
"Mana kejutannya, Bos? awas saja ya, kalau kalian mengerjai kakak kamu ini." Kata sekretaris Ciko sambil berjalan penuh kehati-hatian.
"Tenang aja sih Bro, aman. Palingan juga kesel dikit, tapi seru loh." Jawab Gane yang tak pernah memanggil kakak iparnya dengan sebutan Kakak, justru dirinya lebih nyaman dan merasa akrab jika memanggilnya dengan sebutan seperti biasanya.
"Ya Kak, tenang aja. Bentar lagi sampai kok kejutannya." Timpal Nanney yang tengah berdiri di sebelah kanan kakaknya.
"Stop, jangan jalan lagi, entar nabrak." Kata Gane menghentikan langkah kaki kakak iparnya.
"Sudahlah, biar aku saja yang buka penutup matanya." Jawab sekretaris Ciko yang sudah tidak sabar ingin melihat kejutan apa yang sudah direncanakan oleh adiknya, juga adik iparnya.
"Eits, gak boleh Bro. Namanya juga kejutan, sabar dikit lah."
"Aih! kamu rupanya, Doin."
"Sudah, diam. Aku yang akan membukakan pengikatnya." Kata Gane yang hendak membuka penutup matanya.
"Happy birthday ...."
Ucapan yang tak pernah ia dengar sejak insiden kecelakaan pada kapal, membuat kenangan masa lalu dibuka kembali.
Sebuah bingkai foto yang berukuran besar telah terpajang di hadapannya, dari foto kedua orang tuanya, kedua orang tua adik iparnya, ada Gane, juga Regar, juga dirinya bersama adik perempuannya dalam foto masa kecilnya dahulu.
Saat itu juga, sekretaris Ciko meneteskan air matanya, antara bahagia dan bersedih. Begitu juga dengan Nanney dan Gane, keduanya langsung memeluk sekretaris Ciko penuh haru.
"Selamat ulang tahun ya, Kak.. maafkan Nanney yang bisa memberi hadiah yang berharga untuk kakak. Semoga kebahagiaan selalu bersama kakak, dan juga tidak salah dalam menentukan pilihan." Ucap Nanney sambil memeluk kakak kandungnya, juga ikut meneteskan air mata.
Sama halnya dengan Gane, dirinya ikut meneteskan air mata karena ikut merasakan apa yang menjadi kerinduan. Mereka bertiga sama-sama memiliki nasib yang sama, tak lagi mempunyai kedua orang tua sejak insiden kecelakaan pada sebuah kapal untuk liburan.
"Selamat ulang tahun ya, Cik. Maafkan aku yang sudah memberi kejutan untukmu yang justru membuatmu bersedih." Ucap Gane sambil memeluk kakak iparnya, dan melepaskan pelukannya, sama halnya dengan Nanney.
__ADS_1
Sekretaris Ciko yang tidak ingin menjadi malu, ia mengusap kedua matanya, agar tidak terlihat cengeng dihadapan adik perempuannya, juga adik iparnya.
"Terimakasih banyak ya, Bos, dan kamu Nanney, atas kejutan dari kalian. Kakak sangat senang, juga sangat terharu, rupanya kalian berdua masih mengingat tanggal lahir kakak."
"Semua ini juga karena adikmu, Cik. Justru itu, aku aja diminta untuk pulang lebih awal, dan mendadak harus ngerjain ini dan itu, makanya itu, aku minta Doin untuk membantuku." Kata Gane dengan jujur, dan tidak ada yang ditutupi.
Doin yang tengah berdiri tidak jauh jaraknya, segera mendekati sekretaris Ciko.
"Selamat ya, Bro. Maaf, aku tidak mempunyai kado yang istimewa untukmu. Hanya doa yang terbaik untukmu, semoga acara pernikahan kamu besok berjalan dengan lancar." Ucap Doin sebagai teman akrabnya.
"Thanks ya, Bro. Aku gak butuh hadiah dari kamu, yang terpenting setiap aku butuh kamu, selalu tepat waktu untuk datang."
"Hem, itu mah lebih dari sebuah kado istimewa, Bro."
"Itu mah udah menjadi derita Elu, Doin. Makanya buruan menikah, biar gak disuruh mulu sama si Ciko."
"Hus, jangan memberi saran untuknya, Bos. Nanti aku tidak mempunyai panggilan cepat, kalau Doin harus resign." Kata Ciko dengan tawanya yang nyerah.
"Tara ... kita potong kuenya dulu ya, habis itu kita makan bersama, ok." Ucap Nanney sambil membawa kue ulang tahun untuk kakak kandungnya.
Saat itu juga, Sekretaris Ciko mendadak membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna saat melihat kue ulang tahun yang membuatnya mengernyit.
Sedangkan Gane dan Doin justru menahan tawanya agar tidak pecah saat melihat kue ulang tahun milik sekretaris Ciko.
Dengan cepat kilat, sekretaris Ciko langsung menoleh ke arah Gane, dan bergantian ke arah Doin yang juga tengah menahan tawanya. Sedangkan Nanney tetap dengan senyuman manisnya saat melihat ekspresi kakaknya.
"Ini pasti idenya ..."
"Bukan aku, Cik, serius, ini ulahnya Doin. Tanyakan saja padanya, pasti ngaku." Kata Gane yang langsung melempar ke Doin.
__ADS_1
"Wah, kenapa harus aku, Bos. Bukan aku pelakunya, Cik. Wah si Bos ini, lempar batu sembunyi tangan ini. Gak bisa dibiarin ini." Ucap Doin kepada Gane dan juga ke sekretaris Ciko, yang mana dirinya tidak mau disalahin.
"Mentang-mentang fotonya masa kecil, terus ini kue harus motif doraemon, gitu. Cih, ini siapa lagi kalo bukan ulah si Bos Gane."
Gane nyengir kuda mendengarnya.
"Bukan begitu, Cik. Aku cuma mau menggantinya di masa lalu, itu saja. Maafkan aku yang dulu ya, aku gak tahu waktu itu kalau kuenya rusak karena aku." Jawab si Gane merasa bersalah dimasa kecilnya karena sudah merusak kue ulang tahun milik sekretaris Ciko diwaktu masih kecil.
"Gak apa-apa, Bos. Namanya juga anak-anak, ya udah aku potong kuenya." Ucap sekretaris Ciko segera meniup apinya saat semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
Setelah itu, sekretaris Ciko memotong kuenya dan memberikannya kepada adik perempuannya terlebih dahulu, kemudian ke Gane sebagai adik iparnya, dan dilanjutkan ke Doin, teman yang selalu ada.
Cukup lama ketiganya bersenda gurau bersama, tidak terasa sudah malam. Sekretaris Ciko yang harus banyak istirahat, juga harus membereskan kamarnya, ia segera pamit pulang bareng Doin, yang mana dirinya diminta untuk pindah rumah.
Doin dan sekretaris Ciko yang baru saja pulang ke rumah, terasa capek badannya, juga pikirannya yang mulai penat memikirkan pernikahannya yang tinggal satu hari lagi.
"Bro, apa gak sebaiknya kamu cari rumah saja."
Sekretaris Ciko langsung menoleh.
"Maksud kamu itu, aku harus mencari rumah baru, begitukah?"
"Ya bukannya aku gak mau pergi dari rumah ini, pasalnya rumah ini sepertinya tidak membuat nyaman untuk istrimu. Lihatlah, fasilitasnya saja kurang memadai." Kata Doin mencoba bicara dengan pelan, takutnya akan membuat kesal teman akrabnya.
"Biarin lah Cik, kalau memang Nona Landa bersedia menikah denganku, pasti tidak akan berkomentar tentang hidupku yang sederhana ini. Lagi pula aku bukan orang yang tajir, jadi aku memperlakukannya dengan kemampuanku sendiri." Jawab sekretaris Ciko sambil melepaskan jam tangannya.
"Benar juga sih apa yang kamu katakan itu, Cik. Ya udah kalau gitu, aku mau beres-beres barang-barang bawaanku. Kamu tidak perlu membantuku, lebih baik kamu istirahat saja. Lagian juga, aku sudah menghubungi orang suruhan untuk membantuku untuk membereskan kamar." Kata Doin.
"Yakin nih, kamu gak mau aku bantu? entar kamu bohong lagi."
__ADS_1
"Serius, aku gak bohong. Kalau kamu gak percaya, tunggu saja orangnya." Kata Doin.
Sedangkan sekretaris Ciko yang penasaran dan takut dibohongi oleh Doin, akhirnya menunggu orangnya sampai datang.