
Beberapa menit kemudian, Ciko bersama istrinya baru saja sampai di rumah Gane. Kemudian, disusul oleh Tuan Herdi yang juga baru saja datang.
"Akhirnya sudah pada datang, silakan masuk, Tuan Herdi dan Juga Ciko bersama istrinya." Ucap Gane menyambut kedatangan Tuan Herdi bersama anak dan menantunya.
"Terima kasih." Jawab Tuan Herdi dan Ciko secara bersamaan.
Sampainya di dalam rumah, Gane mempersilakan duduk di ruang privasinya. Sedangkan Nanney selaku istrinya Tuan rumah, mengajaknya ke lain tempat.
"Silakan duduk, Kak Landa. Maaf dengan kondisi rumah sedikit berantakan. Soalnya rencananya hari ini mau merubah posisi tatanan isi di dalam rumah." Ucap Nanney dengan ramah.
"Tidak apa-apa, wajar saja jika rumahnya lagi di ubah tatanannya. Oh ya, aku dengar kalau kamu sebentar lagi lahiran, selamat ya, sebentar lagi mau punya bayi." Jawab Landa sambil duduk di ruang bersantai.
"Terimakasih, Kak. Aku doakan juga, semoga Kak Landa juga segera menyusul dan cepat hamilnya."
Landa tersenyum malu mendengarnya, lebih lagi dengan kejadian semalam, semakin geli untuk membayangkannya.
Tidak lama kemudian, seorang asisten rumah telah membawakan air minum untuk Landa.
__ADS_1
"Silakan diminum, Kak."
"Ya, terimakasih. Oh ya, kok sepi ya?"
"Ya, Kak, memang sepi di rumah ini. Soalnya Regar dan istrinya tidak tinggal bareng di rumah ini, jadi sepi." Jawab Nanney.
"Oh ya, aku baru ingat, kalau Regar dan istrinya tidak lagi tinggal di rumah ini." Ucap Landa yang baru mengingatnya, jika mantan suami adik iparnya sudah mempunyai tempat tinggal sendiri.
"Maaf, jika membahas orang lain."
"Gak apa-apa kok, Kak. Lagian juga sudah mempunyai rumah tangga masing-masing. Oh ya, gak Ciko enggak galak, 'kan?"
"Kalau Kak Ciko galak, laporin aja sama aku, entar biar aku ..." kata Nanney dengan pandangannya yang kebetulan mendongak dan menatap kakaknya sendiri.
"Biar apa, Ney?" tanya Ciko pada adik perempuannya.
Nanney nyengir kuda.
__ADS_1
"Biar aku omelin, aku jewer, aku marahin." Kata Nanney sambil menjulurkan lidahnya.
"Hem. Kejam kali kamu itu sama Kakak kamu yang ganteng ini."
"Biarin, kalau galak memang perlu ditindak lanjuti." Kata Nanney sambil meledek kakaknya.
"Sudah sudah, jangan berdebat kalian ini. Dan kamu Ciko, kamu bilang mau ke toilet, kenapa nyasar kesini. Bah! kamu ini, bilang aja kalau gak bisa jauh dari istrimu." Ucap Gane.
"Sok tahu kamu itu, Bos. Sudah lah, aku gak jadi kebelet. Ayo temani aku untuk menyelesaikan masalahku dengan Tuan Hardika." Jawab Ciko yang langsung menarik tangan adik iparnya.
Karena tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, Ciko ingin secepatnya menyelesaikan permasalahannya.
Kini, semua sudah duduk dengan tatapannya yang serius satu sama lainnya saat saling berhadapan.
"Perkenalkan, saya Hardika Huttama, keponakan dari kakeknya Ganenta. Kami berdua adalah penerus keluarga Huttama, juga dengan adiknya yang bernama Regar." Ucap Tuan Hardika memperkenalkan dirinya di depan Tuan Herdi Ningrat.
Rasa penasaran yang tersimpan dalam benak pikiran Tuan Herdi, sangatlah tidak sabar untuk mendapatkan penjelasan.
__ADS_1
"Dan saya selaku ayah mertua Ciko, saya ingin bicara banyak dengan Anda. Perkenalkan, saya Herdi Ningrat, ayah mertua dari Ciko. Kedatangan saya kemari untuk menemui Tuan Hardika, semata ingin membicarakan hal penting mengenai Tuan Prasetyo." Jawab Tuan Herdi yang juga memperkenalkan dirinya.