
Sekretaris Ciko yang mendengar ucapan dari ayahnya Aina, mencoba untuk menata kalimat yang akan diucapkannya.
"Sebelumnya saya meminta maaf, jika saya tidak bisa memenuhi keinginan Bapak. Tapi, saya akan berusaha untuk mengembalikan keceriaan Aina lagi. Sedangkan untuk menemaninya, saya benar-benar tidak bisa. Saya ada perempuan yang harus saya jaga perasaannya." Jawab sekretaris Ciko dan menghela napasnya panjang.
"Tidak apa-apa, saya tidak akan memaksa kamu untuk menuruti keinginannya Bapak. Bapak percaya sama kamu, pasti bisa untuk sekedar menghibur Aina." Ucap ayahnya Aina.
"Saya tidak bisa janji, Pak. Tapi akan saya usahakan sebisa saya." Jawab sekretaris Ciko.
Setelah dirasa sudah cukup untuk mengobrol, sekretaris Ciko segera masuk ke ruang rawat dan ditemani oleh ayahnya Aina.
Saat sudah berada dalam ruang tersebut, Aina tersenyum bahagia saat lelaki yang disukainya tidak meninggalkan pergi.
"Kak Ciko beneran gak pulang?" tanya Aina saat mendapati sekretaris Ciko mendekatinya.
Sekretaris Ciko tersenyum sambil berjalan mendekati.
"Aina," panggil sekretaris Ciko dengan lirih.
Aina menatap wajahnya sekretaris Ciko dengan serius, dan dibalas dengan senyum.
"Maafkan Kak Ciko, Aina. Kakak harus pulang, kakak mempunyai istri di rumah. Mau bagaimanapun, tidak untuk menyakiti hatinya, perasaannya. Bukankah Aina juga seorang perempuan? jika suami Aina bersama perempuan lain, bagaimana?"
Ucap sekretaris Ciko beralasan, meski sebenarnya belumlah menikah.
Aina yang mendengarnya, pun berubah cemberut. Tatapannya berubah tak lagi sewaktu sekretaris Ciko masuk ke ruangan.
"Kak Ciko jahat," tuduh Aina dengan kesal.
"Ya, benar. Kak Ciko jahat kalau sampai menyakiti hati istrinya Kakak. Jadi, maafkan Kakak yang harus segera pulang. Kalau istri Kakak mengalami hal yang sama seperti kamu, bagaimana? apa Aina gak kasihan sama Kakak?"
Aina masih menyimpan kekesalannya, juga sama sekali tidak bicara.
"Aina, Kak Ciko sudah menganggap kamu seperti adiknya Kakak. Jadi, kamu tidak akan kehilangan Kakak. Percayalah sama Kakak, masih ada banyak lelaki yang akan menerima kamu dan akan memberi kasih sayang, perhatian, serta tanggung jawab sama kamu."
__ADS_1
"Enggak! lelaki di luaran sana itu sama saja. Tidak ada yang setia, tidak ada yang baik, semua kejam dan pembohong."
"Itu kan kata kamu, Aina. Kalau kata Kakak, masih ada banyak. Jadi, percayalah sama Kakak bahwa kamu akan mendapatkan lelaki yang akan memperlakukan kamu dengan baik." Ucap sekretaris Ciko mencoba untuk memberi nasehat kecil kepada Aina yang sudah dianggapnya adik.
"Terserah Kak Ciko saja, Aina tetap gak bisa percaya kepada lelaki. Kak Ciko kalau mau pulang, pulang saja. Sekalian gak usah datang kemari." Kata Aina dengan ketus, juga membuang mukanya.
"Baiklah, kakak akan pulang. Jaga diri kamu baik-baik ya, Kakak doakan, semoga kamu segera sembuh dan segera pulang." Ucap sekretaris Ciko dengan senyum, Aina tidak menanggapi.
Setelah itu, sekretaris Ciko berpamitan pulang .
"Terima kasih ya, Nak Ciko. Maafkan kami yang sudah merepotkan kamu, juga sudah membuat istri kamu marah." Ucap ibunya Aina.
"Ya, Nak Ciko. Terimakasih banyak atas kebaikan kamu yang telah sudi dengan keluarga kami." Timpal ayahnya Aina.
"Sama-sama, Pak, Bu. Kalau begitu saya pamit pulang." Jawab sekretaris Ciko, dan segera pulang.
Sedangkan di tempat kediaman keluarga Ningrat, kini tengah pemilik rumah tengah duduk di ruang keluarga sambil menunggu calon menantunya pulang.
Cukup lama menunggu, akhirnya datang juga sekretaris Ciko.
"Bilang aja betah di rumah sakit." Celetuk Landa saat baru saja datang.
Sekretaris Ciko langsung menoleh ke sumber suara.
"Maaf, Nona, kalaupun saya betah di rumah sakit, saya tidak akan pulang. Yang pasti saya akan menginap di sana, dan memilih untuk tidak pulang." Sahut sekretaris Ciko yang tidak peduli dengan ucapannya yang dapat membuat kesal.
"Landa, jaga bicaramu. Daripada kamu selalu memotong pembicaraan, lebih baik kamu kembali ke kamarmu dan segeralah istirahat. Karena dalam dua hari lagi, kamu dan sekretaris Ciko akan segera menikah. Mulai besok kamu akan dilarang keluar rumah, masuk lah ke kamar." Ucap sang ayah memberi perintah kepada putrinya, Landa sendiri berdecak kesal sambil menghentakkan kedua kakinya secara bergantian.
'Papa sama sekretaris Ciko itu sama aja, sukanya bikin jengkel dan juga kesal.' Batin Landa sambil menapaki anak tangga.
Sedangkan Tuan Herdi mempersilakan sekretaris Ciko untuk dipersilakan duduk.
"Silakan duduk, Nak Ciko."
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan." Jawab sekretaris Ciko dan segera duduk di hadapan calon ayah mertua dan ibu mertua.
"Maafkan kelakuan putri saya yang sudah membuat kamu geram, juga kesal. Bagaimana keadaan gadis yang bernama Aina itu? apa benar, bahwa kamu tidak mempunyai hubungan apapun dengannya?"
'Apakah Nona Landa tengah bercerita?' batin sekretaris Ciko yang mencoba untuk menebaknya.
"Tidak ada, Tuan. Saya dan Aina tidak mempunyai hubungan apapun, dan saya hanya menganggapnya seorang adik, itu saja dan tidak lebih. Jika Tuan kurang percaya, silakan tanyakan saja kepada suami adik saya yang bernama Gane." Jawab sekretaris Ciko meyakinkan.
"Saya lebih percaya dengan kamu daripada dengan ucapan orang lain, sekalipun dengan putri saya sendiri." Ucap Tuan Herdi.
'Benar dugaan aku, ternyata Nona Landa sudah banyak cerita, mungkin saja.'Batin sekretaris Ciko dengan tebakannya.
"Oh ya, Tuan. Sebelumnya saya mau meminta maaf, saya ingin bertanya sesuatu."
"Tanyakan saja,"
"Apakah Tuan bersedia untuk menunjukkan bukti-bukti mengenai asal muasalnya saya bersama keluarga saya?"
"Oh, soal itu. Baiklah, mari ikut saya ke ruangan privasi." Jawab Tuan Herdi dan mengajak sekretaris Ciko ke ruangan privasi miliknya.
Sedangkan ibunya Landa memilih tidak untuk ikut campur, dan lebih baik untuk kembali ke kamarnya.
Kini, tinggallah sekretaris Ciko bersama Tuan Herdi yang tengah berasa di ruangan privasi.
Sambil menunggu, sekretaris Ciko tetap dengan santun untuk tidak mengamati isi dalam ruangan tersebut. Mau bagaimanapun, sopan santun harus tetap dijaga, meski sudah menjadi orang yang dipercaya sekalipun.
"Ini, saya sudah temukan buktinya di dalam kotak rahasia." Ucap Tuan Herdi sambil menyodorkan bukti-buktinya yang masih tersimpan di dalamnya.
Sekretaris Ciko segera menerimanya, dan membuka kotak tersebut dengan penuh kehati-hatian.
Saat kotak tersebut dapat di buka, alangkah terkejutnya saat melihat banyak foto dan lembaran kertas mengenai tulisan tentang silsilah keluarga. Tidak hanya itu saja, ada surat-surat berharga lainnya termasuk harta warisan gono gini.
Dengan seksama, sekretaris Ciko membacanya. Dan benar saja, ternyata ada nama ayahnya, juga kakeknya.
__ADS_1
"Wicaksono Diningrat, kenapa aku baru tahu? ternyata benar surat wasiat ini, tertulis dengan begitu detail." Gumamnya.
Kemudian ia mengambil kotak kecil yang ada didalam kotak besar tersebut. Sekretaris Ciko yang penasaran, segera ia buka untuk melihatnya.