
Cepat-cepat, sekretaris Ciko segera melepaskan tangannya.
"Maaf, Nona." Ucapnya merasa bersalah.
"Kamu itu ya, kalau jalan tuh lihat-lihat. Gini nih, jadi nabrak 'kan?"
"Landa, gunakan sopan santunnya. Tidak baik seorang perempuan bicara seperti itu pada lelaki siapapun, termasuk dengan perempuan. Minta maaf lah dengannya. Dia memang sekretaris kamu, tapi tidak dianggap mu rendah." Ucap Tuan Herdi dengan tegas kepada putrinya.
"Tapi, Pa, dia udah kurang ajar sama Landa. Dia main tabrak aja, untung gak jatuh."
"Seharusnya kamu cukup berucap sewajarnya, bukan untuk memarahi. Sekarang juga, minta maaf dengan sekretaris Ciko. Kalau gak, semua fasilitas akan Papa sita, termasuk akan segera menikahkan kamu dengan lelaki pilihan Papa." Perintah ayahnya, juga tak lupa memberi ancaman kepada putrinya.
"Ya deh, ya." Jawab Landa dengan malas.
Kemudian, Landa menatap sekretarisnya.
"Aku minta maaf, karena sudah kasar memarahi kamu." Ucap Landa meminta maaf.
"Saya yang seharusnya meminta maaf, karena saya tadi tidak lihat-lihat." Jawab Ciko, sedangkan Landa menoleh pada ayahnya.
"Landa udah minta maaf, juga sekalian mau balik ke kamar." Ucap Landa yang sudah merasa dongkol dan memilih kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Sedangkan sekretaris Ciko merasa tidak enak hati dan juga merasa bersalah, lantaran sudah membuat Bosnya kesal.
"Maafkan saya, Tuan." Ucap Ciko meminta maaf kepada Tuan-nya.
"Kamu gak salah, putri saya memang seperti itu. Saya yang seharusnya meminta maaf atas ketidak sopanan putri saya. Maka dari itu, saya ingin menjodohkan kamu dengannya. Karena saya yakin, Landa akan berubah menjadi wanita baik-baik." Jawab Tuan Herdi.
"Saya akan pikirkan lagi, Tuan. Kalau begitu saya permisi, saya harus pulang, permisi." Ucap Ciko sekaligus berpamitan.
"Ya, hati-hati. Dan kamu Tuan Gane, bantu saya untuk meyakinkan sekretaris Ciko agar mau menikah dengan putri saya." Jawab Tuan Herdi, dan langsung bicara kepada Gane, adik iparnya sekretaris Ciko.
"Saya gak bisa janji, Tuan. Tapi, akan saya usahakan untuk membujuk kakak ipar saya." Jawab Gane mencoba untuk meyakinkan Tuan Herdi.
Gane mengangguk.
"Saya pamit pulang, sampai bertemu lagi, Tuan Herdi."
"Ya, hati-hati."
Setelah berpamitan, Gane segera pulang. Tetapi sebelumnya, ia menghubungi Ciko untuk diminta datang ke rumahnya. Tentu saja untuk membahas mengenai perjodohan antara Ciko dengan putri semayang Tuan Herdi.
Ciko awalnya enggan dan malas untuk menerima panggilan, tetapi akhirnya ia menepikan motornya dan merogoh ponselnya dari dalam tas kecilnya.
__ADS_1
Setelah menerima panggilan, Ciko membuang napasnya dengan kasar.
'Ni orang gak tahu lagi capek apa ya, belum juga pulang, sudah diminta ke rumahnya. Benar-benar ini adik ipar.' Batin sekretaris Ciko setelah menerima panggilan telpon dari suami adiknya.
Dengan kecepatan tinggi, tidak memakan waktu yang panjang, sekretaris Ciko telah sampai di kediaman keluarga Huttama.
Ciko segera turun dari motornya, dan melepaskan jaket, juga helmnya. Kemudian, ia masuk ke rumah milik adik iparnya.
"Kak Ciko, tumben jam segini maen ke rumah. Memangnya gak kerja? libur, ya."
"Baru aja pulang, tadi suami kamu meminta Kakak untuk datang ke rumah kamu. Makanya, pulang kerja langsung ke sini. Memangnya suami kamu belum pulang?"
"Belum, katanya sih tadi mau main ke rumah Bosnya Kakak. Tapi, gak tau juga sih."
"Ehem, lagi ngomongin siapa nih."
"Kamu, adik ipar paling resek." Sahut sekretaris Ciko.
Gane tersenyum melebar, dan langsung menc_ium kening milik istrinya. Tentu saja, sengaja membuat api cemburu kepada kakak iparnya.
"Norak, kalian berdua ini. Tamu adalah raja, siapkan makan malam untukku, karena kalian berdua sudah menguras energiku, membuatku menjadi lapar." Ucap Ciko sambil masuk ke dalam rumah, sedangkan Gane dan istrinya tertawa kecil, karena berhasil telah mengompori kakaknya.
__ADS_1