
Sekretaris Ciko masih terus mengejar bersama Bosnya, takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan oleh perempuan yang bernama Aina.
Sedangkan di tepian pantai, sosok Aina tengah nekad berdiri di atas gundukan bebatuan yang cukup tinggi dan sangat berbahaya.
"Aina! turun, Nak." Teriak seorang ayah yang begitu khawatir dengan putrinya yang tiba-tiba melakukan hal yang sangat berbahaya.
"Enggak, Pa! enggak. Kak Ciko jahat! Kak Ciko gak sayang sama Aina." Sahut Aina dengan suara yang sangat keras.
Sekretaris Ciko yang melihat ada yang tengah berdiri di gundukan bebatuan, langsung mempercepat larinya dan diikuti oleh Bosnya.
"Aina! jangan gi_la, kamu. Aina! turun." Teriak sekretaris Ciko sangat kencang, Landa sendiri kualahan untuk mengimbanginya.
"Itu perempuan udah gi_la kah, sampai segitunya mau bun_uh diri. Da_sar perempuan bod_oh, ditinggal nikah saja sudah bikin heboh." Gerutu Landa berdecak kesal saat melihatnya.
Sekretaris Ciko terus berlari.
"Aina! turun, Kakak bisa jelaskan sama kamu." Teriak sekretaris Ciko memanggilnya, dan membujuk untuk turun dari gundukan bebatuan.
"Enggak! aku gak mau, aku mau mati saja kalau Kak Ciko sudah menikah."
"Aina! nanti Kakak jelaskan sama kamu, ayo turun."
"Nak Ciko, tolong bujuk Aina. Ibu dan Bapak sangat khawatir." Pinta kedua orang tua Aina.
Aina yang sudah gelap hatinya, tak peduli akan menerima resiko yang sangat merugikan dirinya sendiri.
"Aina!" Teriak semuanya saat melihatnya menjatuhkan tubuhnya di lautan yang dibarengi gulungan ombak yang begitu besar.
Sekretaris Ciko langsung menceburkan diri pantai untuk menolongnya, sungguh benar-benar di luar dugaannya.
Semua panik, juga khawatir jika keduanya tidak akan selamat.
Sekretaris Ciko yang begitu takut, sekuat tenaganya untuk menyelamatkan perempuan yang sudah dianggapnya seorang adik.
Sedangkan Landa, kini tengah meneriaki sekretarisnya yang juga dihantui dengan perasaan yang penuh kekhawatiran.
"Da_sar perempuan bo_doh, kau membuatku panik." umpat Landa dengan penuh kesal, juga dihantui rasa takut.
Sudah payah untuk berenang, akhirnya sekretaris Ciko berhasil menyelamatkan Aina yang hampir saja terbawa oleh ombak yang siap menggulung dan menyeretnya.
Sampainya di tepian pantai, kedua orang tua Aina dan Landa segera menghampirinya.
Sekretaris Ciko maupun Aina basah kuyup, untuk saja sekretaris Ciko begitu tanggap untuk menyelamatkan nyawanya.
__ADS_1
Aina sendiri langsung memeluk sekretaris Ciko begitu erat. Landa yang melihatnya seperti tidak rela jika sekretarisnya tengah dipeluk oleh perempuan lain.
Tapi disisi lain, dirinya tidak mungkin untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Aina tadi, saat melihat dirinya bergandengan tangan.
Lebih lagi ada kedua orang tuanya Aina, tentu saja tidak ingin ada keributan.
Takut terjadi sesuatu pada diri Aina, sekretaris Ciko langsung membawanya ke rumah sakit untuk ditangani kondisinya.
Dalam perjalanan, Aina terus duduk memeluk sekretaris Ciko meski dalam posisi di dalam mobil dengan pakaian yang semuanya basah.
Sedangkan Landa yang menyetir mobilnya, rasa kesal dan dongkol itu sudah pasti.
"Kak Ciko, jangan tinggalin Aina." Ucap Aina sambil memeluk erat tubuhnya sekretaris Ciko.
"Tapi, Aina."
"Aku mau kok, jadi wanita simpanan Kakak."
Sssstt
Landa yang saat itu sedang fokus menyetir, tiba-tiba harus mengerem mendadak saat mendengar kalimat yang di lontarkan dari mulut Aina.
"Hei! kamu kalau gak bisa menyetir itu, ngomong. Jangan membuat aku dan Kak Ciko kecelakaan."
"Bawel!" Gerutu Landa yang kini mulai emosi, dan langsung menginjakkan gasnya yang cukup tinggi.
Ciko yang kualahan menghadapi dua perempuan yang sama keras kepalanya, akhirnya mencoba untuk melepaskan tangan tangan miliknya Aina.
"Hei! apa kau ini sudah gak war_as. Pelankan mobilnya, apa kau itu tu_li."
"Diam, kau! tidak usah banyak ba_cot mulutmu itu." Sahut Landa yang sudah semakin emosi saat harus mendapat bentakan dari seorang Aina.
"Hentikan mobilnya!"
Landa langsung menghentikan mobilnya, napasnya terasa panas saat harus menghadapi masalah yang sudah menumpuk di dalam pikirannya.
"Aina, jangan seperti anak kecil. Sekarang lebih baik Kak Ciko yang menyetir mobilnya, kamu duduk bersebelahan dengannya."
"Aku gak mau, aku akan duduk di depan." Jawab Landa yang sudah merasa kesal.
"Aku juga gak mau duduk dibelakang sendirian." Kata Aina yang juga sama halnya menolak.
"Tunggu sebentar." Ucap sekretaris Ciko segera turun dan mencoba untuk membujuk Bosnya.
__ADS_1
"Nona, tolong mengertilah. Jangan membuang-buang waktu, malam ini saya ada kepentingan dengan ayah Nona, jangan mengulur waktu saya." Bisik sekretaris Ciko.
"Oh, apa jangan-jangan kamu ini mau menggagalkan pernikahan kita?"
"Tidak ada hubungannya dengan itu, sekarang saya mohon untuk duduk dibelakang, agar sama adilnya."
Landa yang tidak mau ribut di hadapan Aina, dan terbongkar jika dirinya belum menikah, maka akan ada kesempatan besar untuk Aina agar bisa merebut sekretarisnya.
"Baiklah, aku akan turuti permintaan kamu." Jawab Landa, dan segera turun, juga pindah tempat duduknya di belakang bersebelahan dengan Aina.
Setelah tidak ada lagi yang kurang, sekretaris Ciko melajukan mobilnya menuju rumah sakit untuk memeriksa kondisi Aina.
'Sebenarnya perempuan ini sakit apa? perasaan baik-baik saja. Apa ya, ada kelainan dengannya?' batin Landa sambil mencoba untuk mencernanya.
Tidak memakan waktu yang lama, sampai juga di rumah sakit.
Aina yang basah kuyup, diminta untuk mengganti pakaiannya tengah dibantu oleh ibunya.
Begitu juga dengan sekretaris Ciko yang sama halnya basah kuyup, Landa sudah mendapatkan baju ganti untuk sekretarisnya lewat orang suruhan ayahnya.
"Ini, baju ganti untukmu." Ucap Landa sambil menyodorkan baju ganti, sekretaris Ciko menerimanya.
Saat itu juga, ayahnya Aina menghampiri.
"Oh, sudah ada. Kirain Bapak gak ada baju ganti, jadi Bapak belikan tadi." Ucap ayahnya Aina.
"Sudah saya pesankan baju untuk suami saya, Pak." Jawab Landa yang langsung menyambar.
"Jadi, kalian berdua suami-istri?"
"Ya, Pak. Kita berdua sudah menikah satu minggu yang lalu." Jawab Landa sebelum dijawab jujur oleh sekretarisnya.
"Oh, kirain Bapak itu, kalian berdua masih pacaran."
"Maaf, Pak, jika saya tidak memberi kabar kepada Bapak. Saya hanya takut saja dengan kondisi Aina, itu saja." Ucap sekretaris Ciko beralasan.
"Tidak apa-apa, Bapak bisa mengerti alasan kamu tidak mau memberi kabar kepada kami. Kalaupun kamu memberi kabar, mungkin yang ada pernikahan kalian jadi gagal karena putri Bapak. Maafkan Aina, tadi sudah merepotkan kamu." Ucap Beliau.
"Tidak, Pak. Justru saya yang seharusnya meminta maaf, soalnya tadi saya mengatakannya dengan jujur di hadapan Aina. Saya lupa akan hal tadi, Pak." Jawab sekretaris Ciko merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Bapak memaklumi. Ya udah kalau kamu mau mengganti baju, Bapak mau ajak Aina untuk periksa." Ucap Beliau.
"Ya, Pak, nanti kami berdua akan menyusul." Jawab sekretaris Ciko.
__ADS_1
"Permisi." Ucap ayahnya Aina bergegas untuk menemui putrinya.
Awalnya ayahnya Aina sangat kecewa saat mendengar bahwa sekretaris Ciko sudah menikah, tetapi tidak mempunyai kehendak apapun untuk marah.