Bodyguard Pewaris Tunggal

Bodyguard Pewaris Tunggal
Tidak sabar


__ADS_3

Rasa penasaran yang menggebu ingin mengetahui kebenarannya, langsung bergegas keluar untuk menemui kakak iparnya bersama Tuan Herdi yang tengah menunggunya di luar.


"Bagaimana Tuan Gane?" tanya Tuan Herdi.


"Didalam rupanya ada yang membesuknya, yang tidak lain adalah kedua orang tua Aina." Jawab Gane tanpa ada yang ditutupi.


"Apa! kedua orang tua Aina? kamu sedang tidak bercanda kan, Bos?"


Ciko begitu terkejut mendengarnya. Tanpa pikir panjang, langsung masuk kedalam untuk melihatnya langsung.


"Ciko! Kau mau ngapain masuk kedalam." Teriak Gane memanggil kakak iparnya.


Saat itu juga, Tuan Herdi maupun Gane ikut mengejar Ciko yang tengah berlari masuk ke dalam untuk melihatnya langsung.


"Aw!" pekik Aina saat dirinya tabrakan dengan Ciko.


"Aina!"


"Kak Ciko." Sebut Aina dengan nama Ciko, dan langsung memeluknya.


"Lepaskan! Aina!"


Kali ini Ciko benar-benar murka dan marah besar terhadap perempuan yang sudah dianggapnya keluarga.

__ADS_1


Dengan tenaganya yang begitu kuat, Ciko mampu melepaskan pelukan dari Aina. Tentu saja, membuat Aina merasa heran.


"Nak Ciko, kamu ke lapas ada perlu apa?" tanya ayahnya Aina.


"Ya, Kak Ciko kemari mau menemui siapa?" tanya Aina sambil menatapnya.


Saat itu juga, Gane memberi kode pada kakak iparnya.


"Tidak apa-apa, saya hanya mau menemani adik ipar Kakak untuk membesuk Pamannya. Maaf, Kakak buru-buru. Dan untuk Bapak dan Ibu, permisi." Jawab Ciko dan langsung masuk ke dalam untuk berpura-pura untuk menemui Tuan Pras, juga diikuti oleh Gane maupun Tuan Herdi.


Sedangkan Aina bersama kedua orang tuanya merasa lega, lantaran tidak ketahuan saat jam besoknya diketahui.


"Syukurlah, kita masih selamat." Ucap ayahnya Aina merasa tenang.


"Tapi kenapa, Nak?"


"Apa Papa tidak melihat sikap Kak Ciko sama Aina? kasar dan juga galak."


"Apa kamu tidak melihat juga, kalau tadi itu ada ayah mertuanya. Tentu saja menjadi galak terhadap dirimu, gimana sih kamu ini."


"Tapi, Pa, apa mungkin kita itu bisa menghancurkan dua keluarga? Papa juga, kenapa harus menyanggupi maunya Paman Pras. Sudah tau itu orang udah gila, bisa-bisanya meminta Aina untuk jadi depresi."


"Kalau tidak seperti itu, mana bisa kita jadi orang kaya."

__ADS_1


"Papa aja yang pemalas, maunya dapat besar. Nyatanya tidak bisa menjadikan diri Papa kaya. Paman Pras aja gagal total untuk menguasai harta milik orang tua angkatnya. Udah gitu mau merebut harta keluarga Diningrat. Macam dendam yang gak berguna." Kata Aina yang merasa terbebani atas kehendak orang tuanya.


"Sudahlah, tinggal ikutin aja perintah dari Paman kamu itu. Nanti kalau berhasil, kamu juga yang menikmati."


"Ya kalau gak di penjara, kalau berakhir di jeruji besi mau kek mana?"


"Ya nih Papa, sudahlah mendingan gak usah nuruti kemauan si Pras. Lagi pula kalian berdua hanya saudara tiri, percuma hanya untuk dijadikan alat oleh Prasetyo. Dia itu sangat licik, apa Papa lupa dengan kematian keluarga yang sudah mengangkatnya menjadi anak dari keluarga Huttama?"


Malas menanggapi ucapan dari anak dan istrinya, Pak Bunan langsung pergi begitu saja, dan disusul oleh Aina dengan ibunya.


Sedangkan Ciko tetap memaksa untuk menemui Tuan Prasetyo yang berada di balik jeruji besi.


"Maaf, jam besuk sudah habis. Besok lagi kalau mau membesuknya."


"Tapi, Pak, ini sangat penting." Kata Ciko yang sudah tidak sabar untuk masuk kedalam menemui Tuan Pras.


Gane yang tidak ingin terjadi keributan, langsung menahan Ciko agar tidak mudah terpancing emosinya.


"Ciko, lebih baik kita pulang. Percuma kamu menemui Pama Prasetyo, tidak ada gunanya sama sekali. Yang harus kita temui itu adalah Pamanku yang bernama Hardika." Ucap Gane sembari memberi saran untuk kakak iparnya.


"Benar, Nak Ciko. Yang dikatakan Tuan Gane ada benarnya, sebaiknya kita temui Tuan Hardika." Timpal ayah mertuanya.


Perlahan, Ciko mulai mereda dan tidak menggebu untuk menemui Tuan Prasetyo.

__ADS_1


__ADS_2