
Terasa begitu lamanya berada didalam kantor hanya seorang diri, membuat sekretaris Ciko merasa kesepian saat tidak ada sosok perempuan yang ia dapati saat menyelesaikan pekerjaannya.
Saat itu juga, terdengar suara bel pintu tengah mengagetkannya. Sekretaris Ciko langsung bangkit dari posisinya, dan melihat siapa orangnya.
"Permisi, Pak sekretaris Ciko. Maaf, jika saya sudah mengganggu. Di ruang tunggu ada seorang laki-laki yang tengah menunggu."
"Siapa?" tanya sekretaris Ciko penasaran.
"Tuan Rafaza Anggara." Jawabnya.
"Baik, saya akan menemuinya. Katakan padanya, suruh menunggu sebentar." Perintah sekretaris Ciko.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi." Jawabnya sekaligus berpamitan, sedangkan sekretaris Ciko segera melihat dan menemui seseorang yang ingin bertemu entah dengan siapanya.
Saat sudah berada di ruang tunggu, sekretaris Ciko dikejutkan dengan seorang laki-laki yang tengah menunggu.
"Tuan Rafaza, saya kira siapa. Maaf, ada perlu apa Tuan datang ke kantor ini? apakah ada kesalahan mengenai kerja sama?"
Rafaza langsung bangkit dari posisi duduknya.
"Tidak kesalahan apapun mengenai kerja sama, tetapi kedatangan saya kemari hanya ingin bertemu dengan Bos kamu, Saylanda."
"Memangnya tadi Tuan tidak diberitahu mengenai Bos Saylanda?"
"Sudah, katanya tidak berangkat kerja. Makanya saya meminta agar kamu menemuiku."
"Memangnya ada masalah apa, Tuan? maksud saya mengenai Nona Landa. Maaf, saya sampai lupa, silakan duduk kembali, Tuan."
Rafaza mengangguk dan segera duduk. Setelah keduanya saling berhadapan, Rafaza mencoba untuk membuka suara terlebih dulu.
"Langsung saja, saya ingin menanyakan sesuatu hal padamu. Kalau boleh tahu, apa benar Bos kamu itu akan menikah?"
Sekretaris Ciko mengangguk.
"Ya, Tuan, benar. Nona Landa akan menikah dua hari lagi." Jawab sekretaris Ciko menjawabnya dengan santai, meski sebenarnya dialah pengantin laki-lakinya.
"Jadi benar, jika Landa akan menikah?" tanyanya lagi untuk memastikan, takutnya hanya sebuah isu semata.
"Benar, Tuan."
__ADS_1
"Sama siapa?" tanyanya lagi ingin tahu siapa calon pengantin laki-lakinya.
"Tuan ingin tahu?"
"Ya, saya ingin tahu."
"Pesan dari Tuan Herdi, tidak ada satupun yang tahu kecuali calon pengantin laki-laki sendiri bersama keluarga Ningrat. Selain itu, semua tidak diizinkan untuk mengetahuinya."
"Apakah termasuk diri kamu?"
"Ya, Tuan. Lebih baik Tuan Rafaza datang ke acara pernikahan Nona Landa, jika Tuan ingin mengetahui kebenarannya." Jawab sekretaris Ciko.
'Si_al! ini sekretaris juga tidak mau membocorkan, gak mungkin jika dia ini tidak tahu. Sungguh, benar-benar susah untuk di terima jawabannya.' Batin Rafaza merasa geram.
"Serius kamu gak tahu?"
"Serius, Tuan." Jawab sekretaris Ciko terpaksa harus berkata bohong, karena tidak mungkin juga jika dirinya adalah calon suami Bosnya sendiri.
"Baiklah, kalau begitu saya mau langsung pamit pulang, permisi." Ucap Rafaza langsung berpamitan.
"Ya, Tuan. Maaf, jika saya sudah mengecewakan."
Rafaza hanya mengangguk, dan bergegas untuk keluar tanpa berucap sepatah katapun.
Baru saja masuk, sudah dikagetkan lagi dengan suara ponselnya yang berdering. Kemudian, ia langsung meraih ponselnya dan menerima panggilan masuk.
"Ya, nanti aku mampir ke rumah." Jawab sekretaris Ciko yang baru saja menerima panggilan telepon dari seseorang, siapa lagi kalau bukan adik iparnya.
Waktu terasa begitu lama saat berada di kantor, termasuk makan siang hanya seorang diri, dan tidak seperti hari hari biasanya.
"Akhirnya selesai juga pekerjaanku, untuk hari besok aku hanya absen saja di kantor ini. Semoga saja tidak ada sesuatu kendala apapun di hari pernikahan." Gumamnya sambil merapikan meja kerjanya.
Setelah semua sudah tertata dengan rapi, sekretaris Ciko segera pulang ke rumah adik iparnya.
"Pak sekretaris Ciko, tumben sendirian aja nih. Boleh dong, aku temani Bapak." Sapa seorang karyawan perempuan saat jalan beriringan dengan sekte Ciko.
"Maaf, saya buru-buru. Kamu bisa menemani karyawan yang lainnya, permisi." Jawab sekretaris Ciko yang tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, dan segera mempercepat langkah kakinya.
Sedangkan perempuan yang mendapat penolakan dari sekretaris Ciko, seolah merasa dibuatnya malu.
__ADS_1
"Cie ... gagal nih dapetin sekretaris Ciko. Eh, maksud aku gagal deketin si abang ganteng, dan berkharisma." Ledek salah seorang temannya sendiri.
"Dih! apa-apaan sih Lu, ember. Tau tuh si sekretaris Ciko kek alergi perempuan gitu, sampai sampai langsung menghindari aku. Perasaan akunya gak jelek-jelek amat deh, segitunya dia denganku. Awas saja besok, aku gak mau menyerah. Apapun caranya akan aku dapetin dia."
"Hem. Jangan ketinggian ngarepnya, entar sakit hati loh."
"Sakit hati itu sudah lumrah, Nil."
"Ya sih, ngarep itu perlu. Tapi menurutku jangan-jangan sekretaris Ciko itu sukanya yang sama gentengnya, buka cantiknya kamu."
"Kalau pun iya, apa perlu aku yang jadi pelakornya?"
"Gile, Lu. Sudahlah, ayo kita pulang. Biasanya kalau gantengnya kelewatan itu penuh tanda tanya, ngeri ah."
"Itu kan, menurut kamu. Kalau menurut aku sih, sekretaris Ciko itu gak seperti yang kamu sangkakan, dia normal menurutku."
"Aku kan hanya mengingatkan kamu saja, soal normal apa enggaknya sih, aku gak tahu. Yang jelas, Berhati-hatilah jika memilih seseorang untuk kamu jadikan pasangan kamu. Sudah ah, yuk kita pulang."
"Ya sih, ya udah kita pulang." Jawabnya, dan keduanya bergegas pulang.
Di lain sisi, sekretaris Ciko tengah dalam perjalanan menuju rumah utama adik iparnya dengan mengendarai motornya. Tidak lama kemudian, akhirnya sampai juga dihalaman rumah yang begitu luas.
"Tumben sampai sore gini baru pulang, ayo masuk. Istriku sudah menunggu, buruan ayo masuk." Ucap Gane saat tengah berada di depan rumah, dan kebetulan kakak iparnya baru saja datang.
"Kerjaan aku numpuk, Bos. Tau sendiri kan, Bos aku libur. Jadi, siapa lagi yang harus menyelesaikan pekerjaannya kalau bukan aku sendiri. Memangnya ada acara apaan sih, sampai mendesakku begitu."
"Tidak ada acara apapun, adanya kejutan untuk kamu. Sudahlah, ayo masuk."
"Kejutan untukku, kejutan apaan? Doin ada juga, 'kan?"
"Ada didalam, ayo masuk."
"Hem. Awas saja kalau sampai ada rencana yang enggak enggak, bakal aku tinggal balik kalian. Satu lagi, aku gak akan pernah main lagi ke rumah ini lagi."
"Ya sih Cik, tenang saja. Aku bisa menjamin, tidak akanada apa-apa didalam rumahku ini. Syaratnya tutup kedua mata kamu dengan kain, ok."
"Jangan bilang kalau kamu itu mau mengerjai aku, Bos."
"Gak ada yang mau mengerjai kamu, Cik. Sudahlah, tutup dulu kedua mata kamu." Ucap Gane mencolok untuk membujuk kakak iparnya.
__ADS_1
Sekretaris Ciko yang tidak mempunyai pilihan lain, mau tidak mau akhirnya menurutinya.
Saat kedua matanya tertutup dengan sempurna, sekretaris Ciko berjalan dengan sangat kehati-hatian, meski sudah dibantu oleh adik iparnya sendiri, tetap perlu hati-hati agar tidak terjatuh.