Bodyguard Pewaris Tunggal

Bodyguard Pewaris Tunggal
Melakukan pertemuan


__ADS_3

Selesai sarapan pagi, Landa maupun Ciko segera bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Gane. Tentunya sesuai janji untuk melakukan pertemuan antara Tuan Hardika bersama Tuan Herdi Ningrat.


"Sudah cantik, gak perlu kamu memolesnya terus menerus, yang ada entar kamunya kek ondel-ondel." Ucap Ciko sambil mengenakan jam tangannya.


Landa langsung mendongak.


"Enggak apa-apa kek ondel-ondel, udah laku ini mah." Jawab Landa dengan senyum menggoda.


"Jangan memancingku, entar bisa lebih bahaya lagi dari semalam."


"Hem. Ya deh ya, aku mau ke kamar mandi bentar, kebelet."


"Astaga! apakah kebiasaan perempuan seperti itu kah? sampai sampai tinggal berangkat aja harus melapor dulu, hem." Gumam Ciko sambil menggelengkan kepala yang tidak mengerti dengan istrinya.


Setelah tidak ada yang tertinggal, Ciko dan istrinya segera berangkat ke rumah adik iparnya untuk melakukan pertemuan kepada Tuan Herdika.


Namun sebelum berangkat, Ciko menghubungi ayah mertuanya terlebih dahulu untuk memberitahu jika dirinya akan segera berangkat.


"Gimana, ayah ikut datang, 'kan?" tanya Landa sambil meraih tas kecilnya.

__ADS_1


Tidak ada yang tertinggal, Landa bersama suaminya segera berangkat.


Dalam perjalanan menuju rumah adik iparnya, keduanya banyak bertukar cerita, termasuk melanjutkan obrolannya waktu di dapur saat membahas pertemuan adiknya bersama suaminya.


"Oh, begitu ceritanya. Ternyata kamu berpisah dengan adikmu cukup lama juga ya. Anehnya lagi tuh, si Regar kenapa menikahnya dengan adik angkatnya Nanney. Oh, sungguh benar dunia ini bak daun kelor."


"Ya, termasuk kamu juga. Ternyata kamu gadis kecil itu, yang sudah aku celakai."


"Ya, jahat banget dulu kamu itu. Lari dari kenyataan, payah."


"Nyatanya dunia bagaikan daun kelor, kita dipertemukan lagi. Gak tahunya juga, kamu perempuan yang diwasiatkan. Benar-benar sangat sempit dunia ini, semoga saja kita memang berjodoh." Ucap Ciko sambil menyetir mobil.


Lain lagi di rumah Gane, ada sosok Tuan Hardika yang tengah menikmati sarapan pagi bersama keluarganya sendiri di kediaman keluarga Huttama.


Tuan Hardika yang tidak lain adalah keponakan Huttama sendiri, yang diakui sebagai anak Huttama sendiri. Tapi tidak untuk Tuan Prasetyo, diakui anak tetapi mengambil kesempatan emas.


Entah apa yang menjadi permasalahan, hingga membuat sosok Tuan Prasetyo tidak ada hentinya untuk menjadi pengacau.


"Istrimu kapan lahirannya, Gan? Paman sudah tidak sabar untuk menyambut kehadiran penerus Huttama."

__ADS_1


"Tidak lama lagi, Paman. Doakan saja, semoga dilancarkan dalam persalinannya." Jawab Gane disela-sela mengunyah makanan.


"Ya, Gan, Paman doakan yang terbaik untuk keselamatan calon anakmu juga istrimu. Oh ya, Regar kemana? perasaan dari semalam aku tidak melihatnya."


"Regar sedang liburan di luar negri, sekalian melakukan kerja sama dengan rekan bisnisnya."


"Tapi gak tinggal satu rumah, 'kan?"


"Tidak, Paman. Mau bagaimanapun, tetap harus pisah rumah, apapun alasannya. Paman tahu sendiri, bahwa Nanney adalah mantan istrinya Regar. Tentu saja tidak aku izinkan untuk tinggal satu rumah, sekalipun Regar telah mempunyai istri lagi." Jawab Gane dengan segala penjelasannya.


"Yang dikatakan kamu itu memang benar, sebaiknya tidak satu rumah. Dan rumah utama tetap jatuh ditangan kamu, karena kamu anak pertama yang berkuasa." Kata Tuan Hardika.


"Soal itu tidak menjadi permasalahan, Paman. Setidaknya tidak tinggal dalam satu rumah, jika ada acara pun akan ada batasannya masing-masing." Ucap Gane.


"Oh ya, mana Ciko? sepertinya belum kelihatan. Paman dengar jika Ciko sudah menikah? benarkah?"


"Benar, Paman. Maka dari itu, ada banyak masalah yang harus dikuak akan kebenarannya."


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Kita tunggu Ciko datang dulu, Paman. Ah ya lupa, ayah mertuanya juga akan ikut datang ke sini. Mungkin lagi dalam perjalanan, kita tunggu saja." Kata Gane.


__ADS_2