
Sekretaris Ciko yang tidak mempunyai kegiatan di pagi hari, lebih memilih untuk duduk bersantai di depan rumah, tepatnya di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi panas nan pahit.
Landa yang baru saja keluar dari kamar mandi, celingukan mencari suaminya yang entah kemana perginya.
Di dapur, juga tidak mendapati suaminya. Karena melihat pintu rumah yang terbuka, mencoba untuk melihat ke luar.
Benar saja, rupanya sang suami tengah duduk santai ditemani secangkir kopi. Dengan hati-hati takutnya menimbulkan suara dan kepergok suaminya, Landa begitu pelan saat melangkahkan kakinya.
"Percuma saja jalannya pelan, Nona. Saya tidak kaget. Silakan duduk, tadi saya sudah buatkan teh panas untuk Nona."
'Si_alan, rupanya dia sudah tahu kalau ada aku.' Batin Landa yang akhirnya ikutan duduk di dekat suaminya.
Sebenarnya ingin meraih kursi yang ada disudut teras untuk dijadikan tempat duduknya, agar dirinya tidak duduk berdekatan dengan suaminya. Namun, rupanya tertahan oleh suaminya yang langsung menyambar tangan kiri milik istrinya dan langsung memaksanya untuk duduk. Alhasil, rupanya Landa duduk dipangkuan suaminya.
Sontak saja langsung kaget dan berusaha untuk bangkit dan duduk disebelah suaminya. Tetapi Naas, justru suaminya menahan.
"Lepaskan, nanti kalau dilihat orang gimana? bisa disangka yang enggak enggak nanti kitanya." Ucap Landa berusaha untuk melepaskan tangan milik suaminya.
"Kursi itu sudah rapuh, tidak cocok untuk dijadikan tempat duduk. Lagi pula siapa yang mau berprasangka yang enggak enggak sama kita, Nona. Bukankah kita berdua ini sudah menikah? jugaan terhalang dengan pagar rumah." Jawab Sekretaris Ciko yang tidak peduli saat menahan istrinya.
__ADS_1
Kemudian, dengan hati-hati menurunkan istrinya untuk duduk di sebelahnya.
"Ini teh hangatnya, Nona. Maaf, tidak ada makanan lain selain kopi panas dan teh panas." Kata sekretaris Ciko sambil merangkul pundak milik istrinya.
"Kalau aku ini istri kamu, kenapa kamu memanggilku dengan sebutan Nona?"
Sekretaris Ciko langsung menoleh pada istrinya.
"Terus, saya harus memanggil siapa?" tanyanya sambil menatap wajah ayu milik istrinya dengan posisi sedikit menyerong.
"Ya, terserah. Ini kan di rumah, mau panggil siapa kek, apa kek, terserah kamu."
"Maunya Nona mau dipanggil apa?"
"Lalu, Nona sendiri mau panggil saya siapa?"
"Ya maunya kamu mau dipanggil siapa?"
Bukannya menjawab, justru keduanya saling melempar pertanyaan.
__ADS_1
Seketika, sekretaris Ciko lebih mendekatkan lagi wajahnya hingga berjarak beberapa senti.
Gugup, berdebar-debar detak jantungnya, itulah yang dirasakan oleh Landa yang baru pertama kalinya saling menatap satu sama lain dengan sekretarisnya sendiri, yang tidak lain seorang bodyguard yang ditugaskan untuk menjaganya, dan kini justru menjadi suaminya.
"Jangan terlalu serius, nanti detak jantung milik Nona akan meledak." Ucap sekretaris Ciko dengan senyum yang lebar, dan merenggangkan posisinya.
Sedangkan Landa sendiri masih diam, mencoba untuk mengatur pernapasannya, juga detak jantungnya yang berdegup kencang.
'Sia_lan, kenapa detak jantungku harus berdebar-debar begini, terlalu kepedean ini orang.' Batin Landa sambil mengontrol napasnya.
"Diminum tehnya, hari ini Nona akan saya ajak jalan-jalan di sekeliling rumah ini. Bagaimana kalau kita pergi ke Danau, atau bukit kecil."
Sambil menerima satu cangkir minuman teh hangat, Landa tertuju pada wajah suaminya yang tengah bicara.
"Hei, Nona, diminum tehnya."
"Ah ya, maaf. Kata kamu tadi mau mengajak aku ke Danau? atau gak bukit kecil, benarkah?"
Sekretaris Ciko mengangguk.
__ADS_1
"Ya, Nona. Tapi sebelumnya kita sarapan dulu, ayo ikut saya ke dapur."
'I-i-iya." Jawabnya terbata-bata.