
Ciko dengan istrinya tengah dilarikan ke rumah sakit untuk diberi penanganan, lebih lagi dengan kondisi Ciko yang tidak sadarkan diri.
Landa yang mendapati luka memar bagian lengan tangannya yang juga mendapatkan benturan, sedari tadi menahan rasa sakitnya saat tengah diobati.
Sedangkan Gane tengah mondar-mandir menunggu kabar dari Dokter mengenai keadaan kakak iparnya.
"Sayang, bagaimana dengan keadaan Kak Ciko?" tanya Nanney yang khawatir saat mendengar kabar dari suaminya mengenai keselamatan kakak kandungnya.
"Doakan saja, semoga keadaannya baik-baik saja. Lebih baik kamu tenangkan dulu pikiran kamu. Percayalah denganku, Ciko pasti bisa melewatinya." Jawab Gane sambil memeluk istrinya untuk menenangkan pikirannya.
"Kak Gane, gimana keadaannya Kak Ciko?"
Panggil Regar yang baru saja datang bersama Doin, yang juga ikutan khawatir.
Gane langsung melepaskan pelukannya, lantaran tidak ingin memanasi adiknya, walau sudah sama-sama mempunyai pasangan sekalipun. Tetap saja, Gane tidak mau terkesan pamer.
"Sedang ditangani Dokter, kamu sendirian?"
"Ya, tadi Henny sedang gak mau ikut, soalnya kecapean katanya. Istri Kak Gane baik-baik saja, 'kan? eh salah, maksudnya aku istrinya Kak Ciko, si Landa." Ucap Regar merasa salah berucap.
"Sama kek Ciko, Landa juga sedang ditangani oleh Dokter, soalnya sempat terjatuh tadi. Kita tunggu saja sebentar, sudah dari tadi kok ditanganinya." Kata Gane.
Tidak lama kemudian, Dokter pun keluar dari ruang penanganan.
"Bagaimana keadaan Kakak saya, Dok?" tanya Nanney yang lebih dulu untuk mendapat kabar mengenai kakaknya.
Dokter pun tersenyum mendengarnya.
"Keadaan pasien baik-baik saja, sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang rawat pasien." Jawab Dokter.
"Syukurlah kalau sudah diizinkan untuk pulang." Timpal Gane.
"Lagian juga gak ada masalah yang serius mengenai lukanya, jadi tidak perlu harus dilakukan operasi atau yang lainnya." Kata Dokter.
Sedangkan Tuan Herdi bersama istrinya juga tengah was was mengenai keselamatan putrinya.
"Pa, bagaimana ini? Mama sangat khawatir dengan Landa."
"Tenangkan dulu pikiran Mama, Landa baik-baik saja. Sekarang sedang ditangani oleh Dokter, kita tunggu saja sampai Dokter keluar." Jawab Tuan Herdi mencoba untuk meyakinkan istri yang tengah khawatir dengan kondisi putrinya.
"Tetap saja, Pa, pikiran Mama tidak bisa tenang sebelum melihat kondisinya langsung." Kata ibunya Landa yang sudah tidak sabar untuk bertemu putrinya.
Dan benar saja, seorang Dokter tengah keluar dari ruang pemeriksaan.
"Dok, bagaimana keadaan putri saya?" tanya ibunya Landa penuh khawatir.
"Keadaan pasien baik-baik saja, hanya mendapatkan luka memar. Itupun tidak serius, nanti setelah minum obat dan diolesi dengan salep, nanti juga bakalan sembuh." Jawab seorang Dokter.
"Jadi, saya sudah diizinkan untuk menemui putri saya kan, Dok?"
"Boleh, sebentar lagi juga keluar."
__ADS_1
Saat itu juga, Landa keluar dari ruang penanganan dengan kondisi baik-baik saja.
"Landa anak kesayangan Mama, kamu baik-baik saja kan, Nak?" tanya ibunya sambil memeriksa kondisi putrinya.
"Landa baik-baik saja kok, Ma, Pa. Oh ya, suami Landa gimana keadaannya, Ma, Pa?"
"Suami kamu, Papa belum melihatnya. Ya udah, ayo kita temui di ruang rawatnya." Jawab Tuan Herdi dan mengajak putrinya untuk melihat keadaannya.
Sampainya di depan ruang rawat pasien, rupanya Gane bersama adik laki-lakinya beserta Nanney sudah masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Sudah cepetan kamu buka pintunya, Nak." Perintah ibunya, Landa mengangguk pelan.
Dengan sangat hati-hati, Landa membuka pintunya. Tetap saja dengan perasaan gugup.
Saat membuka pintunya, pandangan Landa tertuju pada sosok suaminya yang tengah berbaring dan ditemani keluarganya.
"Kak Landa, kok masih berdiri disitu? ayo sini. Kak Ciko sudah sadarkan diri, Kakak gak perlu malu." Ucap Nanney dengan hati-hati. Takutnya akan kembali ke masa lalu, pikirnya.
Sedangkan Gane dan Regar langsung memberi celah untuk Landa.
"Sayang, kemarilah." Panggil Ciko dengan melempar senyum manisnya, juga menggodanya.
Landa yang tersipu malu saat suaminya memanggil dengan sebutan sayang, membuatnya seperti terbang bebas mengudara.
Dengan malu malu, Landa mendekati suaminya. Sedangkan yang lainnya tengah mendapatkan kode dari Tuan Herdi untuk mengajaknya keluar.
"Loh, kalian semua ini mau pergi kemana?" tanya Landa sambil memperhatikan satu per satu.
"Sayang, kemarilah." Panggil Ciko meminta kepada istrinya untuk segera mendekatinya.
"I-i-ya." Jawab Landa sedikit terbata-bata.
Sedangkan yang lainnya termasuk kedua orang tuanya segera keluar. Dan kini tinggallah Landa bersama suaminya dalam ruangan.
"Bagaimana keadaan kamu, sayang? mana yang sakit? maafkan aku yang sudah membuatmu ketakutan. Maafkan aku juga yang tidak bisa menyelamatkan kamu dengan baik."
"Keadaan seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja dan tidak ada luka yang serius. Hanya tangan aku ini yang sedikit memar, karena akibat dorongan dari Aina. Oh ya, gimana dianya? apakah ketangkap polisi, atau kabur?"
"Aku belum bertanya dengan Papa maupun Bos Gane. Semoga saja si Aina tertangkap dan membuatnya menjadi jera, tidak mengulangi perbuatannya lagi." Jawab Ciko.
"Ya, semoga saja memang begitu."
"Sini, duduklah di sampingku." Pinta Ciko sambil menepuk tempat yang ada di sebelahnya.
Landa yang sedikit canggung dan malu, akhirnya duduk disebelah suaminya. Ciko sendiri langsung memeluknya dengan melingkarkan kedua tangannya tepat di pinggang miliknya. Kemudian, dagunya bertumpu di atas pundak milik istrinya.
"Kamu tahu, aku sangat bahagia saat ini. Aku berharap kamu akan terus bersamaku, karena kamu aku pilih untuk menjadi pelengkap hidupku. Aku mulai merasa, jika aku mencintai kamu." Ucap Ciko yang langsung berterus terang, tak peduli baginya jika terlalu cepat dalam ungkapan perasaannya.
Landa yang mendengarnya, pun langsung menoleh ke belakang. Merasa bahagia seperti yang dirasakan oleh suaminya.
"Benarkah yang kamu ucapkan tadi?" tanya Landa mencoba untuk memastikan.
__ADS_1
Ciko menatap istrinya dengan lekat, dan mengangguk saat mendapat pertanyaan dari istrinya.
"Yang aku ucapkan barusan itu memang benar adanya akan perasaanku padamu." Jawab Ciko dan tersenyum saat menatap wajah ayu milik istrinya.
"Sama, aku pun merasa ada benih cinta yang tumbuh di hatiku. Terimakasih atas pengakuan darimu, aku merasa sangat beruntung dan juga bahagia." Kata Landa dengan perasaan yang berbunga-bunga, hingga lupa dengan rasa sakit pada luka memarnya.
Ciko meraih tengkuk leher istrinya, dan mendekatkan wajahnya dengan jarak yang begitu sangat dekat. Kemudian, Ciko menci_um bibir milik istrinya begitu lembut, hingga berubah semakin tidak terkendali.
Landa sendiri ikut membalasnya dan menikmati setiap sent_uhan bibirnya yang saling meny_esap satu sama lainnya. Sampai sampai lupa dengan keadaan mereka berdua yang tengah ditangkap oleh yang lainnya yang baru saja masuk tanpa mengetuk pintunya.
"Cie ... yang lagi bahagia, gak bagi-bagi." Ledek Gane dan istrinya, juga ada kedua orang tua Landa sendiri.
Seketika, keduanya menghentikan aktivitasnya yang hampir mem_anas.
"Sabar, sabar, besok besok masih ada kesempatan lagi. Sekarang ini, kalian berdua untuk diminta keterangan ole polisi." Ucap Gane.
Sedangkan dua anggota polisi bersama Tuan Hardika berjalan mendekati. Kemudian salah sendiri polisi untuk meminta keterangan yang lebih detail dari kedua korban.
Karena penasaran, Ciko bertanya dulu mengenai Aina bersama ayahnya.
"Maaf sebelumnya Pak Polisi, kalau boleh tahu bagaimana dengan si Aina dan ayahnya, Pak? apakah mereka berdua tertangkap?"
"Mereka berdua melarikan diri, dan juga menjadi korban insiden kecelakaan. Keduanya tidak dapat diselamatkan, dan dinyatakan telah meninggal dunia." Jawab salah seorang polisi.
Semua yang mendengarnya, pun sangat terkejut atas kabar yang diterima.
Karena tidak mau waktunya terbuang sia-sia, pak polisi segera meminta keterangan kepada Ciko dan istrinya.
Setelah itu, semua merasa lega dan tidak ada masalah. Semuanya dapat diselesaikan, meski memakan korban atas kebia_daban dari Tuan Prasetyo dan Alex.
Meski harus melewati banyaknya rintangan juga masalah, Ciko dan Landa berhasil melewatinya. Perasaan dan pengakuan dari keduanya telah berhasil untuk di ungkapkan.
Kini, Landa dan Ciko bahagia akan perasaan yang tidak lagi harus menyimpan rasa. Keduanya mampu menyatakan akan perasaannya masing-masing.
Kebahagiaan yang ingin diraihnya, sudah ia miliki bersama seseorang yang menjadi pelengkap hidupnya.
TAMAT.
Akhirnya jalan cerita Ciko dan Landa dapat berakhir dengan bahagia, seperti yang diharapkan.
Kisah mereka biarlah mereka berdua yang menjalaninya, semoga akan terus bahagia.
Akhir cerita saya ucapkan banyak terima kasih atas kesetiaan readers semua yang begitu setia menunggu cerita selanjutnya hingga mereka berakhir dengan bahagia.
Dan tidak luput juga dari segala kekurangan dalam bercerita, menuliskan alur cerita mereka dengan banyaknya kekurangannya, saya meminta maaf.
Saya ucapkan banyak terimakasih atas dukungannya, dari komentarnya, likenya, juga yang lainnya. Semoga kita selalu diberi kesehatan dan keselamatan, aamiin.
Sampai bertemu lagi dilain kesempatan dalam karya yang lain, saya ucapkan banyak terimakasih kasih readers setia.
Love love full untuk kalian
__ADS_1