
Saat itu juga, Nanney sadarkan diri dari pingsannya. Kemudian, yang ia cari keberadaan suaminya.
"Kenapa kepalaku pusing begini, sayang?" tanya Nanney sambil memegangi bagian kepalanya yang terasa penat.
"Sini, biar aku bantu kamu untuk duduk bersandar." Jawab Gane sambil membantu istrinya untuk duduk dan bersaudara.
Saat sudah nyaman dengan posisi duduknya sambil bersandar, Nanney mendongak ke arah Tuan Herdi.
"Maafkan saya, Nona. Saya benar-benar tidak tahu jika Nona tengah mendengarkan pembicaraan saya bersama Tuan Gane." Ucap Tuan Herdi meminta maaf atas kecerobohannya.
"Tidak apa-apa kok, Tuan. Mungkin tadi lagi gak konsentrasi, saya terbawa dengan kenangan bersama kedua orang tua kami saat berlibur." Jawab Nanney tanpa harus beralasan.
"Kalau Tuan Herdi berkenan, silakan duduk dan silakan untuk menceritakan dengan detail." Ucap sekretaris Ciko pada Tuan Herdi.
"Baiklah, akan saya ceritakan semuanya." Jawab Tuan Herdi dengan anggukan, dan duduk berdekatan dengan sekretaris Ciko yang mana sudah disiapkan kursi oleh Ciko sendiri, juga sepasang suami-istri yang tengah duduk di atas tempat tidur.
Dengan napasnya yang terasa sesak, sebisa mungkin Tuan Herdi untuk tetap tenang.
__ADS_1
"Begini sekretaris Ciko, bahwa kamu dan adik perempuanmu masih mempunyai wasiat dari kakek kamu, dan wasiat itu masih saya pegang." Ucap Tuan Herdi.
"Wasiat apa itu, Tuan?" tanya Ciko dengan rasa penasaran, juga ingin mengetahuinya.
Begitu juga dengan Gane dan istrinya tengah fokus untuk mendengar ucapan dari Tuan Herdi.
"Wasiatnya, yakni masih mempunyai harta warisan dari keluarga Diningrat. Semua masih utuh, juga masih berjalan dengan baik. Nama dari Diningrat dan Ningrat itu, wasiat untuk di pertemukan kembali melalui perjodohan, agar bersatu dalam naungan Lingrat. Meski nama itu tidak akan bersatu, tetapi Diningrat maupun Ningrat itu sudah dianggap mewakili. Jadi, perjodohan itu harus dilakukan sesuai amanah. Saya sendiri awalnya sudah menyerah, makanya saya tertarik dengan kamu, karena tidak mungkin untuk mencari keberadaan keluarga Diningrat yang sudah dinyatakan meninggal dunia semua. Tentu saja, saya sudah menganggap semua berakhir. Tapi kenyataannya kamu dan putri saya dipertemukan." Jawab Tuan Herdi memberi penjelasan.
Sekretaris Ciko yang mendengarnya, pun seperti mendengar dongeng yang begitu sulit untuk diterima.
"Benar-benar semua penuh misteri, sama halnya dengan kasus kami berdua, Tuan Herdi. Saya dan istri saya juga pernah berpisah bertahun-tahun, dan kini kita dipertemukan kembali." Ucap Gane ikut bercerita.
"Bagaimana sekretaris Ciko? apakah kamu sudah percaya dengan penjelasan dari saya ini? semua bukti sudah ada, termasuk jejak foto dan rekaman jaman dulu masih saya simpan dengan baik. Meski semuanya barang kuno, saya masih menyimpannya, sesuai amanah dari keluarga Diningrat." Ucap Tuan Herdi kepada sekretaris Ciko.
"Baiklah, saya akan melihat semua bukti itu. Mungkin cerita dari ayah saya itu semuanya benar." Jawab sekretaris Ciko yang akhirnya meminta untuk melihat bukti yang lebih akurat lagi.
"Akhirnya semua dapat diselesaikan dengan satu persatu bukti, semoga semuanya akurat." Kata Gane penuh harap, dan tidak ada sesuatu yang direkayasa." Ucap Gane.
__ADS_1
"Semoga saja bukti yang saya miliki, semua itu benar dan dapat meyakinkan kalian bertiga." Kata Tuan Herdi.
"Ya, Tuan, semoga saja buktinya benar-benar akurat." Jawab sekretaris Ciko.
"Kalau begitu saya pamit pulang, besok kamu datang lebih awal ke rumah saya." Ucap Tuan Herdi.
Sekretaris Ciko mengangguk.
"Baik, Tuan." Jawab sekretaris Ciko.
Setelah berpamitan, Tuan Herdi segera pulang dari kediaman keluarga Huttama.
Yang penasaran dengan kisah sebelumnya, ada di Novel
KAKAK IPAR PENGGANTI
Ceritanya penuh teka teki, juga tidak kalah serunya ya..
__ADS_1
Yuk, yang belum baca, bisa ditengok dan biar tidak bingung dengan alur ceritanya tentang sosok Ciko Wicaksono.