
Ketika perutnya sudah kenyang dengan sup ayam buatan suaminya, Landa tidak lagi merasakan keroncongan pada perutnya.
"Biar saya saja yang membereskannya, Nona." Ucap sekretaris Ciko sambil meraih mangkok yang ada di hadapan istrinya.
Naas, Landa sudah sigap menahan mangkoknya.
"Aku masih bisa melakukannya kok, kamu kalau mau istirahat, istirahat saja dulu. Nanti aku menyusul, lagi pula hanya mencuci mangkok saja, tidak berat, dan aku bisa melakukannya sendiri." Jawab Landa yang merasa tidak ingin selalu merepotkan suaminya, meski itu hal kecil atau yang lainnya.
"Baiklah, jika Nona memaksa."
"Ya, aku memang memaksa. Ya udah, kamu balik aja ke kamar, nanti aku nyusul kok." Kata Landa.
Suaminya mengangguk.
"Kalau gitu saya duluan, mari."
"Ya, silakan." Ucap Landa yang juga dengan anggukan.
Setelah tidak ada lagi bayangan suaminya, Landa dapat bernapas lega. Akhirnya dirinya dapat menghindari suaminya, karena merasa salah tingkah untuk berhadapan dengan suami sendiri.
"Akhirnya aku bisa bernapas lega. Ternyata menikah dalam perjodohan itu tidaklah mudah untuk aku jalani, seolah aku sedang berhadapan dengan rekan kerjaku. Entahlah, aku bisa atau enggak untuk menjalani hubungan pernikahan ini." Gumamnya sambil memegangi mangkok yang belum juga ia cuci.
__ADS_1
Sedangkan sekretaris Ciko yang sudah berada di dalam kamar, dirinya duduk di kursi sambil menyibukkan diri dengan layar laptopnya.
Baru saja mau mengetikkan sesuatu, tiba-tiba ponsel miliknya berdering. Dengan sigap, langsung meraihnya dan menerima panggilan masuk.
Namun, tiba-tiba niatnya diurungkan, lantaran istrinya yang baru saja masuk ke kamarnya.
"Kok diabaikan?" tanya Landa sambil berjalan mendekati sang suami yang pada saat itu juga tengah melihat bahwa suaminya tengah meraih sebuah ponsel yang ada didekat laptopnya.
Landa yang sama sekali tidak peduli jika harus seperti orang yang menginterogasi suaminya, yang terpenting hilang sudah rasa penasarannya.
"Bukan siapa-siapa, hanya orang kurang kerjaan. Kalau Nona ingin istirahat, istirahat aja dulu. Saya masih ada tugas yang harus diselesaikan, soalnya besok pagi saya harus siap semuanya." Jawabnya yang masih kedengaran layaknya karyawan dengan Bosnya.
Landa hanya mengangguk saat mendengar ucapan dari suaminya, dan ia menuju tempat tidur yang berukuran tidak begitu besar seperti milik tempat tidurnya.
Tidak peduli baginya jika sang suami belum juga tidur, dan memilih untuk menyibukkan diri dengan laptopnya. Landa sendiri lebih memilih untuk diam, lantaran merasa malu untuk mengajak suaminya tidur bersama. Lebih lagi dengan status pernikahan yang tidak ada rasa cinta oleh keduanya, tentu saja membuat keduanya sama canggungnya.
Yang pastinya, Landa juga tidak mau dikatain perempuan yang suka mengejar laki-laki, lebih lagi pernah mengatakan bahwa dirinya menolak mentah-mentah suaminya, tentu saja harus menjaga sikapnya untuk menjaga gengsinya. Sesuatu yang lumrah, yakni obrolan yang biasa biasa saja, pikirnya.
Malam semakin larut, rupanya sekretaris Ciko baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Kemudian, segera membereskan mejanya.
Saat hendak bangkit dari tempat duduknya, pandangannya tertuju ke arah istrinya yang terlihat tengah tidur pulas, merasa bingung untuk tidur dimana.
__ADS_1
'Apa iya, aku tidur disebelahnya? aku rasa itu tidak mungkin. Nona Landa pasti akan terganggu tidurnya, secara aku bukanlah lelaki pilihannya. Ah, apakah seperti ini rasanya Bos Gane saat menikahi adikku? tapi kan, beda kasusnya.' Batin sekretaris Ciko saat berpikir untuk tidur di mananya.
Merasa serba salah saat mau tidur, sekretaris Ciko memilih untuk mencuci mukanya dan menggosok gigi serta ritual lainnya sebelum tidur.
Setelah keluar dari kamar mandi, pelan-pelan berjalan mendekati tempat tidur.
Naas, rupanya sang istri berpindah posisi miring ke arahnya. Saat itu juga, Landa membuka kedua matanya perlahan.
"Kamu belum tidur?" tanya Landa sambil bangkit dari posisi tidurnya, dan duduk bersandar.
"Baru saja mau tidur, Nona kenapa bangun?"
"Terbangun saja," kata Landa sambil menutup mulutnya karena menguap.
"Kalau Nona tidak nyaman tidur bareng dengan saya, biar saya yang akan tidur di kamar yang satunya."
"Gak apa-apa kok, aku nyaman aja. Tadi kan, aku sudah bilang kalau aku maunya ditemani, aku takut lampunya mati lagi."
"Nona seriusan?"
Landa mengangguk, tanda mengiyakan atas jawabannya.
__ADS_1
"Aku serius. Karena selain takut, aku juga baru pertama kalinya tidur di tempat lain. Jadi, aku butuh pengenalan untuk beradaptasi di rumah ini." Kata Landa yang tidak tahu harus ngomong apa.
"Baiklah, saya akan tidur bareng Nona." Jawab suaminya yang tidak bedah jauh tengah bicara dengan atasannya.