Bodyguard Pewaris Tunggal

Bodyguard Pewaris Tunggal
Khawatir


__ADS_3

"Ma," panggil Landa kepada ibunya saat tengah duduk bersantai di ruang keluarga.


"Ya, Nak, ada apa?"


"Landa mau ikut pulang bareng suami, eh maksudnya mau tinggal bareng suami Landa, Ma." Jawab Landa dengan malu-malu.


"Seriusan nih, sudah berubah pikiran? awas ya, kalau sampai ngambek kek tadi pagi. Ingat pesan Mama ya, jangan berprasangka buruk kepada suami kalau kamu belum mengetahui kebenarannya. Kalau mau menyelesaikan masalah, bicarakan dengan baik-baik." Kata sang ibu berpesan, tak lupa memberi nasehat kecil kepada putrinya.


"Ya, Ma. Landa sudah berubah pikiran, tadi pagi karena terbawa suasana aja. Jadi, Landa mudah emosi. Ya udah ya, Ma, Pa, kami berdua pulang dulu." Jawabnya, kedua orang tuanya pun mengangguk.


"Dan kamu Nak Ciko, besok jangan lupa hubungi Papa kalau kamu sudah dapatkan kabar soal Tuan Hardika." Ucap ayah mertua kepada menantunya.


"Ya, Pa. Kalau begitu kami pamit untuk pulang, Ma, Pa." Jawab Ciko.


"Hati-hati dalam perjalanan, jangan kebut-kebutan."


"Ya, Ma." Jawab Landa dan suami bersamaan.


Setelah berpamitan untuk pulang, keduanya segera meninggalkan rumah kediaman keluarga Ningrat.

__ADS_1


Dalam perjalanan, keduanya tidak ada yang bersuara. Selain malu-malu, keduanya juga merasa canggung untuk memulai obrolan.


Ciko yang sempat tidak fokus dalam menyetir, tidak memperhatikan jalanan yang ada di depan mata.


"Awas! Stop!" teriak Landa saat melihat seperti ada yang melintas di depan mobil.


Seketika, Ciko langsung mengerem mendadak.


"Astaga! untung saja selamat." Ucapnya serasa jantungan saat dirinya hampir saja menabrak orang yang tengah menyebrang jalan.


Dan beruntungnya, orang yang hampir tertabrak tidak memaki dan memberi sumpah serapah untuknya.


"Kamu kenapa? sepertinya gak konsentrasi gitu."


"Ya udah, biar aku aja yang nyetir mobilnya." Ucap Landa yang takut terjadi sesuatu dalam perjalanan.


"Gak usah, biar aku aja."


"Jangan bandel. Aku tahu kalau kamu sedang banyak pikiran, sini biar aku aja yang menyetir." Kata Landa yang tetap memaksakan diri untuk menyetir mobilnya.

__ADS_1


"Yakin kamu mau menyetir mobil?"


"Ya, serius."


"Baiklah, tapi pelan-pelan nyetirnya."


"Ya, tenang aja. Mau kebut, mau pelan, aku pun bisa."


"Gak jadi kalau gitu, entar yang ada kamu kebut-kebutan. Perempuan kan gitu kalau gak sabaran, bisa ngebut tanpa memikirkan keselamatan."


"Hem, gak gitu juga kali. Sudahlah, sini biar aku aja yang menyetir mobilnya." Kata Landa yang tetap bersikukuh untuk mengambil alih, alias tukar posisi.


Karena kondisi fisiknya yang tiba-tiba terasa tidak enakan, akhirnya Ciko menyerah dan mengizinkan istrinya yang menyetir mobilnya.


Selain itu, Ciko memilih untuk bersandar karena kepalanya yang mulai terasa penat dan juga suhu badan yang memulai panas.


Landa yang tengah fokus dengan setir mobilnya, sekilas menoleh pada suaminya. Karena penasaran dengan kondisi sang suami, Landa segera mengecek suhu badannya.


Tidak peduli jika suaminya kaget saat menempelkan telapak tangannya di bagian keningnya, setidaknya dapat mengetahui keadaan sang suami.

__ADS_1


"Panas banget badannya, jangan-jangan demam." Gumamnya saat memegangi kening milik suaminya.


Karena masih belum merasa puas, Landa memegangi anggota tubuh lainnya, termasuk lengannya.


__ADS_2