
Waktu yang tidak pernah ditunggu-tunggu, rupanya pagi telah menyambutnya dengan dibarengi sinar matahari hingga menembus celah ventilasi kamar.
Sekretaris Ciko yang baru saja terbangun dari tidurnya, bagai mimpi di siang bolong jika hari yang ia sambut adalah hari pernikahannya. Sungguh sangat membuatnya seperti mimpi.
"Bro! udah siang ini loh, ngapain aja lu dikamar. Woi! buka pintunya, Bro." Panggil Doin suara yang cukup kerasa, juga tentunya membangunkan tidurnya yang begitu pulas.
Sekretaris Ciko yang dikagetkan oleh Doin, segera bangun dan membuka pintunya.
"Apaan sih, Lu. Ganggu aja orang lagi tidur, sudah sana pergi." Ucap sekretaris Ciko yang masih terasa mengantuk.
"Hei! Bro, gile Lu."
"Apaan lagi, Bro?"
"Kamu ini ya, kadang kadang jadi kadang kurang vitamin. Ini hari, hari pernikahan kamu. Gimana sih kamu, tuh lihat jamnya." Jawab Doin sambil memutar balikkan badannya sekretaris Ciko mengarah pada jam dinding yang bertengger di dinding kamarnya.
"Ah! ya, Bro. Hari ini aku menikah kan, ya.. Astaga! kenapa kamu baru mengingatkan aku, Bro." Kata sekretaris Ciko yang baru tersadar jika dirinya akan menikah.
Doin hanya geleng-geleng kepala saat melihat temannya yang entah kenapa, antara pura-pura amnesia, atau memang masih terbawa mimpinya.
Begitu juga dengan orang-orang kepercayaan adik iparnya yang sedari tadi sibuk menyiapkan perlengkapannya untuk mengantarkan calon pengantin laki-laki, semua tengah disibukkan dengan tugasnya masing-masing.
Nanney selaku adiknya, tengah mempersiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh kakak kandungnya. Meski dengan keadaan tengah hamil, tidak membuat seorang Nanney bermalas-malasan.
"Sayang, ini baju yang harus kamu pakai di acara pernikahannya Kak Ciko, biar sepadan sama punyaku. Oh ya, Regar sama Henny jadi pulang, 'kan?"
"Katanya nanti menyusul, soalnya sekarang sedang dalam perjalanan pulang." Jawab Gane sambil mengenakan baju kemejanya dibantu istrinya.
"Oh, kirain gak akan pulang."
"Kenapa? jangan bilang kalau kamu ..." tanya Gane menggantungkan kalimatnya.
__ADS_1
Saat itu juga, Nanney langsung menc_ium bibir milik suaminya.
"Tidak usah mengingatkan aku, karena aku hanya mencintai kamu, sayang." Ucap Nanney yang tidak ingin mengingat masa lalunya, cukup untuk dijadikan masa lalu yang tidak perlu untuk diingat kembali.
Kemudian, Gane langsung memeluk istrinya sebentar meski dengan kondisi perutnya yang semakin besar.
"Aku percaya kok sama kamu, karena cintamu hanya untukku dan calon buah hati kita." Jawab Gane sambil menatap istrinya.
Nanney yang mendengarnya, pun mengernyit. Bagaimana tidak mengernyit, hubungan suami-istri yang ia lakukan bukanlah atas dasar cinta, melainkan telah meminum dan memakan makanan yang salah pesan. Tentunya, keduanya akhirnya tertawa kecil saat mengingat kejadian aneh yang menurutnya sangat konyol itu, Nanney tersenyum malu-malu.
"Sudahlah, tidak perlu kita mengingat kesalahan kita dulu. Lebih baik sekarang ini kita menata masa depan kita sebaik mungkin untuk anak anak kita kelak nanti sesudah lahir." Kata Gane sambil meraih jam tangannya, dan dibantu istrinya untuk mengenakannya.
"Ya, sayang. Makanya, tidak perlu memberi kode untukku mengingat kembali. Kita sudah mempunyai impian, tidak perlu kita menoleh kebelakang." Jawab Nanney dengan senyum yang manis.
Seketika, keduanya baru tersadar jika dirinya harus segera berangkat ke rumah sang kakak yang sebentar lagi akan berangkat ke tempat mempelai pengantin wanita.
"Astaga! ini jam berapa, sayang? waduh, bisa berabe nih sama Kak Ciko."
"Ah ya, sayang. Ya udah kalau gitu, ayo kita segera bersiap-siap, sayang. Bisa-bisa suami kamu ini dijadikan bahan rempeyek tuh sama Kakak kamu yang super cerewet itu." Kata Gane yang langsung menyambar jasnya, dan segera mengenakannya.
"Sayang, aku panggil Nenek Aruma dulu ya. Kamu tunggu aku di mobil, ini pakaian lengkap untuk Kak Ciko bawa masuk ke mobil." Ucap Nanney meminta bantuan kepada suaminya.
"Kalian berdua kenapa? kelihatannya terburu-buru gitu, memangnya sudah pada siap untuk berangkat?"
"Ya, Nek, kita tinggal berangkat saja. Nenek Aruma sudah siap untuk berangkat, 'kan?"
"Ya, Nenek sudah siap. Sebenarnya Nenek mau menunggu Henny, tapi sepertinya kelamaan. Ya udah Nenek ikut kalian saja akhirnya." Jawab Nenek Aruma yang kini tinggal bersama Nanney.
"Henny masih dalam perjalanan pulang, Nek. Pastinya mereka berdua akan kecapean, juga mungkin butuh istirahat juga. Jadi, Nenek berangkat duluan aja bareng kita, Nek."
"Ya, Nek. Takutnya mereka berdua gagal datang, dan memilih untuk istirahat. Jadi, lebih baik Nenek ikut bareng kita saja, gimana?" Gane ikut menimpali.
__ADS_1
"Ya, Nak." Jawab Nenek Aruma yang akhirnya pasrah dan ikut ajakan Nanney yang sudah dianggapnya anak kandung sendiri.
Lain lagi di kediaman keluarga Tuan Herdi Ningrat, Landa tengah disibukkan dengan penampilannya.
"Ma, serius nih, Landa mau menikah?" tanya landa yang tengah di make-up.
"Ya, sayang. Kamu akan menikah dengan lelaki yang akan siap menjadi suamimu, juga bertanggung atas kamu. Perai dengan Mama, bahwa lelaki pilihan Papa kamu itu jauh lebih baik dari pada Alex yang sudah berkhianat padamu."
"Tapi, Ma. Alex menikah kan, juga karena Papa tidak mau merestuinya. Ya mungkin saja si Alex akhirnya dendam sama keluarga kita." Kata Landa yang entah kenapa keraguannya untuk menikah seolah tengah menguasai pikirannya.
"Sudahlah sayang, lebih baik kamu fokus dulu dengan acara pernikahan kamu. Ingat, kesempatan tidak akan datang kedua kalinya. Apa ya, calon suami kamu ini biar menikah dengan Aina? perempuan itu sangat mencintai calon suami kamu loh, gimana menurut kamu?"
Landa langsung mendelik, dan menatap cermin yang ada di hadapannya itu.
Diam, ya hanya itu yang bisa dilakukan oleh seorang Landa ketika tidak mampu untuk menjawab. Apalagi mengenai sekretarisnya itu, tidak mempunyai kata-kata apapun yang bisa untuk dilontarkan kepada ibunya.
Tidak mau banyak pertanyaan dan menjadi beban pikirannya karena harus memikirkan hal yang hanya menguras energi dan pikirannya, Landa lebih memilih untuk diam.
Sedangkan di kantor, rupanya semua karyawan tengah dihebohkan dengan pernikahan sekretarisnya itu.
"Serius nih, kita menghadiri acara pernikahannya Bos Landa dengan penampilan yang seperti ini?" tanya salah seorang karyawan yang baru saja ikutan berkumpul dengan karyawan lainnya.
"Ya iyalah, namanya juga pegawai kantor, berangkatnya saja kompakan dalam satu mobil bus yang sudah di sediakan oleh pihak kantor, tentu saja kita berangkatnya dengan penampilan kita yang seperti ini." Sahut karyawan yang satunya.
"Ya juga sih, kita ini kan dalam jam kerja. Masih untung dapet gratis. Hitung-hitung kita makan bareng." Ucap satunya lagi.
Saat terdengar obrolan para karyawan, seseorang yang menjadi orang kepercayaan Tuan Herdi Ningrat, segera menghampiri dan memberi perintah untuk segera bersiap-siap berangkat.
Tidak ada pilihan lainnya, mau tidak mau, semua karyawan di antar menggunakan jasa mobil Bus.
Berbeda lagi dengan Rafaza yang tengah berada di kantor, ia mulai gelisah karena tidak mengetahui siapa lelaki yang akan menjadi suaminya Landa.
__ADS_1
"Datang apa gak ya? kalau gak, tentu saja aku penasaran. Jika datang, tentu saja aku merasa sakit hati. Sudah mencoba bersabar untuk melihat Landa berpisah dengan Alex, dan kini justru menikah dengan lelaki yang sama sekali aku tidak mengetahuinya." Gumamnya sambil memainkan penanya.
Rasa penasaran karena ingin mengetahui dengan kedua mata dan kepalanya sendiri, akhirnya putuskan untuk datang ke acara pernikahan Landa.