
Masih dengan keadaan yang tegang, Ciko masih dalam cengkraman Alex dengan kondisi Ciko yang mana kedua tangannya di ikat dari belakang. Sedangkan Landa sendiri masih dalam pengawasan dua orang.
Dengan tatapan yang dipenuhi dengan kebencian, Aina datang mendekati. Tidak lupa juga si Ciko ikut mengawasi istrinya yang tengah dalam penjagaan ketat oleh anak buahnya Alex.
"Kau jangan coba-coba untuk memberontak. Sekali kau mencoba untuk melawan, maka pelatuk ini akan aku hempaskan tepat menembus pada otakmu." Ancam Alex dengan sebuah bibir pistol yang ia tempelkan tepat di pelipisnya, hampir tertuju pada matanya.
Napas yang semakin terasa panas bercampur amarah, ingin rasanya menghajar balik pada Alex. Dengan sekuat tenaganya, Ciko langsung menggunakan triknya untuk bangkit dari posisinya dengan cara kedua kakinya yang bekerja, yakni menghalau tubuh Alex dengan kedua kakinya secara bergantian, hingga pistol yang ada ditangannya terlempar jauh, tepat di hadapan Aina.
Suasana semakin mencekam, beberapa anak buahnya Alex tidak berani mene_mbak Ciko dengan senjata pistolnya karena perlu menunggu perintah.
"Ke_parat! kau Ciko. Tembak orang itu, bila perlu tembus hingga ke dadanya." Umpat Alex yang juga memberi perintah kepada anak buahnya.
DOR!
DOR!
DOR!
Sebuah peluru telah dihempaskan oleh anak buah Alex secara bergantian. Berkali-kali si Ciko berguling untuk menghindari banyaknya peluru yang mengarah padanya.
"Aina! lemparkan pistolnya padaku." Perintah Alex dengan suara yang lantang. sedangkan Pak Bunan bergegas untuk melarikan diri saat putrinya melemparkan sebuah pistol kepada Alex.
__ADS_1
Tentu saja, Pak Bunan dapat melihat ada banyak anggota polisi yang sudah datang.
"Aina, ayo kita pergi tempat. Sekarang ini kita dalam bahaya." Bisik Pak Bunan pada putrinya.
Saat itu juga, Aina langsung melemparkan pis_tolnya pada Alex.
DOR!
DOR!
DOR!
"Jangan bergerak!"
Saat itu juga kedua telapak tangan Alex telah tembus oleh dua peluru yang dilesatkan oleh dua anggota polisi yang berhasil menembaknya.
Tidak hanya itu saja, salah satu kakinya mendapat tembakan dari seorang polisi dengan jarak yang tidak begitu jauh.
Badannya langsung terjatuh dan tersungkur karena rasa sakit yang ia rasakan. Saat itu juga, Alex langsung ditangkap dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Sama halnya dengan beberapa anak buahnya yang sempat melarikan diri, juga ada sebagian yang tertangkap.
Sedangkan Pak Bunan bersama putrinya dalam pengejaran beberapa anggota polisi untuk menangkap mereka berdua, juga ada anak buah dari Alex yang ikut menjadi kejaran polisi.
__ADS_1
Lain lagi dengan Ciko, rupanya dirinya telah pingsan karena terbentur saat menghindari peluru yang menyerang dirinya, hanya bagian kaki yang terserempet oleh peluru yang dilesatkan oleh anak buahnya Alex.
Begitu juga dengan Landa, tubuhnya terpental karena dorongan kuat dari Aina hingga terjatuh, untungnya saja tidak cidera yang serius.
Tuan Hardi bersama Gane yang melihat kondisi Ciko dan Landa yang memprihatinkan, langsung dilarikan ke rumah sakit. Sedangkan Tuan Hardika yang ikut menyusul, kini yang menggantikan Ciko untuk memberi penjelasan saat di kantor polisi.
Aina dan ayahnya yang tengah berlari terbirit-birit, rasa lelah mulai dirasakan saat harus menghindari kejaran oleh beberapa anggota polisi, juga beberapa anak buah Tuan Herdi, juga anak buah Gane.
"Pa, bagaimana ini?" tanya Aina bercampur dengan perasaan takut.
"Tidak punya cara lain, kita terus lari sampai ke jalan utama. Ayo, kita tidak mempunyai waktu lagi." Jawab Pak Bunan yang langsung menarik tangan putrinya untuk terus berlari agar terhindar dari kejaran polisi.
Aina yang tidak mau hidupnya berakhir di balik jeruji besi. Dengan nekad untuk terus berlari.
"Ayo kita menyebrang." Ajak Pak Bunan sambil menggandeng tangan putrinya untuk menyebrang jalan.
Aina maupun Pak Bunan yang tidak melihat sisi kanan dan kiri, langsung menerjang arus jalan yang dimana banyak kendaraan yang berlawanan dengan kecepatan tinggi.
"Aaaaaaa!" Teriak Aina bersamaan ayahnya.
Naas, keduanya tertabrak mobil dan terlempar dengan jauh. Mobil pun ikut terjun ke jurang, lantaran kesulitan untuk mengendalikan setir mobilnya.
__ADS_1
Semua orang yang berkendara langsung berhenti dan segera melihat situasi yang mencekam.
Saat diperiksa kondisi korban, telah dinyatakan meninggal dunia, Anina dan ayahnya.