
Sampainya di depan pintu kamar istrinya, terasa enggan untuk masuk kedalam. Tidak mempunyai pilihan lain, Ciko memberanikan diri untuk mengetuk pintunya.
"Kamu, aku kira siapa?"
"Aku mau pulang, kamu mau ikut apa enggak?"
Landa yang mendapat pertanyaan dari suaminya yang tidak seperti yang ia dengar saat memanggil dirinya, langsung memutar balikkan badan.
"Kalau kamu masih menganggap aku ini suami kam, pulanglah bersamaku. Jika tidak mau ikut pulang, bicara baik-baik dengan kedua orang tuamu. Aku tunggu di ruang makan, karena kedua orang tuamu sedang menunggu." Ucap Ciko yang tidak lagi seperti biasanya, dan sesuai tekadnya sebagaimana dia sudah menjadi seorang suami, dan juga harus bersikap tegas kepada istrinya, sekalipun sang istri tak cinta pada dirinya.
Landa yang mendengar ucapan suaminya, seolah seperti terhipnotis dengan kesungguhannya. Tanpa disadarinya juga, ternyata suaminya sudah pergi dari hadapannya.
"Benarkah yang barusan dia ucapkan? dia sedang tidak bermain drama, 'kan?" gumamnya sambil melamun.
"Nona, Nona," panggil asisten rumah sambil melambaikan tangannya.
"Bibi, ngagetin aja deh."
"Itu, Nona sudah ditunggu sama Tuan Herdi bersama Nyonya dan Suami Nona, Tuan Ciko." Ucapnya.
"Bi, tolong beresin kamar aku ya, tadi sempat aku berantakin. Oh ya, sekalian kamar mandinya juga."
"Ya, Nona, Bibi akan bereskan kamar Nona sama kamar mandinya." Jawabnya dengan anggukan.
Landa yang tengah berbunga-bunga hatinya, langsung bersiap-siap untuk merapikan penampilannya. Setelah itu, ia keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan.
__ADS_1
"Jangan tinggalin Landa makan sendirian, dong."
Kedua orang tuanya pun langsung menoleh ke sumber suara, termasuk Ciko sebagai suaminya.
"Tenang aja, masih ada suami kamu yang akan setia menemanimu. Sudah buruan duduk, kita semua sudah dari tadi menunggu kamu gak keluar keluar. Layani suami kamu dengan baik, karena sekarang ini kamu sudah menjadi seorang istri. Jadi, jangan abaikan suami kamu." Ucap ibunya tak lupa memberi nasehat kecil untuk putrinya.
"Ya, Ma." Jawab Landa yang langsung mengambilkan porsi makan untuk suaminya.
Sedangkan Ciko sekilas tersenyum tipis saat melihat istrinya yang tidak lagi jutek saat berada di rumahnya.
"Terima kasih," ucap Ciko saat diambilkan porsi makan oleh istrinya.
"Sama-sama, sudah menjadi kewajiban ku untuk melayani suami." Kata Landa yang baru saja meletakkan piring.
Karena baru pertama kalinya makan siang bersama suami dalam satu meja makan bareng kedua orang tuanya juga, membuat Landa sedikit lambat untuk mengunyah makanan. Bahkan, sampai-sampai lebih dulu kedua orang tuanya yang selesai makan.
"Kalian berdua habiskan dulu makannya, Mama sama Papa mau ke kembali ke kamar dulu."
"Ya, Ma, Pa." Jawab keduanya dengan serempak.
Ketika kedua orang tuanya masuk ke kamar, tinggallah Landa bersama suaminya yang masih berada di ruang makan.
Landa yang masih mengunyah makanan, cepat-cepat untuk menghabiskan makannya.
Selesai minum, sampai lupa ada sesuatu yang menempel disudut bibirnya yang sebelah kanan.
__ADS_1
"Diam dulu,"
"Ada apa?" tanya Landa.
Ciko segera mengambil sesuatu yang menempel di sudut bibir istrinya.
Saat itu juga, Landa langsung meraih tangan suaminya.
Sedangkan tangan kiri miliknya Ciko yang akhirnya mengambil sesuatu itu.
"Ini, ada yang tertinggal di sudut bibir kamu. Jangan berpikiran yang aneh aneh, tentu saja aku tidak akan melukai kamu."
"Bukan itu maksudnya aku, cuma takut grogi aja." Kata Landa dengan malu.
"Oh, kirain."
"Aku mau ikut pulang bareng kamu, dan aku gak perlu bicara dengan Mama dan Papa."
"Serius mau ikut pulang bareng dan tinggal di rumah yang kecil itu?" tanya Ciko untuk memastikan.
Landa mengangguk.
"Ya, aku siap untuk tinggal bersama kamu. Aku percaya kok sama kamu, yang dikatakan Papaku pasti benar. Maaf ya, jika tadi aku sudah salah tuduh." Jawab Landa dan meminta maaf lantaran merasa bersalah.
"Obrolannya nanti dilanjut lagi di rumah, sekarang lebih baik kita berpamitan dulu." Kata Ciko, Landa sendiri hanya nurut dengan ajakan suaminya.
__ADS_1