggu ojek yang akan mengantarkannya ke kontrakan, mobil berhenti tepat di sampingnya.

__ADS_1


"Naiklah, sepertinya belum ada yang akan menjemputmu dan aku tidak ingin kau terlambat pulang sampai ke kontrakanmu, Seruni," ujar Angge dengan senyumannya yang menawan tetapi lagi-lagi Seruni menolak dengan halus tawaran dari lelaki itu.


"Tak perlu, Pak, biarkan aku pulang menunggu ojek," tolak Seruni halus.


"Percayalah, di jam sore seperti ini, sudah sangat jarang ojek lewat sini. Jadi naiklah, aku tidak akan melakukan apa-apa terhadapmu. Aku hanya akan mengantarmu pulang dan memastikan kau sampai di rumah dengan selamat."


Akhirnya karena memang kondisi tubuh Seruni yang tidak fit dan juga tidak mau menunggu ojek yang terlalu lama, Seruni naik juga ke dalam mobil Angga. Ia tahu Angga juga tidak akan pernah berhenti untuk merayunya masuk ke dalam. Meski sebenarnya Seruni sebenarnya masih mengharapkan Bima datang untuk menjemputnya seperti biasa, tapi laki-laki itu tidak juga menampakan batang hidungnya.


Di dalam mobil pun, Seruni nampak diam. Pikirannya berkelana dan hanya ada Bima di dalam sana. Angga juga tidak ingin mengganggu keterdiaman Seruni itu. Baginya, sudah bisa mengantar perempuan itu pulang itu sudah membuatnya senang dan ketika sudah sampai di bibir gang, Seruni menahan Angga untuk tidak mengantarnya sampai ke dalam kontrakan.


"Aku kembali ya. Kau boleh izin untuk beristirahat jika kau masih merasa sakit dan tidak bisa masuk bekerja besok," ujar Angga kepada Seruni yang segera diangguki oleh perempuan itu.


Mobil Angga berlalu, Seruni tak sengaja melihat seseorang sedang yang bersandar di pohon seberang tak jauh dari tempatnya berhenti barusan. Seruni memandangnya dengan berjuta perasaan yang berkecamuk.

__ADS_1


"Apa salahku, Bim?" tanya Seruni lirih dengan mata yang berkaca-kaca sementara Bima di seberang sana masih memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan, tapi Seruni tahu, ada pandangan marah di sana, entah apa penyebabnya.


__ADS_2