
Hanya beberapa menit saat bersenda gurau bersama kedua temannya, Landa diminta untuk mempersiapkan diri sebelum ikutan duduk bersama calon mempelai laki-laki.
Sekretaris Ciko yang masih dalam perjalanan menuju tempat resepsi, perasaannya campur aduk.
"Bro, jangan tegang gitu lah. Tenang saja, semua aman, sampai malam pertama." Ledek Doin sambil menyetir mobil.
Sekretaris Ciko langsung menoleh.
"Hem. Makanya buruan menikah, biar gak jomblo sendirian." Kata sekretaris Ciko.
"Kalau Doin mah gak usah diajarin, keknya lebih mahir dari pada kamu, Cik. Secara pacarnya Doin tuh banyak, tanya aja langsung sama orangnya." Ledek Gane pada Doin.
"Bos, jangan buka kartu. Gini gini juga masih perj_aka akunya, Bos." Kata Doin sambil menyetir, sampai ia lupa jika di belakang ada istri Bosnya.
Seketika, Doin selintas menoleh ke belakang, tentunya untuk melihatnya.
Saat itu juga, Doin nyengir kuda saat ia lihat istri Bosnya yang juga menatap dirinya.
"Maaf, Nona, biasalah kaum laki-laki. Kalau gak eror, ya tambah korslet." Ucap Doin yang akhirnya mengakuinya sendiri.
"Makanya kalau bicara itu lihat situasi, begini nih jadinya." Kata sekretaris Ciko sambil menatap lurus ke depan.
"Sudah, sudah, diam lah kalian ini. Sebentar lagi kita akan segera sampai." Ucap Gane untuk menghindari senda gurauan yang tentunya mengarah ke hal yang kotor, pikirnya.
Cukup lama dalam perjalanan menuju tempat tujuan, akhirnya telah sampai di tempat resepsi pernikahan sekretaris Ciko dan Saylanda.
"Cie ... yang sebentar lagi akan berubah statusnya, sudah sabar nunggu malam pertama ini pastinya." Ledek Doin saat sudah turun dari mobil, sedangkan sekretaris Ciko tidak menanggapinya.
"Aw! sakit, Bos." Pekik Doin saat pinggangnya dapat cubitan dari Bosnya.
"Berhenti dulu meledek Ciko, masih ada istriku." Ucap Gane dengan suara lirihnya, namun masih dapat untuk didengar oleh Nanney, istri dari Gane.
__ADS_1
"Eh iya, lupa akunya Bos."
"Hem."
"Sayang, sini." Panggil Gane pada istrinya. Kemudian, menggandeng tangan istrinya sambil berjalan menuju tempat untuk pengucapan kalimat sakral.
Begitu juga dengan Nenek Aruma, Beliau di dampingi oleh asisten rumah kepercayaan Gane untuk menjaga Nenek Aruma. Sedangkan Doin, dia beriringan dengan sekretaris Ciko berjalan paling depan.
Semua para tamu undangan dibuatnya heboh saat mempelai laki-laki sudah datang. Lebih lagi dengan para karyawan di kantor, sama halnya sangat terkejut melihatnya. Sungguh semuanya diluar dugaan, termasuk para karyawan yang sudah membicarakan soal sosok calon suami Bosnya.
"Apa! sekretaris Ciko yang menjadi calon suaminya Bos Landa? oh ... tidak mungkin."
Semua karyawan terus memperhatikannya dengan jelas, takutnya apa yang dilihat tidaklah benar.
Namun, kenyataan memanglah kenyataan, jika sekretaris Ciko itu calon suami Bosnya mereka semua.
"Jadi, sekretaris Ciko orangnya. Pantas saja, tidak kelihatan." Ucap salah satu karyawan yang merasa patah hati saat melihat kebenarannya.
"Wel, sebenarnya siapa sih yang jadi calon suaminya Landa? serius, aku belum tahu."
"Memangnya kamu aja apa, Nai. Aku juga penasaran loh, tapi aku lebih penasaran lagi dengan supirnya Landa. Tau gak, ganteng banget orang. Pokoknya nih ya, kamu pasti akan jatuh cinta. Tapi maaf, sudah menjadi incaran aku. Tapi, aku kok gak melihatnya ya. Apa dianya belum datang? ganteng banget tau, Nai." Ucap Wela yang tiba-tiba teringat dengan sosok supir ganteng punya temannya.
"Ah kamu mah gitu, ada barang baru juga langsung kamu embat. Eh tapi aku juga penasaran dengan supirnya Landa, sampai sampai kamu tergila-gila gitu." Kata Naila saat mendengar ucapan dari Wela.
"Nanti aku tanyain sama Landa, mungkin dianya tau. Kalau untuk namanya sih, aku sudah kenalan, namanya Ciko."
"Wah, rupanya kamu udah kenal juga. Mana coba orangnya, atau gak kamu tanya aja sama Landa. Mumpung sekarang ini belum dimulai."
"Belum mulai gimana maksud kuamu, itu apaan rame-rame. Yuk ah, kita ke sana, kita lihat, sepertinya calon suaminya Landa sudah datang, ayo buruan ke sana.
Jawab Wela yang langsung menarik tangan Naila cukup kuat untuk melihatnya.
__ADS_1
Saat rombongan calon mempelai laki-laki semakin mendekat, Wela maupun Naila sama-sama antusias untuk melihat calon suami temannya.
"Ci-ko! what!"
"Serius, kamu."
"I-i-ya, Nai. Kenapa supirnya Landa yang menikah, oh ... tidak, ini pasti cuma mimpi kan, Nai." Jawab Wela sambil menepuk-nepuk kedua pipinya yang mencoba untuk memastikan bahwa dirinya itu mimpi apa benar kenyataan, pikirnya.
"Ini nyata, Wel. Kok kamu malah gak tahu sih, aih." Kata Naila.
Wela masih dengan napasnya yang terasa ngos-ngosan, lantaran begitu shock saat melihat sekretaris Ciko yang akan menjadi suami sahabatnya.
"Makanya kalau mau naksir orang itu harus dicermati, mana ada si Landa mau mengakui didepan kamu."
"Serius Nai, aku benar-benar kaget. Landa tega ya, ngerjain aku. Benar-benar itu anak ya, perlu kita kerjain nanti malam." Kata Wela yang merasa dikerjain sama Landa, yakni mengenai ketidakjujurannya terhadap dirinya yang mengakui calo suaminya dianggap supir.
Wela langsung membuang napasnya dengan kasar, lantaran seperti mendapat kaleng kosong.
Sedangkan di tempat yang sudah siapkan untuk kedua mempelai, Landa dan sekretaris Ciko tengah duduk berdekatan. Keduanya nampak saling diam, malu dan canggung itu sudah pasti.
Karena tidak ingin waktu terbengkalai, acaranya pun segera dimulai. Sekretaris Ciko yang memang sudah memantapkan diri untuk menikah, dirinya berusaha untuk bersikap tenang, agar dirinya tidaklah grogi saat mengucapkan kalimat sakral di hadapan para saksi atas pernikahan dirinya dengan Landa.
Kalimat demi kalimat dan dengan pengucapan yang cukup jelas, sekretaris Ciko akhirnya dengan berani mengucap kalimat sakral tanpa perasaan gugup, benar-benar terlihat sangat tenang.
Semua para saksi tengah menyaksikannya langsung saat pengucapan kalimat sakral telah terucap oleh sekretaris Ciko, semuanya merasa lega saat semuanya berjalan dengan lancar. Dan kini, Saylanda telah sah menjadi istrinya sekretaris Ciko Wicaksono. Lelaki yang sekarang ini telah mempunyai tanggung jawab besar kepada istrinya, Saylanda Ningrat.
'Tugasku akhirnya sudah selesai, mereka berdua sudah menikah. Satu lagi, penyerahan wasiat selanjutnya. Semoga semuanya akan berjalan dengan lancar, dan tidak ada yang menghalangi mereka berdua untuk bahagia.' Batin Tuan Herdi saat dirinya sudah menikahkan putrinya kepada putra dari keluarga Diningrat.
Tuan Herdi merasa sangat lega, lantaran wasiatnya sudah terwujud. Tetapi tidak untuk yang ada di luar acara resepsi, seseorang yang tengah membenci keluarga Ningrat, kini telah mengepal kuat tangannya.
"Tunggu saja tanggal mainnya, aku pastikan semua akan hancur berantakan." Ucapnya lirih sambil mengepal kuat kedua tangannya.
__ADS_1