
Saat sudah berada di dapur, Landa hanya berdiri di belakang suaminya.
"Sarapannya dengan roti sama susu saja, bagaimana? soalnya kemarin aku lupa nyuruh Doin untuk berbelanja. Jadi, di dapur tidak ada apa-apa."
"Ya, tidak apa-apa. Roti sama susu juga sudah bikin kenyang kok." Jawab Landa sambil meraih roti panggangnya. Sedangkan sekretaris Ciko menuangkan susu dalam gelas, dan membawanya ke meja makan diikuti oleh istrinya.
Landa yang malu-malu, dirinya memilih untuk diam dan tidak banyak bicara saat menikmati sarapan paginya. Begitu juga dengan sekretaris Ciko, yang sama halnya menikmati sarapan paginya hanya dengan segelas susu dan roti panggang yang diolesi selai kacang.
"Kalau boleh tahu, keluarga kamu dimana? perasaan aku tidak mendapati kedua orang tuamu. Apakah ikut adikmu yang menikah dengan kakaknya Regar? atau lebih memilih untuk tinggal sendiri."
Sekretaris Ciko langsung mendongak dan menatap istrinya.
"Kedua orang tuaku sudah meninggal sejak usia saya masih kecil." Jawabnya.
"Maaf, bukan maksud aku untuk mengorek masa lalu kamu." Ucap Landa merasa tidak enak hati.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Nona. Lagi pula saya dan adik saya sudah berlapang dada untuk menerima musibah itu." Jawab sekretaris Ciko sambil mengunyah makanan.
"Terut berduka cita atas kepergian kedua orang tuamu. Soalnya aku sendiri tidak tahu, jadi aku beranikan diri untuk bertanya." Ucap Landa disela-sela mengunyah roti panggangnya.
"Terima kasih, Nona. Oh ya, setelah ini Nona segera bersiap-siap, saya akan mengajak Nona untuk jalan-jalan di sekitaran daerah sini, sesuai yang saya janjikan kepada Nona."
"Kalau kamu capek, di rumah saja juga gak apa-apa. Jugaan masih ada hari lainnya, takutnya kesehatan kamu akan terganggu setelah kemarin resepsi pernikahan kita." Ucap Landa yang begitu terasa kaku berbicara dengan suami sendiri.
"Tidak masalah, saya sudah terbiasa menghadapi kesibukan yang bisa dikatakan dua puluh empat jam untuk bekerja." Jawab sekretaris Ciko dengan santai.
Landa hanya tersenyum tipis, lantaran masih merasa canggung untuk berhadapan dengan suaminya.
"Biar saya yang akan membuka pintunya, Nona lebih baik kembali ke kamar untuk bersiap-siap, nanti saya akan menyusul."
"Ya, aku duluan." Jawab Landa yang bergegas meninggalkan suaminya.
__ADS_1
Sedangkan sekretaris Ciko yang tidak biasanya menerima tamu di pagi hari, tentu saja merasa penasaran dan juga heran.
"Siapa yang datang pagi-pagi begini, pasti Doin, biang perusuh itu anak. Siapa lagi kalau bukan Bos Gane yang sudah menyuruhnya." Gumamnya sambil berjalan menuju pintu utama.
Saat membuka pintu rumah, rupanya dikagetkan oleh sosok laki-laki dari postur tubuhnya tidak asing, siapa lagi kalau bukan Doin, sesuai tebakan Ciko sendiri.
"Mau ngapain kamu datang pagi-pagi begini, Bro?" tanyanya saat berhadapan dengan Doin.
"Aku mau ambil laptopku, kemarin aku lupa membawanya." Jawab Doin nyengir kuda.
"Kebiasaan kamu itu, bentar aku ambilin." Kata sekretaris Ciko yang langsung memutar balikkan badannya menuju kamar Doin.
"Cie ... yang udah punya istri, tidak ada ruang sekecilpun untukku." Ucap Doin meledek.
"Serah Elu, Bro. Makanya kamu buruan menikah, jangan jomblo terus, bisa karatan entar punya Elu." Sahut sekretaris Ciko sambil berjalan menuju kamar Doin untuk mengambil laptopnya.
__ADS_1
Saat itu juga, tanpa disadari oleh Ciko sendiri, rupanya sang istri masih berdiri di dekat kamar Doin. Ciko langsung terkejut melihatnya, tentu saja merasa malu dengan apa yang barusan ia ucapkan kepada Doin.
Tidak ada pilihan selain nyengir kedua yang bisa Ciko lakukan.