
"Bima sudah datang kah, Mak?" tanya Seruni di tengah rasa sakit.
"Sebentar lagi, Run. Sebentar lagi Bima datang." Mak Ute berkata menenangkan Seruni.
"Sudah buka sepuluh, Dokter."
Dokter mengerti, ia segera meraih sarung tangan khusus untuk membantu pasien yang akan melahirkan. Memang Seruni semakin mendapatkan rasa mulas seiring pecahnya ketuban.
"Sudah mau mengejan?" tanya dokter. Seruni segera mengangguk. Dorongan ingin mengejan itu memang luar biasa terasa menyakitkan dan semakin membuat Seruni tak tahan.
Buma sendiri masih di perjalanan. Ada kecelakaan di jalan tadi dan dia tak melihat adanya anggota lantas di sekitar sana. Ia jdi turun, mengamankan sementara kegaduhan di sekitar jalan. Ia segera menelepon kantor kepolisian segera melaporkan.
Seharusnya ia sudah berada di rumah sakit, tapi dia juga tidak mungkin mengabaikan masyarakat yang tengah kesusahan di jalanan seperti itu.
"Bim, kau dimana?" Mak Ute kembali meneleponnya dan ia menjelaskan posisinya sekarang ini. Mak Ute mengerti dan akan menemani Seruni terus.
Beberapa menit kemudian beberapa anggota datang dan segera mengurus laporan Bima beberapa saat yang lalu. Bima sendiri bergegas untuk pergi ke rumah sakit. Ia sudah tak bisa menahan rasa cemas jadi melajukan mobil dengan sangat cepat dan luwes.
"Sakit, Mak. Ya Allah, sakit sekali."
Seruni sudah dibanjiri keringat dingin. Sedari tadi, bayinya belum juga mau keluar.
"Istirahat dulu ya, jangan dipaksakan. Atur nafas keluarkan perlahan baru kita mulai lagi." Dokter memberi instruksi yang diikuti Seruni.
__ADS_1
"Suaminya belum datang, Bu?" tanya dokter kepada mak Ute yang menggeleng. Tapi kemudian mereka mendengar suara langkah kaki, berjalan tergesa-gesa ke dalam. Bima dengan seragamnya terlihat.
"Sayang, aku disini, maaf aku terlambat." Bima mencium jemari Seruni berkali-kali lalu mengecup kening istrinya itu. Seruni tersenyum di sela kepayahan mengeluarkan anaknya.
"Sakit, Mas."
Seruni meringis, airmatanya nampak melelah. Bima segera mengusap airmata itu dengan perlahan menggunakan ibu jarinya. Tangannya menggenggam erat jemari Seruni.
"Ayo, aku di sini. Kau bisa, Sayangku."
Kata-kata penyemangat itu membuat Seruni jadi lebih bersemangat pula. Ia seolah mendapat kekuatan kembali. Dikerahkannya seluruh tenaga dan saat mengejan yang ke berapa kali itu, lengkingan suara anaknya terdengar. Anaknya lahir dengan selamat. Bayi putih nan gembul itu lahir dengan dan bantu tindakan episiotomi.
"Laki-laki, Pak, Bu."
"Alhamdulillah, ya Allah." Bima mengecup kening Seruni, airmata keduanya meleleh bersamaan. Mak Ute juga tak kuasa menahan haru, sekelebat bayangan Seruni masih sekolah dulu saat masih tinggal di warung remang-remang, lalu bayangan ketika Seruni yang selalu menangis setiap malam sembari memeluk jam tangan Bima di masa lalu itu membuatnya jadi merasakan haru yang luar biasa.
Seruni belum bisa berkata-kata, ia masih larut dalam suasana haru. Bima kini tengah mengadzani puteranya yang sudah dibersihkan itu.
Hati Bima bergetar melihat buah hatinya lahir dengan selamat, lahir dari rahim perempuan yang pernah dikecewakannya dahulu dan yang telah ia perjuangkan dengan susah payah setelah sepuluh tahun bak pengecut. Kini semua sudah terbayar lunas.
Bayi laki-laki itu akan tumbuh dengan didikan yang pasti baik dari Bima dan Seruni.
"Siapa namanya, Bim?" tanya mak Ute sambil menggendong bayi itu.
__ADS_1
"Dirga Bimantara, Mak."
Seruni tersenyum mendengarnya. Saat ini, ia tengah dijahit. Meski sakit, tapi kelahiran puteranya menghapus semua rasa sakit itu.
"Aku telepon ibu dan ayah dulu, Mak."
Mak Ute mengangguk, membiarkan Bima mengabari kedua orangtuanya tentang berita bahagia ini. Sudah bisa ditebak bagaimana heboh dan bahagianya kedua mertua Seruni itu. Mereka juga akan segera bertolak ke Jakarta bersama Laras.
***
Menjalani kehidupan bahagia sebagai istri dan ibu membuat Seruni juga jadi lebih dewasa dalam menapaki kehidupannya. Manis pahit asam garam kehidupan sudah ia rasakan sejak kecil, tetapi kesabaran dan juga ketulusannya berbuah kebahagiaan yang tiada akhir.
Puteranya sudah berusia dua minggu. Seruni dikelilingi orang-orang baik yang menyayanginya. Dulu sebatang kara menjalani hidup, kini ia merasa hidupnya ramai.
"Run, makanlah dulu, Nak. Biar Dirga Ibu yang jaga."
Seruni tersenyum lalu mengangguk dan membiarkan ibu mertuanya menggendong anaknya. Bima ternyata sudah menyiapkan makanan untuk Seruni. Ia juga menyuapkan makanan itu untuk istrinya.
"Sementara makan yang bening-bening begini dulu ya, Sayang."
Seruni mengangguk. Ia bahagia sekali, karena banyak yang mengurusnya dan membantunya mengurus Dirga di masa empat puluh hari ini. Butik juga masih berjalan lancar dengan mak Ute yang mengawasi.
Semua hal berjalan sebagaimana mestinya. Laras menjadi tante yang paling gemas dengan keponakannya itu. Ia sendiri hanya bisa berdoa semoga segera mendapatkan jodoh yang mau menerima masa lalunya yang kelam dahulu.
__ADS_1
Seruni mensyukuri semua hal yang terjadi di dalam hidupnya. Dirga Bimantara adalah bukti cinta sejatinya dengan Bima yang dulu pernah mati-matian dibencinya. Semua sudah menjadi lebih baik, Tuhan tak pernah ingkar janji dengan semua penerimaan yang Seruni lakukan selama ini.
-End