
Pagi hari yang sudah menjadi aktivitas Landa untuk berangkat ke kantor, merasa bosan dan tidak ada semangat untuk berangkat bekerja.
Suara ketukan pintu yang kedengaran begitu berisik, Landa bergegas bangun untuk menekan tombol yang ada didekat tempat tidurnya. Pintu kamar terbuka dengan sendiri, Landa kembali meringkuk. Tidak peduli siapa orangnya yang datang, sekalipun itu sekretarisnya.
Namun, rasa penasaran membuatnya ingin tahu siapa yang mengetuk pintu kamarnya. Landa segera menoleh untuk melihat sosok yang sudah masuk.
"Mama." Ucap Landa memanggil nama ibunya.
Seketika, Landa langsung loncat begitu saja dari atas tempat tidurnya. Kemudian, memeluk ibunya dengan Erat.
"Mama lama banget sih pulangnya, Landa seperti di penjara tau, Ma. Mana Papa galak banget, kan enggak lucu." Ucap Landa sambil menatap ibunya yang belum cuci muka, dengan rambut yang berantakan.
Sang ibu langsung menjepit hidung mancung milik putrinya sambil senyum.
"Kamu ini, sudah dewasa seharusnya berubah. Jangan terus mintanya dimanja, katanya mau menikah."
"Menikah? enggak enggak, Landa gak mau menikah sama laki-laki pilihan Papa. Dih! udah kek gak ada pilihan lain, Landa juga bisa cari calon suami yang cocok dan satu frekuensi." Kata Landa sambil memperagakan dengan ekspresi bergidik ngeri.
Ibunya pun tertawa kecil melihat putrinya itu.
"Kalau kamu gak mau menikah dengan lelaki pilihan Papa, bagaimana kalau menikahnya dengan laki-laki pilihan Mama. Dijamin deh, kamu akan jatuh cinta dalam waktu yang dekat."
Landa mengernyit, susah payah untuk menelan ludahnya.
"Memangnya Mama sudah menyiapkan calon suami untuk Landa? kalau bertentangan dengan Papa, gimana? oh! tidak." Ucap Landa sambil membayangkan ibunya dan ayahnya bertengkar hanya merebutkan untuk bisa mencari calon suami untuk dirinya.
Landa tertawa kecil membayangkannya.
"Sudah cepetan kamu mandi, jangan banyak berkhayal. Karena percuma saja, khayalan kamu lama menjadi nyatanya. Buruan mandi, sekretaris Ciko sudah datang. Orangnya sedang menunggumu."
Landa mengubah posisinya sedikit menyerong.
"Papa."
"Ya, sudah cepetan mandi." Perintah ayahnya yang selalu datang tanpa diundang.
"Ya, Pa." Jawab Landa berubah menjadi lesu.
"Ayo Ma, kita turun. Jangan membiasakan Landa untuk terus menerus menjadi anak yang manja, biarkan dia bertanggung jawab dengan pekerjaannya." Ucap Tuan Herdi kepada istrinya.
"Ya, Pa. Kalau begitu ayo kita turun." Jawab ibunya Landa dan mengajak suaminya untuk turun.
Sedangkan sekretaris Ciko tengah duduk di ruang tamu sambil menunggu Bosnya. Baru saja menoleh, rupanya Tuan Herdi menghampirinya tanpa sang istri.
__ADS_1
"Lama ya, nunggunya. Maaf, putri saya baru saja mau mandi." Ucap Tuan Herdi merasa tidak enak hati, karena hari harinya selalu diminta untuk menunggu.
"Tidak apa-apa, Tuan." Jawab sekretaris Ciko.
"Oh ya, soal untuk memberimu bukti, sepertinya setelah kamu pulang kerja saja. Pagi ini kerjaan di kantor cabang sangat padat. Jadi akan terburu-buru jadinya, sayang waktunya juga karena tidak bisa santai." Ucap Tuan Herdi menunda untuk menunjukkan bukti mengenai silsilah keluarganya.
"Tidak apa-apa, Tuan. Soalnya adik ipar saya juga ada kepentingan di kantornya, jadi gak punya waktu pagi ini." Jawab sekretaris Ciko dengan tenang.
"Ekhem!"
Landa berdehem. Tentunya mengagetkan ayahnya juga sekretaris Ciko.
"Sudah siap? sarapan dulu, nanti perut kamu sakit."
"Landa lagi males sarapan, Pa."
"Kalau sampai perut kamu sakit, bagaimana?"
"Nanti beli sarapan paginya di kantin aja, Pa."
"Kamu ini ya, kebiasaan tidak mau sarapan di rumah."
"Bosan ih, yang ada nanti jadi ngantuk di mobil." Kata Landa sesuai kebiasaannya dari kecil.
Tuan Herdi tak lepas untuk memberi nasehat kecil kepada putrinya. Meski sudah ada bodyguard yang selalu ada di dekat putrinya, tetap saja tak lepas dari sebuah peringatan.
"Ya, Pa." Jawabnya sedikit cemberut.
"Loh, gak sarapan dulu kalian?" tanya ibunya yang baru saja keluar dari kamar.
"Nggak lah, Ma. Landa sarapan paginya nanti pesan di kantin aja, buru-buru soalnya." Jawab Landa yang selalu memilih sarapan di luar daripada di rumah.
"Ya udah kalau gak mau sarapan. Tapi ingat, sampai di kantor beli sarapan. Mama gak mau kalau kamu sampai sakit, harus dijaga kesehatan kamu." Ucap ibunya berpesan.
"Ya, Ma. Mama tenang aja, Landa pasti akan jaga kesehatan. Ya udah ya, Ma, Landa berangkat ke kantor dulu." Jawab Landa berpamitan.
"Dan kamu sekretaris Ciko, Saya titipkan Landa sama kamu. Ingat, jangan sampai Landa melakukan hal-hal yang dapat merugikan dirinya. Kalau dia melakukan kesalahan, ingatkan dia." Ucap istrinya Tuan Herdi berpesan kepada sekretaris Ciko untuk bertanggung jawab atas putrinya.
"Ya, Nyonya. Kalau begitu saya pamit, permisi, Tuan, Nyonya." Jawab sekretaris Ciko.
"Hati-hati," ucap kedua orang tua Landa.
"Ya, Ma."
__ADS_1
"Ya, Tuan."
Jawab Keduanya secara bergantian.
Setelah berpamitan untuk berangkat ke kantor, Landa dan sekretaris Ciko bergegas untuk kergi berangkat.
Seperti biasa, Landa dilarang untuk duduk di belakang. Mau tidak mau, dirinya selalu duduk di depan bareng sekretarisnya.
Landa yang bosan karena tidak ada obrolan, akhirnya menoleh pada sekretarisnya yang tengah fokus menyetir.
"Aku boleh tanya sesuatu gak sama kamu? kalau gak juga males akunya mau tanya."
'Dih, ngomong apa tadi aku. Aih! ngapain juga aku ngajak dia ngobrol, yang ada entar dianya ke ge eran, besar kepala yang ada mah.' Batin Landa kembali dengan posisinya menatap lurus ke depan.
Sekretaris Ciko menoleh pada Bosnya, dan kembali fokus menatap lurus ke depan, juga fokus dengan setir mobilnya.
"Boleh saja. Memangnya mau tanya soal apa, Nona?"
Landa langsung menoleh pada sekretarisnya yang tengah menyetir.
"Kamu kan udah dewasa, aku rasa usia kamu juga tidak setara denganku. Terus, kenapa kamu belum juga menikah?"
"Saya belum menemukan wanita yang cocok buat saya, Nona." Jawab sekretaris Ciko sambil menyetir, sama sekali tidak menoleh pada Bosnya.
"Terus, kenapa kamu terima tawaran dari ayahku? apa karena ..."
"Karena apa, Nona?"
"Karena bisa dimanfaatkan, 'kan?"
Ssssttt
"Gila, kau. Kamu mau buatku jantungan, ha!"
Sekretaris Ciko langsung menoleh pada Landa, tatapannya begitu dingin terhadapnya.
"Maksud Nona memanfaatkan itu apa? maaf, kalau bukan karena sesuatu hal, saya tidak sudi menikahi kamu, Nona." Ucap sekretaris Ciko dengan penekanan, juga dengan tatapannya yang tajam.
Landa yang mendengar ucapan dari sekretarisnya itu, langsung bersandar dan tanpa berucap sepatah katapun. Bahkan, sama sekali tidak berani menoleh ke arah sekretaris Ciko.
Sekretaris Ciko yang malas berdebat, langsung melajukan mobil yang ia kendarai dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Landa awalnya ketakutan, tetapi berusaha untuk tetap tenang.
__ADS_1