Bodyguard Pewaris Tunggal

Bodyguard Pewaris Tunggal
Ketakutan


__ADS_3

Ciko yang tidurnya tidak satu kamar dengan istrinya, dirinya sama sekali tidak marah atas keinginan istrinya yang meminta untuk tidur dengan cara terpisah. Dirinya menyadari akan status pernikahannya yang diawali lewat perjodohan. Rasa capek dan juga mengantuk, kini telah membuatnya kesulitan untuk menyempurnakan pandangannya.


Tidak ingin waktu istirahatnya terbuang dengan sia-sia, Ciko akhirnya tertidur dengan pulas. Namun, baru saja memejamkan kedua matanya, ia mendengar seperti suara gerimis di luaran sana dan dan terdengar juga seperti disertai angin kencang membuatnya tidak dapat untuk tidur, lantaran cemas dan takut terjadi sesuatu.


Ditambah lagi dengan kondisi cuaca yang dimana-mana ekstrim, membuat tidurnya tidak tenang, yakni memikirkan karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Seperti tadi, Ciko yang sudah mengantuk dan badan terasa capek, akhirnya memaksa diri untuk tidur, dan tidak begitu panik dengan kondisi di luaran yang seperti mau hujan deras.


Lain lagi di ruangan kamar sebelah, ternyata Landa masih juga belum tidur karena suasana yang sangat baru, dan membuatnya gelisah, ditambah lagi mulai diguyur hujan, juga dengan suara angin yang cukup kencang.


"Mana hujan, lagi. Ditambah lagi kamarnya yang seperti ini, sempit jugaan. Papa ini gimana sih, masa' menikahkan putrinya dengan lelaki yang kurang memadai keuangannya, jelas-jelas aku bisa tersiksa lama-lama nantinya, aih." Gerutunya yang merasa kesal, dan kesulitan untuk memejamkan kedua matanya lantaran tidak terbiasa tidur di dalam kamar dengan ukuran yang menurutnya sangatlah sempit.


Tidak ada pilihan lain selai terpaksa untuk tidur, Landa segera berbaring di tempat tidur milik suaminya.


Baru saja merebahkan tubuhnya, ia merasa berbeda dengan dugaannya.


"Ternyata tempat tidurnya enak juga ya, aku kira ini keras, ternyata lebih lembut dari tempat tidurku. Oh ya, ini kan katanya bekas rumahnya adik iparnya, ya tentu saja kualitasnya bagus. Untunglah, jadi aku tidak merasakan sakit saat bangun tidur." Gumamnya sambil berbaring di atas tempat tidurnya.


"Aaaaa!" teriak Landa saat lampunya mati dan ruangan menjadi begitu gelap, membuatnya bertambah ketakutan saat dirinya sendirian berada dalam kamar tanpa penerang cadangan.


"Tolong! tolong aku." Teriaknya dengan ketakutan.


Sekretaris Ciko yang mendengar istrinya tengah berteriak, langsung membuka kedua matanya.


Gelap. Hanya itu yang didapati oleh sekretaris Ciko saat terbangun dari tidurnya.


Saat itu juga, dirinya langsung keluar dari kamar dengan menggunakan senter dari ponselnya.


"Tolong! cepat tolong aku." Teriak Landa berulang-ulang meminta tolong.


Sekretaris Ciko langsung membuka pintunya. Dengan perasaan takut, Landa langsung berlari memeluk suaminya tanpa ia sadari sebelumnya.


"Aku takut gelap, kenapa lampunya mati?"

__ADS_1


"Mungkin ada korsleting pada gardu listrik. Nona tidak perlu takut, di rumah ini aman, gak ada apa-apa."


"Aaa!" teriaknya yang langsung memeluk erat suaminya saat mendengar suara guntur yang menggelegar.


Saat itu juga, lampunya menyala.


Landa yang kaget, langsung melepaskan pelukannya.


"Maaf, tadi itu aku cuma reflek aja, soalnya aku takut dengan gelap, juga dengan suara guntur yang sangat keras." Ucap Landa setelah melepaskan pelukannya.


"Tidak apa-apa, Nona. Saya bisa memakluminya. Oh ya, sepertinya hujannya juga mulai reda, Nona bisa melanjutkan istirahatnya, selamat malam."


"Eee tunggu tunggu tunggu,"


"Ada apa lagi, Nona?"


"Aku boleh nebeng, gak?"


"Nebeng, memangnya mau nebeng kemana, Nona?"


"Oh,"


"Kok cuman oh, gak mau ya? ya udah aku mau balik ke rumah aja kalau gitu, dan kamu akan aku adukan sama Papa dan Mama, kalau kamu itu gak mau tidur satu kamar denganku."


"Boleh, kamu kan istriku, ya memang seharusnya kita itu tidur dalam satu kamar, bukan kamar yang terpisah."


"Ooooh, jangan-jangan korsleting listrik itu ulah kamu, hayo ngaku."


"Loh, kok saya yang jadi sasarannya. Mana saya tahu kalau lampunya mati, Nona."


"Halah, bilang aja kalau kamu itu memang sengaja mau mengerjai aku, terus mau ambil kesempatan." Tuduh Landa dengan kesal.


"Apa saya tidak salah dengar, Nona? yang mengambil kesempatan bukannya Nona sendiri."

__ADS_1


"Kepedean banget kamunya, memangnya aku sudah ambil kesempatan apa darimu? yang ada bikin aku ketakutan dan juga jantungan. Untung saja aku tidak punya riwayat jantung, bisa mati mendadak akunya karenamu." Kata Landa yang tidak mau disalahkan, maupun di tuduh.


"Apakah Nona sudah lupa? bukankah tadi Nona yang sudah mengambil kesempatan? tadi kan, Nona sudah memeluk saya. Bukankah itu namanya Nona yang ambil kesempatan?"


"Dih, kepedean. Siapa juga yang mau ambil kesempatan, kepedean kamunya mah."


"Nah, kan, lupa jadinya. Yang meluk saya kan, Nona sendiri. Bahkan sampai erat loh, untung saja peliharaan aku masih aman."


Seketika, Landa langsung melotot dan menatap suaminya penuh geram.


"Kau! lama-lama semakin nyebelin, gak jadi sekretaris, gak jadi suami, sama aja menjengkelkan." Kata Landa penuh kesal dan juga geram.


"Lebih baik Nona itu istirahat, besok kita akan kembali bekerja." Ucap sekretaris Ciko yang kini tidak lagi canggung saat berhadapan dengan istrinya, juga mulai berani menarik tamgannya, meski ia merasa banyak perbedaan dari segi status ataupun apa.


"Lepaskan tanganku,"


"Silakan tidur, Nona." Ucap suaminya saat sudah berada di dekat tempat tidur.


Tiba-tiba terdengar suara perut yang keroncongan, Landa langsung memegangi perutnya sedikit membungkukkan badannya.


"Aw! sialan, kenapa juga mesti lapar di jam segini sih. Aih, benar-benar sangat menjengkelkan." Gumamnya sambil merasa malu saat perutnya harus berbunyi bak genderang.


Tetap saja, suaminya dapat menangkap suara yang berbunyi lewat perut istrinya yang Keroncongan itu.


"Nona pingin makan apa? nanti saya yang akan memasakkan untuk Nona."


"Gak usah, aku tidak mau merepotkan kamu. Tunjukan saja dapurnya, nanti biar aku yang masak. Kalau ada mie juga gak apa-apa, lebih cepat matang, juga lebih cepat kenyang."


"Gak baik makan mie instan malam-malam, biar aku buatkan sup ayam sama jamur kering, akan jauh lebih baik untuk kesehatan."


"Terserah kamu saja, yang terpenting ada makanan untuk mengganjal perutku." Kata Landa yang pasrah dengan keadaan.


"Ya udah, lebih baik Nona tunggu saja di kamar, saya yang akan buatkan sup ayamnya. Kalau Nona merasa bosan, bisa baca-baca buku di lemari itu." Ucap suaminya, dan menunjuk ke arah lemari yang terdapat begitu banyak buku bacaan.

__ADS_1


"Maaf ya, udah merepotkan kamu." Kata Landa yang tidak tahu harus ngomong apa lagi.


"Saya tidak merasa direpotkan, karena Nona sudah menjadi istri saya, yang juga sudah menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya." Ucap suaminya, Landa hanya mengangguk.


__ADS_2