Bodyguard Pewaris Tunggal

Bodyguard Pewaris Tunggal
Kejujuran


__ADS_3

Ciko yang tidak ingin istrinya banyak memberi pertanyaan untuknya, langsung mendekati.


"Nona, berikan kalung itu pada saya." Ucap Ciko sembari ingin meraih benda yang ada ditangan istrinya.


Landa yang berusaha mempertahankan sebuah kalung liontin yang ada ditangannya, berusaha mundur beberapa langkah agar tidak didekati suaminya.


Naas, justru Landa jatuh ke tempat tidur dengan posisi duduk.


"Enggak, aku gak akan nyerahin kalung liontin ini sebelum kamu mengatakan sejujurnya padaku. Kamu dapat kalung ini dari mana? jawab."


Ciko yang masih ragu untuk menjelaskannya, bingung harus menjawabnya apa. Tidak mungkin jika harus mengatakan kebenarannya dengan kondisi yang menurutnya belum pas dengan waktunya.


'Apa yang harus aku katakan padanya, jika akulah pelakunya yang sudah mencelakai dirinya. Entah sumpah serapah apa yang akan di lontarkan kepadaku soal aku yang sudah membuatnya terluka. Bahkan, lukanya masih membekas di bagian punggungnya.' Batin Ciko dipenuhi dengan rasa kekhawatiran.


"Kenapa kamu diam? ayo jawab dengan jujur, dan jelaskan semuanya padaku soal kalung liontin ini ada pada diri kamu."


'Baiklah, sepertinya aku harus berkata jujur padanya. Tidak peduli jika aku harus mendapatkan sumpah serapah darinya, juga umpatan yang mungkin saja sangat menyakitkan untuk aku dengar. Sudah menjadi resiko yang sudah lari dari tanggung jawabku sebagai pelaku yang sudah mencelakai anak orang.' Batin Ciko masih diselimuti perasaan rasa bersalahnya dirinya terhadap perempuan yang tidak tahu apa-apa.


"Ayo jelaskan semuanya padaku, jangan sampai enggak cerita."

__ADS_1


"Baik, Nona. Saya akan menceritakan semuanya pada Nona. Tapi ada syaratnya, itupun harus dipenuhi." Jawab Ciko untuk mengulur waktunya.


"Kenapa harus pakai syarat segala sih. Ya deh ya, apa syaratnya."


"Janji ya, Nona."


"Ya deh, aku janji." Kata Landa.


"Syaratnya dilarang keras untuk memaki atau memberi sumpah serapah kalau belum mengetahui kebenarannya."


"Hem, kek apa saja. Eh tunggu tunggu, kok kamu bilangnya gitu.


"Ya ya ya, ya. Cepat kamu jelaskan sedetail mungkin, tidak ada kata nanti dan nanti. Capek tahu kalau disuruh nunggu, berasa semedi yang kebablasan."


"Baiklah kalau Nona ingin mendengarkan penjelasan dari saya." Ucap Ciko sembari berjalan mendekati istrinya.


Kemudian, ikut duduk di sebelahnya dengan posisi sedikit menundukkan kepalanya. Namun, sebelumnya ia meraih kalung liontin itu ditangan istrinya.


"Sini, biar saya jelaskan semuanya dengan detail. Saya mohon pada Nona untuk bisa menjaga bicaranya." Kata Ciko di sela-sela saat mengambil kalung liontin.

__ADS_1


"Waktu itu saya sedang bermain sepeda dengan kedua orang tuanya Bos Gane dan Regar, kami bertiga mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Naas, waktu itu rem sepeda saya tidak berfungsi dan harus menabrak seorang gadis kecil yang tidak bersalah, dan rem sepeda saya nyangkut pada kalung Liontin ini. Karena saya terburu-buru harus mengejar mereka, dengan terpaksa saya kabur dan membawa kalung liontin ini. Jujur, saya akan bertanggung jawab sepenuhnya padanya, dan akan mengembalikan kalung ini kepada pemiliknya. Saya akan terima akibatnya, dan saya siap menanggung resikonya, sekalipun saya harus di penjera." Ucapnya memberi penjelasan yang menurutnya cukup detail, juga dengan napas yang terasa sesak, lantaran harus berterus terang kepada pemiliknya.


Bahkan, Ciko sendiri tidak mampu untuk menoleh pada istrinya. Menundukkan pandangannya, hanya itu yang bisa dilakukan oleh Ciko selaku suami Landa sambil menggenggam kalung liontin.


"Jadi, kamu rupanya yang sudah mencelakai aku, dan juga ... kau perebut kebahagiaanku saat itu." Tuduh Landa dengan tangisnya yang pecah.


Dirinya masih ingat kenangan dimasa lalunya, hari bahagia disaat mau menjelang hari ulang tahunnya harus berada di rumah sakit. Bahkan tulang punggungnya hampir saja mendapatkan cidera yang cukup serius.


Saat itu juga, Ciko langsung mendongak dan menoleh pada istrinya.


"Maafkan saya, Nona, maafkan atas kesalahan saya dimasa lalu itu. Saya janji akan bertanggung jawab atas semuanya pada Nona. Apapun akan saya lakukan untuk Nona, percayalah pada saya, Nona."


"Kemana aja selama ini, kau benar-benar pengecut! kau sudah ambil kebahagiaanku waktu itu. Dan kamu tahu, aku harus gagal dalam harapanku untuk membuat harum nama keluargaku, kau! juga sekarang sudah ambil kebahagiaanku dengan sebuah pernikahan yang tidak pernah aku inginkan untuk menikah denganmu."


Antara ingin marah saat mendengar kata pernikahan, juga merasa bersalah atas kesalahan dimasa lalunya.


"Sekarang juga, aku akan adukan kepada kedua orang tuaku, dan kita lihat seberapa kecewanya mereka berdua. Bahkan, bila perlu kita bercerai detik ini juga." Ucap Landa bagai sambaran petir bagi Ciko yang mendengarnya.


"Silakan, silakan adukan saja kepada kedua orang tua Nona, saya siap menanggung segala resikonya. Sekarang juga saya akan mengantarkan Nona untuk pulang ke rumah." Jawab Ciko yang masih belum bisa mengendalikan antara emosi dengan perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2