Bodyguard Pewaris Tunggal

Bodyguard Pewaris Tunggal
Membuat orang lain ingin tahu


__ADS_3

"Tumben sendirian nih sekretaris Ciko, si Bos gak kerja?" sapa seorang karyawan lelaki yang saat itu berpapasan dengannya.


Sekretaris Ciko berhenti sejenak.


"Bukankah semua sudah mengetahuinya?"


"Ya sih, kirain sekretaris Ciko ikutan libur. Secara, Bosnya libur."


"Hem. Itu berbeda lagi, saya hanya seorang sekretaris, sedang Bos ya tetap Bos." Kata sekretaris Ciko.


"Ya juga sih, eh tunggu."


"Kenapa?" tanya sekretaris Ciko saat dirinya diminta untuk berhenti.


"Si Bos katanya kan, mau menikah nih. Kamu kan orang kepercayaannya, boleh dong kasih tau siapa calon suaminya. Soalnya kita tidak mendapatkan kertas undangan, melainkan hanya pesan dari salah seorang yang diberi perintah." Jawabnya dan ingin tahu.


"Penasaran ya?"


"Ya, saya sangat penasaran dan ingin tahu siapa calon suaminya Bos Landa itu?"


"Besok juga kamu bakal tahu sendiri siapa suaminya Bos kita itu. Lagi pula bukan urusan kita soal Si Bos mau menikah dengan siapanya, lebih baik fokus saja dengan pekerjaan kita." Jawab ekretaris Ciko yang terasa malas harus mendapatkan pertanyaan dari karyawan yang lainnya mengenai pernikahan Bosnya, termasuk pernikahannya sendiri.


"Tetap aja, kita kita ini penasaran. Ya sudahlah kalau kamu gak tahu, aku permisi."


"Ya, sampai jumpa." Kata sekretaris Ciko, segera kembali ke ruang kerjanya.


Sedangkan di dalam ruangan lelaki yang baru saja menginterogasi si sekretaris Ciko, langsung diserbu pertanyaan oleh teman-temannya.


"Dik, gimana hasilnya?" tanya seorang karyawan yang menyimpan rasa penasaran soal pernikahan Bosnya yang terbilang cukup mendadak.


"Kata sekretaris Ciko gak tau, Bro. Tapi, gak tahu juga sih. Soalnya mereka selalu bersama kalau berangkat ke kantor, masa ya gak tahu, kan mustahil itu namanya." Jawabnya.


"Oh, mungkin saja sebenarnya dia memang tahu, cuma gak boleh memberitahu kepada siapapun, termasuk karyawan di kantor ini." Ucapnya yang mencoba untuk menebak.


"Memangnya penting gitu ya, sampai-sampai kamu ingin tahu gitu."


"Bukan lagi penting, aku dapat tugas dari orang untuk mencari tahu siapa calon suaminya Bos Landa. Kalau bisa memberi bocoran, kan lumayan tuh, dapat uang gede."

__ADS_1


"Wah, parah Lu. Bisa-bisanya gak bilang dulu sama Gue." Kata si Diki yang baru mengetahui jika temannya menyuruh dirinya memang atas dasar perintah dari orang yang akan memberi bayaran.


"Memangnya siapa yang mau membayar kamu, Do?"


"Ada lah, makanya kamu segera mencari tahu. Lumayan, nanti kita bagi dua hasilnya." Kata si Edo.


"Hem, sepertinya sulit. Sudahlah, aku males melakukan hal yang beresiko. Aku mau menyelesaikan pekerjaanku, dan aku masih sayang dengan kerjaan aku ini. Aku hanya memperingatkan kamu saja, hati-hati jika kamu mendapat perintah yang bisa saja menghancurkan karirmu." Ucap si Diki memberi nasehat kecil untuk teman kerjanya.


"Tenang saja, semua akan aman." Kata si Edo yang tetap dengan tekadnya.


"Terserah kamu saja, aku gak mau ikut campur. Sudahlah, aku mau kerja." Ucap Diki yang malas ikut campur urusan lain.


Bagi Diki, tidak penting ngurusin hal yang mendapat dirinya terancam, dan tentunya lebih memilih dengan pekerjaannya yang memang sudah bisa menjamin pendapatannya.


Berbeda lagi di tempat kerja seorang Bos yang kedudukannya sama seperti Landa, siapa lagi kalau bukan Rafaza.


"Lu kenapa, Bro?" tanya salah seorang temannya yang baru saja datang di kantor milik orang tuanya Rafaza.


"Gue lagi pusing nih, Dat."


"Pusing kenapa, Lu Dat?"


"Kalau Gue pribadi sih, enggak. Kalau untuk keluarga memang dapat."


"Sama aja, makanya itu aku penasaran dengan calon suaminya Landa. Sedangkan untuk Alex, dia sudah berada di luar negri, juga sudah menikah rupanya."


"Kamu bilang apa tadi, si Alex sudah menikah dan berada di luar negri, serius Lu?"


"Ya iyalah serius, Gue juga tahunya tadi nelpon si Alex. Katanya si Landa itu hanya dimanfaatkan saja sama si Alex."


"Wah, gile itu anak. Cewek cantik sekelas Landa dijadikan manfaat, benar-benar itu si Alex."


"Gimana gak dimanfaatkan, ayahnya si Landa itu menolak mentah sama si Alex."


"Atas dasar apa menolak Landa?"


"Mana aku tahu, mungkin sudah dijodohkan. Tau sendiri orang tua jaman mau jaman sekarang sama aja, ada yang masih dengan panutan perjodohan." Kata si Rafaza.

__ADS_1


"Ya sih, tapi norak ah."


"Norak darimana, kalau sama tajirnya gak ada yang norak. Ah sudahlah, aku lagi males bahas itu. Lebih baik kamu pulang, bosan Gue lihat muka Lu."


"Hem. Terus, kenapa tadi Lu nyuruh Gue untuk datang di kantor Elu. Tau gini Gue juga ogah nyamperin, mending juga Gue di kantor di temani sekretaris cantik. Payah Lu mah, makanya buruan cari pacar, biar gak kesepian."


"Pacar Gue banyak, kalau mau. Tapi masalahnya aku gak mau, sana pergi."


"Ya ya ya, Bro. Kamu sih, belum pernah ngerasain, makanya di coba."


"Ogah, Lu aja sendiri. Gue lagi wa_ras, emang Elu. Setiap ada karyawan cantik, sekretaris cantik, Elu embat. Awas Lu, dapet yang gak gak."


"Gak usah nakutin, mending Lu coba aja sendiri. Gue jamin, Lu bakal ketagihan."


"Cih! ogah, Gue gak mau dapet sial. Sudah sana Lu pulang aja, bikin otak Gue tambah gak war_as kamu ini." Kata si Rafaza, sekaligus mengusir temannya untuk pulang.


Di sisi lain, sekretaris Ciko tengah disibukkan dengan pekerjaannya tanpa seseorang yang ada di dalam ruangan kerjanya.


Sepi, itu sudah pasti. Meski terkadang si Bosnya itu suka membuatnya geram, tapi kini telah membuat suasana hatinya kesepian.


"Si_al! kenapa juga aku harus kepikiran Nona Landa, mana jadi ngeblank gini, lagi. Aih, itu bayangan." Gumamnya sambil menatap layar komputernya.


Rasa penat yang mulai menguasai pikirannya, sekretaris Ciko istirahat sejenak agar tidak semakin pusing kepalanya.


Cukup lama berkutat dengan pekerjaannya, ternyata sudah tiba waktunya untuk istirahat. Tentu saja, sekretaris Ciko mulai merasa lega.


Tidak ingin mendapatkan pertanyaan mengenai pernikahan Bosnya, sekretaris Ciko lebih memilih untuk memesan makan siang daripada harus pergi ke kantin. Tentunya, semua semata-mata untuk menghindari pertanyaan dari karyawan lainnya.


Berbeda lagi di kediaman keluarga Herdi Ningrat, Landa tengah dilakukan perawatan sedari tadi pagi untuk persiapan pernikahannya.


Awalnya menolak untuk perawatan, tapi mau bagaimana lagi, Landa tidak bisa menolak perintah ibunya.


'Ngapain juga mesti perawatan kek gini segala, lagian mana ada malam pertama untukku. Yang ada tuh malam istirahat, karena capek hati.' Batin Landa sambil menerima pijatan lembut di bagian kedua kakinya.


"Nah, nurut gini kan enak." Ledek ibunya yang baru saja datang ke kamar putrinya.


"Mama, apa apaan sih. Risih nih badannya Landa, bau aroma yang gak enak." Ucap Landa beralasan, padahal dirinya sendiri sering melakukan perawatan.

__ADS_1


"Sudah, jangan banyak bicara. Mendingan kamu nikmati pijatannya, biar pas hari pernikahan kamu, tidak loyo. Gak cuma itu saja, badan kamu akan terlihat segar dan tidak lesu." Kata ibunya, Landa hanya mengangguk pasrah.


__ADS_2