
Setelah pengucapan kalimat sakral, kini sekretaris Ciko dan Landa telah menjadi suami istri yang sah.
Ucapan selamat juga telah didapat dari kedua orang tuanya Landa, juga keluarga dari sekretaris Ciko sendiri, maupun para tamu undangan juga para saksi lainnya.
Acara pernikahan berlangsung begitu damai, meski banyak para karyawan perempuan yang kecewa akan kenyataan yang diterima. Tidak hanya para karyawan saja, rupanya sahabat Landa sendiri ikut kecewa karena harus menerima kekecewaan.
"Kalian berdua itu ya, benar-benar udah tega mengerjai aku. Kirain sih beneran supirnya Landa, ee calon suaminya, hem. Pokoknya nanti malam aku akan pinjam istrimu untuk temani kita berdua tidur, pokoknya kita mau menginap, titik." Ucap Wela sesuai yang direncanakan sebelumnya.
"Maaf, Nona, istri saya harus pulang bersama saya. Kalau kalian ingin tidur bareng, lain waktu saja." Jawab sekretaris Ciko.
"Jangan gitu dong, kita ini jarang-jarang tidur bareng loh. Jadi, apa salahnya jika kita bermalaman untuk yang terakhirnya di masa lajang. Boleh ya, boleh." Ucap Naila ikut menimpali.
"Maaf, Nona, saya tidak bisa memberi izin istri saya. Apapun alasannya, saya tidak mengizinkan." Jawab sekretaris Ciko.
"Malam ini saja kenapa, lagian juga aku sama mereka berdua itu sudah jarang menginap. Jadi, untuk malam ini boleh ya."
"Maaf, tidak bisa."
'Aih, benar-benar ini orang. Apa salahnya coba, cuma semalaman aja gak diizinkan juga, sia_lan.' Batin Landa yang sudah mulai geram dengan suaminya sendiri.
"Ya udah deh kalau tidak diizinkan, kita berdua mau langsung pamit ya, Lan. Ingat, tugas seorang istri itu harus patuh kepada suaminya." Ucap Wela sekaligus meledek sahabatnya, termasuk menyindir soal izin untuk menginap.
"Beneran nih gak jadi menginap?"
"Gimana mau menginap, suami kamu aja gak ngizinin juga. Ya udah lah kapan-kapan saja, bahagia selalu ya buat kalian. Aku sama Naila pulang duluan, bye."
"Makasih banyak ya Wel, udah mau datang diacara pernikahan aku. Aku doakan, semoga kamu segera menyusul.
"Ya, Lan, makasih." Kata Wela, dan memeluk sahabatnya.
__ADS_1
Kemudian, giliran Naila.
"Aku doakan bahagia selalu untuk kalian berdua, dan segera diberi momongan. Ya udah ya, aku mau pamit pulang. Menginapnya kapan-kapan aja kalau kamu sudah dapat izin dari suami kamu, bye bye." Ucap Naila, dan memeluk Landa sebentar.
Setelah, Wela bersama Naila segera pulang.
Saat itu juga, beberapa karyawan yang posisinya tidak jauh dari pintu masuk, di kejutkan dengan kehadiran lelaki yang sama tampannya, juga tidak kalah dengan pengantin laki-laki maupun seorang Gane.
Tubuhnya yang tinggi dan badannya yang terlihat sempurna, juga tampannya, membuat semua mata melihatnya.
"Wah, ganteng banget." Puji beberapa wanita yang tengah kagum melihatnya.
Siapa lagi orangnya kalau bukan Rafaza Anggara, lelaki yang banyak diidolakan oleh para kaum wanita. Namun, dirinya tetap memilih untuk sendiri daripada harus memiliki banyak pacar ataupun istri.
Rasanya memang seperti tidak rela ketika melihat perempuan yang disukainya telah menikah. Awalnya sangat senang saat mengetahui Alex sudah menikah dan lebih memilih untuk meninggalkan Landa, namun kenyataannya harus menerima surat undangan atas pernikahan perempuan yang disukainya.
Detak jantung yang berdegup begitu cepat, membuatnya ingin memporak porandakan acara resepsinya, tetapi dirinya tidak ingin bermain kotor, pikirnya.
"Hai, Tuan Rafa. Selamat datang di acara resepsi pernikahan putri saya, maafkan jika penyambutannya kurang baik." Ucap Tuan Herdi menyapa.
"Tidak apa-apa, Tuan. Justru itu saya tidak menyukai sesuatu yang berlebihan, apalagi harus disambut, saya merasa malu sendiri. Kalau diizinkan, saya mau menemui kedua mempelai pengantin terlebih dahulu." Jawab Rafaza.
"Boleh. Tapi, apa tidak sebaiknya Tuan Rafaza menikmati hidangannya terlebih dahulu?"
"Saya buru-buru, Tuan. Jadi, saya mau langsung bertemu dengan putri Tuan, Saylanda." Kata Rafaza menolak ajakan Tuan Herdi.
"Oh, silakan, Tuan." Ucap Tuan Herdi, Rafaza segera bergegas untuk menemui kedua pengantin.
Sampainya di atas panggung, tatapan Rafaza tertuju pada seorang laki-laki yang kini telah memenangkan perempuan yang ia sukai.
__ADS_1
"Kamu rupanya yang menjadi suaminya Saylanda, aku ucapkan selamat untuk kamu, juga untuk istrimu. Semoga kalian berdua berbahagia, selamat atas pernikahan kalian." Ucap Rafaza sambil mengulurkan tangannya untuk memberikan ucapan selamat kepada sekretaris Ciko dan Landa, temannya sendiri.
"Terima kasih, Tuan Rafaza. Saya do'akan, semoga Tuan segera menyusul." Jawab sekretaris Ciko setelah menerima uluran tangan dari Rafaza.
Kemudian, Rafaza mengulurkannya kepada Landa.
"Selamat berbahagia atas pernikahan kamu, semoga langgeng." Ucap Rafaza kepada Landa.
"Terimakasih, semoga kamu juga segera menyusul." Jawab Landa setelah menerima uluran tangan dari Rafaza, temannya.
"Do'akan saja. Oh ya, aku mau langsung pamit pulang, soalnya aku buru-buru. Sampai bertemu lagi di lain kesempatan, sampai jumpa." Ucap Rafaza yang langsung berpamitan.
"Hati-hati, Tuan." Jawab sekretaris Ciko, sedangkan Rafaza sendiri hanya mengangguk dan bergegas pergi meninggalkan acara resepsi pernikahan Saylanda dengan sekretaris Ciko.
Setelah tidak lagi terlihat bayangan Rafaza, rupanya tidak terasa juga waktunya sudah semakin lama dalam acara resepsi pernikahan.
Satu persatu telah memberi ucapan selamat setelah menikmati hidangan, juga telah meninggalkan acara tersebut hingga tidak ada lagi tamu undangan yang menghadirinya.
Rasa capek dan juga lesu, kedua pengantin sudah ditunggu oleh seorang supir yang sudah siap untuk mengantarkan pulang ke rumah sekretaris Ciko.
Awalnya sang istri menolaknya, tetapi niatnya dilarang oleh kedua orang tuanya, dan meminta kepada putrinya untuk ikut bersama suaminya.
Mau tidak mau, akhirnya Landa menurutinya, dan tidak berani memaksakan orang tuanya untuk menuruti keinginannya.
"Aku serahkan putriku kepadamu, sekarang juga tanggung jawabnya sudah berpindah pada diri kamu. Jadi, Papa tidak ada lagi hak untuk memaksakan kehendak, semua sudah menjadi tanggung jawab mu. Jika putri Papa telah melakukan kesalahan, nasehati dia, jangan manjakan dia atas kehendak keinginannya. Jika kamu sudah tidak mampu mengatasi istrimu, katakan pada Papa. Satu lagi, jika kamu tidak lagi cinta dengan putri Papa, dan kamu benar benar sudah tidak sanggup lagi, pulangkan dengan cara yang baik." Ucap Tuan Herdi kepada menantunya.
"Baik, Pa. Sebisa mungkin saya akan membahagiakannya, juga akan bertanggung jawab atas dirinya. Saya akan penuhi apa yang disampaikan oleh Papa untuk saya pribadi." Jawab sekretaris Ciko meyakinkan ayah mertuanya.
Tuan Herdi tersenyum lega, lantaran sudah menyerahkan putrinya kepada lelaki yang sangat Beliau percayai.
__ADS_1
Setelah menyerahkan putrinya, sekretaris Ciko dan istrinya segera masuk ke mobil.
Begitu juga dengan Doin, dirinya pulang ke rumah barunya yang sudah disiapkan oleh Bosnya yang bernama Gane, adik ipar sekretaris Ciko.