
Karena tidak ingin ada sesuatu yang terbengkalai, Gane mengajaknya pulang.
"Kita pulang saja dulu, bagaimana Tuan Herdi? soalnya untuk menemui Paman Hardika harus membuat janji, karena tempat tinggalnya yang jauh, juga di kota seberang."
"Tidak apa-apa, yang terpenting tidak mengganggu kesibukan Paman kamu. Saya dan Ciko siap menunggu kabar dari Tuan Gane. Jadi, hubungi saja langsung jika Tuan Hardika bisa diajak untuk melakukan pertemuan." Jawab Tuan Herdi yang menyetujui saran dari adik ipar menantunya.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi. Dan kamu Cik, percayakan semuanya padaku. Sekarang giliran ku yang akan membantumu untuk mengupas tentang keluargamu. Jaga istrimu dengan baik, bisa juga istrimu yang akan menjadi incaran." Ucap Gane, dan tak lupa mengingatkan kakak iparnya.
Ciko mengangguk mengerti.
Setelah itu, Tuan Herdi pulang bersama menantunya. Sedangkan Gane pulang bersama supir pribadinya.
Selama perjalanan pulang, Ciko bersama ayah mertuanya membicarakan tentang sosok Tuan Pras yang sangat dikenalinya. Banyak sekali cerita tentangnya, Tuan Herdi sendiri benar-benar sangat terkejut dengan cerita yang penuh menyayat hati.
__ADS_1
"Semoga kita bisa menguak semuanya, dan kamu bisa hidup dengan tenang dan bahagia atas pernikahan kamu, Nak Ciko. Papa turut bersedih atas insiden yang pernah kamu terima bersama keluarga kamu juga keluarga adik ipar mu." Ucap Tuan Herdi disela-sela dalam perjalanan pulang.
"Semoga saja, Pa. Saya sendiri tidak tahu, kenapa Tuan Prasetyo begitu keji terhadap kami. Padahal yang saya tahu, Tuan Pras orangnya baik, tetapi kenyataannya itu semua hanyalah dijadikan topeng. Saya hanya bisa berharap, jika Tuan Hardika bisa dijadikan saksi kebenaran atas terkuaknya kejahatan yang dimiliki oleh Tuan Prasetyo." Jawab Ciko sambil menyetir mobilnya.
Cukup lama dalam perjalanan, akhirnya sampai juga di halaman rumah keluarga Ningrat. Tuan Herdi dan menantunya segera turun dari mobil dan masuk kedalam rumah.
"Kalian sudah pulang rupanya, bagaimana hasilnya?" tanya istrinya Tuan Herdi saat mendapati suami dan menantunya yang baru saja pulang.
"Syukurlah, semoga saja semua bisa diselesaikan dengan baik. Sekarang sudah siang, juga sudah waktunya untuk makan siang. Nak Ciko, ajak istrimu untuk makan siang ya. Masuk aja ke kamar istrimu, tak perlu malu dan juga canggung. Rumah ini juga rumah kamu, tidak perlu sungkan." Ucap ibunya Landa, dan tak lupa meminta kepada menantunya untuk mengajak istrinya Ciko sendiri agar mau makan siang bersama.
"Tapi, Ma. Bukannya Nona Landa masih marah dengan saya? takutnya nanti akan bertambah marah."
Belum juga menjawab, ibu mertua tertawa kecil mendengar menantunya bicara.
__ADS_1
"Kamu ini gimana sih, Landa itu sudah menjadi istri kamu. Kenapa kamu masih panggil nama Nona, kamu bukan sekretarisnya, tetapi suaminya. Dan kamu tidak perlu panggil dia Nona, sebut saja namanya." Kata ibu mertuanya.
"I-ya, Ma." Jawab Ciko setengah gugup, dan bergegas menuju kamar istrinya.
Tuan Herdi yang melihat menantunya masih kelihatan kaku, teringat juga akan masa lalunya saat dijodohkan dengan ibunya Landa.
"Ternyata Papa gak sendirian, rupanya menantuku sama sepertiku, pemalu dan juga canggung." Kata Tuan Herdi sembari melepaskan jasnya.
"Hem, Papa aja yang malu malu kucing." Tuduh istrinya.
"Bagus itu, sebaiknya lelaki itu jual mahal, agar tidak diremehin oleh perempuan." Kata Tuan Herdi mencari pembenaran.
"Sudah sudah, lebih baik Papa cuci tangan dulu. Setelah itu, baru makan siang bareng anak dan menantu." Jawab ibunya Landa.
__ADS_1