Bodyguard Pewaris Tunggal

Bodyguard Pewaris Tunggal
Terpaksa berbohong


__ADS_3

Saat itu juga, Landa langsung membenarkan posisinya dan menatap lurus ke depan. Dirinya takut jika melihat dada bidang milik sekretarisnya itu.


Ciko yang mengerti akan hal itu, tetap tidak dengan buru-buru saat mengenakan baju kemejanya yang berwarna putih, dengan lengan yang di linting sampai ke siku tangannya. Tentu saja terlihat begitu tampan dan mempesona.


"Sudah, Nona." Ucap sekretaris Ciko selesai mengganti pakaiannya.


Dengan hati-hati takut dikerjai oleh sekretarisnya, Landa menoleh ke arah samping dengan pelan. Takutnya, jika kenyataannya hanya dikerjai semata.


"Kita jadi gak nih, maksudnya ke rumah teman Nona."


"I-i-ya, ke rumah teman saya, si Wela. Tapi ingat, kamu gak boleh ganjen. Awas loh, aku bakal mengadu." Jawab Landa yang entah ada angin dari mana, mulai memberi larangan untuk sekretarisnya itu.


Sekretaris Ciko mengangguk.


"Baik, Nona. Jangan khawatir, saya akan fokus menjaga Nona."


"Baguslah, awas saja kalau sampai bohong." Ucap Landa dengan ketus.


"Saya tidak bohong, serius. Oh ya, tadi Nona belum menjawab pertanyaan dari saya. Memangnya yang melukai punggung Nona itu siapa?"


"Aku gak tahu, kenal juga gak. Sudahlah jangan dibahas, dia sepertinya kalau udah besar tidak akan menjadi lelaki yang bertanggung jawab."


"Kok Nona tahu, maksudnya Nona punya anggapan yang seperti itu. Ya mungkin saja itu anak terburu-buru, Nona kan gak tahu." Kata sekretaris Ciko.


"Ya setidaknya gak kabur gitu. Sudahlah, ngapain bahas orang yang gak aku kenal. Aku tuh pingin ngilangin se_tres, bukan nambah pikiran. Pokoknya kalau aku bertemu dengan laki-laki yang udah bikin luka di punggungku ini, aku gak bakal maafin orangnya." Ucap Lahda, seketika si sekretaris Ciko langsung menyalakan mesin mobilnya.


Tidak ingin semakin bertambah pikiran dan salah bicara, sekretaris Ciko melajukan mobilnya.


"Nona apa gak keganggu nih, bawa teman ke pantai?" tanya sekretaris Ciko untuk mengalihkan pembicaraan mengenai luka yang ada di punggung milik Bosnya.


"Aku gak bisa nolak, soalnya dia teman akrab ku. Gak apa-apa deh ngajak dia. Cuma ya itu, kamunya jangan ganjen. Dia tuh, kalau ada cowok yang ia taksir, gak peduli siapapun orangnya." Jawab Landa sambil menatap lurus ke depan.


"Oh, bagus dong prinsipnya. Berarti teman Nona tidak memandang status ataupun yang lainnya."


"Nyindir nih."


"Kok nyindir, memangnya ucapan saya ini ada kalimat yang nyindir? saya rasa tidak deh."


"Hem. Terserah kamu saja lah, ribet jika harus jelasin sama kamu."

__ADS_1


Sekretaris Ciko lebih fokus dengan setirnya, dan tidak terasa sudah sampai di rumah Wela.


Saat itu juga, rupanya si Wela sudah menunggu didepan pagar rumahnya.


"Ayo masuk, Wel." Ajak Landa saat membuka kaca jendela pada mobil.


Wela menggelengkan kepalanya, seraya menolak.


"Aku ada urusan dengan keluar, Lan. Lain kali aja aku ikut kamu ke pantai, soalnya ibuku ada urusan dengan ayahku. kamu berangkat aja."


"Kedua orang tua kamu bertengkar lagi, ya? maaf juga ya Wel. Aku juga ada masalah, tapi tidak sekarang aku ceritainnya sama kamu, kapan-kapan aja. Aku do'ain, semoga segera diselesaikan urusan kamu dengan kedua orang tuamu. Kalau kamu butuh apa-apa, hubungi aku saja."


"Ya, Lan. Ya udah ya, aku mau bersiap-siap." Ucap Wela karena harus buru-buru untuk masuk ke dalam rumah.


Landa mengangguk, dan meminta sekretarisnya untuk melanjutkan perjalanannya.


"Kasihan banget ya si Wela, punya keluarga gak harmonis."


"Namanya juga berkeluarga, macam-macam permasalahan disetiap rumah tangga. Jangankan rumah tangga, yang masih pacaran saja terkadang bertengkar." Kata sekretarisnya.


"Tuh kan, kamu nyindir aku lagi. Bilang aja loh, kamu sendiri ada masalah, sok bijak mau memberi pertolongan,sedangkan kamu gak bisa menyelesaikan masalah kamu sendiri, gitu."


"Siapa yang nyindir Nona, saya kan mengibaratkan saja. Kenapa Nona yang emosi? hem."


"Ya maaf, saya tidak tahu, Nona."


"Terlambat."


"Terus, saya harus bagaimana? meminta maaf sudah, tapi tidak berlaku karena terlambat. Ya udah, nanti saya traktir Nona untuk menikmati makanan seafood."


Saat itu juga, Landa senyum berbinar saat mendengarnya.


"Awas loh ya, kalau sampai kamunya itu bohong."


"Ya, nanti saya akan tepati janji." Jawab sekretaris Ciko.


Landa yang sudah tidak sabar untuk menikmati sunset di tepi pantai, ingin rasanya meluapkan kekesalannya dan segala emosinya karena ditinggal menikah oleh kekasihnya yang sudah ia percaya akan kesetiaannya.


Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya sampai juga di tempat yang dituju.

__ADS_1


"Wah ... pantainya indah sekali. Kamu pintar ya, pilih pantainya. Tapi herannya tuh, kamunya masih jomblo. Jadi, pantai ini gak berkesan buatmu." Ucap Landa merasa takjub dengan tempat yang ia kunjungi.


Sedangkan sekretaris Ciko tak menanggapinya, ia segera turun dari mobil. Kemudian, ia membukakan pintu mobil untuk Bosnya.


"Silakan turun, Nona." Ucap sekretaris Ciko saat pintu mobil sudah terbuka.


Landa yang sudah tidak sabar, cepat-cepat untuk turun dari mobilnya.


Saat keduanya berjalan beriringan, tak ada yang menyangka jika keduanya adalah antara sekretaris dan Bosnya. Justru, sangkakan orang lain itu, mereka berdua sepasang suami istri yang begitu serasi.


Ditambah lagi dengan penampilan sekretaris Ciko, menambah karismatik untuknya. Badan yang tinggi juga terlihat atletis.


Sayangnya, keduanya tidak bergandengan tangan.


"Landa," panggil seseorang yang tengah mengagetkannya saat hendak berpapasan.


"Niko." Ucap Landa yang juga ikutan memanggil nama orang tersebut.


"Siapa lelaki ini?" tanya Niko sambil menunjuk pada sekretaris Ciko.


Dengan cepat, Landa langsung menyambar tangan milik sekretarisnya. Kemudian ia menggandeng mesra di depan Niko, yakni layaknya pasangan suami istri.


"Dia suami aku, kenapa?"


Niko tiba-tiba mengernyit, heran tentunya.


"Suami kamu? kapan nikahnya?"


"Sudah satu minggu yang lalu, Nikah mah dimana aja. Nanti aku bakal kasih undangan pernikahan aku dengannya." Jawab Landa sambil bergelayut manja pada sekretarisnya.


Tidak peduli jika harus melakukan hal tersebut, karena ujungnya juga bakal menjadi suaminya, pikir Landa.


"Terus, hubungan kamu sama Alex gimana?"


"Putus. Dia juga udah nikah, 'kan? aku juga sudah tahu. Makanya, aku juga ikutan nikah." Jawab Landa meyakinkan.


"Gak percaya aku, kalau kamu sudah menikah. Sudahlah, jangan tutup tutupin. Mendingan kamu jujur saja, nanti aku yang akan menikahi kamu." Kata Niko dengan berani.


"Jaga bicaramu," sahut sekretaris Ciko ikut bicara.

__ADS_1


"Sudahlah sayang, ayo kita pergi. Gak penting nanggepin dia, ayo pergi." Ucap Landa dengan asal saat memanggil sekretarisnya, juga menarik tangannya.


Sekretaris Ciko sendiri hanya mengikutinya, tentu saja agar terhindar dari orang yang bernama Niko.


__ADS_2