
Setelah mengembalikan laptop milik Doin, langsung memberikannya kepada pemiliknya.
"Nih laptop kamu, buruan sana pulang. Gangguin saja kamunya." Ucap Ciko sambil menyodorkan laptop kepada Doin.
"Bro, gak kamu suruh main dulu nih akunya."
"Besok aja kalau aku sedang senggang, sekarang lebih baik kamu pulang sana. Makanya buruan nikah, biar gak kesepian kamunya."
"Cih! awas Lu, ya." Kata Doin dan langsung bergegas pergi meninggalkan rumah yang pernah ditempatinya.
"Benar kata Bos Gane, ternyata ngadepin orang bucin itu lebih susah daripada menagih hutang." Gumamnya sambil berjalan menuju mobil.
Sedangkan Ciko yang baru saja menutup pintunya, ia kembali ke kamar untuk bersiap-siap.
Baru saja membuka pintunya, ternyata sang istri belum juga mandi.
"Kok belum mandi, kenapa? kamu sakit?" tanya Ciko penasaran.
"Enggak kok, kamu duluan aja yang mandi." Jawab Landa sambil mengurai rambutnya yang masih di kuncir.
"Kok saya, kenapa gak Nona aja dulu yang mandi."
"Em ..."
__ADS_1
"Ya, saya paham. Baiklah saya akan keluar, dan juga mau mandi di kamar sebelah. Saya tahu jika Nona khawatir, jangan lupa untuk mengunci pintunya."
"Eh enggak enggak, bukan begitu. Perut aku lagi sakit, dan aku sedang mendapat tamu bulanan."
"Tamu bulanan, maksudnya?" tanya Ciko karena tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh istrinya.
"Itu loh, setiap perempuan pasti mendapat tamu bulanan. Maksudnya tamu bulanan itu, men_struasi." Jawab Landa sedikit ada rasa malu.
"Terus, kenapa?" tanyanya lagi karena masih belum paham.
"Aku tidak ada pem_balut, soalnya kemarin lupa saat asisten rumah mengemasi barang-barang aku yang mau dibawa kesini. Jadi, aku mau minta tolong sama kamu untuk membelikannya untukku."
"Oh, itu. Memangnya belinya dimana? beritahu saya, nanti saya akan membelikannya untuk Nona."
"Baiklah kalau gitu, saya akan keluar sebentar." Jawab Ciko dan bergegas pergi untuk membelikan pem_balut untuk istrinya.
Landa yang awalnya khawatir akan mengalami kebocoran, akhirnya dapat bernapas lega.
"Akhirnya aku bisa meminta bantuan, Bi Rena sih, ngapain juga bisa lalai begini. Setidaknya itu ada persiapan, gini nih kan jadinya bikin malu aku sendiri." Gumamnya sambil menyisir rambutnya.
Karena jenuh berada dalam kamar suaminya, kedua matanya melihat-lihat isi ruangan kamar dari sudut pindah ke sudut lainnya.
"Kamarnya sangat rajin, juga tertata rapi. Sepertinya dia cowok yang sangat menjaga kebersamaan dan juga kerajinan. Jarang-jarang kamar cowok serapi ini, biasanya apa-apanya berantakan. Tapi tidak untuk dirinya, semua ruangan juga aku merasa sangat rapi." Gumamnya sambil lihat-lihat isi kamar suaminya.
__ADS_1
Cukup lama memperhatikan isi kamar milik suaminya, tiba-tiba kedua matanya tertuju pada sebuah kotak yang ada disudut mejanya.
"Kotak apa itu? sepertinya sangat unik." Gumamnya penuh tanda tanya, tentu saja membuatnya penasaran.
Karena penasaran dan juga ingin mengetahui isi didalamnya, Landa berjalan mendekatinya. Kemudian, ia meraih kotak kecil tersebut.
"Bentuknya sangat unik." Gumamnya saat kotak tersebut berada di tangannya.
Karena sudah tidak sabar ingin melihat isinya, Landa langsung membukanya tanpa izin dari suaminya karena penasaran.
Saat kotak tersebut dapat dibuka, Landa mengambil isi didalamnya.
Seketika, alangkah terkejutnya saat melihat apa yang ia pegang di tangannya. Kedua matanya terbelalak saat mengenali apa yang ia pegang.
"Kalung liontin, dari mana dia dapatkan kalung ini?" ucapnya lirih saat mengenali kalung liontin yang ada ditangannya.
"Nona, ini barang yang Nona pesan."
Saat itu juga, Landa terkesiap dan sangat terkejut ketika mendengar suara suaminya memanggil dirinya.
Landa langsung menoleh tanpa mengembalikan kalung liontin yang ada ditangannya pada kotaknya.
Ciko yang melihatnya, pun terkejut saat istrinya tengah memegang kalung yang ia dapatkan dari seorang gadis kecil di masa lalu yang pernah ia tabrak.
__ADS_1