
Setelah melewati harinya beberapa hari minggu, tidak terasa hubungan pernikahan Ciko dengan Landa semakin harmonis.
Kesibukan Ciko hari-harinya semakin dipadatkan dengan jadwal kerjanya, namun tetap harus membagi waktunya untuk sang istri tercinta.
Sesuai janji Tuan Herdi Ningrat, menyerahkan segala aset milik menantunya, termasuk rumah mewah milik mendiang kakeknya yang masih terawat dengan baik.
"Nak Ciko, sekarang kamu yang bertanggung jawab atas semua milik keluarga Diningrat. Papa serahkan semuanya padamu, semoga bertambah sukses kedepannya." Ucap Tuan Herdi sambil menyodorkan beberapa berkas mili keluarga Diningrat kepada menantunya.
"Baik, Pa. Saya akan bertanggung jawab atas semua yang menjadi hak keluarga Diningrat." Jawab Ciko meyakinkan.
Landa yang melihatnya langsung, pun tidak menyangka jika suaminya ternyata jauh lebih kaya ketimbang keluarganya.
"Dan kamu Landa, kamu juga akan Papa beri amanah untuk kamu. Semua yang menjadi milik keluarga Ningrat akan menjadi milikmu, dan tentunya kamu juga sama seperti suami kamu yang bakal bertanggung jawab atas semua milik keluarga Ningrat. Kalian berdua adalah amanah dari keluarga Lingrat, dan harus menjaga namanya dengan baik." Ucap Tuan Herdi kepada putrinya yang juga memberi pesan kepadanya.
"Baik, Pa. Landa siap menerima perintah dari Papa, dan juga akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga nama baik keluarga Ningrat maupun Lingrat." Jawab Landa yang juga meyakinkan kedua orang tuanya.
Setelah semua aset diserahkan kepada menantunya, Tuan Herdi merasa lega dan tidak menanggung beban lagi. Tugasnya sudah selesai, semua masalah juga sudah berakhir.
__ADS_1
"Kalau begitu kami berdua mau pamit pulang, Pa, Ma." Ucap Ciko berpamitan.
"Ya, hati-hati dalam perjalanan." Jawab ibunya Landa.
Setelah berpamitan, Ciko maupun Landa segera pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan keduanya bertukar cerita untuk mengisi kejenuhan saat pulang.
Sampai di rumah, Ciko dapat menghela napasnya dengan lega.
"Sekarang sudah tidak ada lagi yang menjadi penghalang kita, semoga hubungan kita selalu langgeng hingga maut memisahkan kita berdua." Ucap Ciko berada dibawah anak tangga.
Ciko yang sudah tidak sabar untuk memu_askan has_ratnya, langsung menggendong istrinya sampai didalam kamar.
Sampainya berada dalam kamar yang sudah terkunci pintunya, pelan-pelan menidurkan istrinya di atas tempat tidur. Keduanya saling menatap satu sama lain, Ciko sendiri tangannya tidak ambil diam saat kedua matanya memandangi wajah ayu milik istrinya.
Desiran yang dirasakan oleh dua insan yang tengah berbahagia, tengah menikmati malamnya bersama saling berc_umbu mesra. Ciko mulai mendaratkan sebuah ciu_man lembut menuju bibir manis milik istrinya.
Kemudian, tangannya satu persatu membuka kancing baju milik istrinya hingga terlepas semuanya hingga menyisakan pemandangan yang dapat membuatnya susah payah untuk menelan salivanya.
__ADS_1
Ciko masih menye_sapi bibir manis milik istrinya hingga seperti orang yang rakus untuk menikmatinya.
Semakin lama dalam permainannya, keduanya tidak lagi menyisakan sehelai benangpun yang melekat pada tubuh keduanya. Hanya selimut tebal yang menjadi penutupnya untuk melakukan ritual panjangnya di malam hari hingga sampai pada puncak kenik_matan.
Selesai melakukan ritual malamnya, Ciko dan Landa segera membersihkan diri sebelum tidur, tentunya agar badan terasa lebih segaran meski di waktu malam hari.
Dirasa badan lebih segaran, keduanya melanjutkan tidurnya hingga pagi menyambutnya dengan hangat.
Baru saja terbangun dari tidurnya, keduanya tengah dikagetkan dengan suara ponsel yang berdering.
Ciko yang tidak jauh dari nakas, langsung menyambar ponselnya.
"Apa! serius? Nanney melahirkan? cowok apa cewe?"
Dengan girang dan juga terkejut, Ciko seperti mendapat durian runtuh dalam semalam.
"Bayinya cowok, ok ok ok, nanti aku dan istriku akan langsung ke rumah sakit." Kata Ciko dan langsung girang, lantaran keponakan yang dinantikan kehadirannya telah lahir dengan selamat dan dengan jenis kela_min laki-laki.
__ADS_1