Bodyguard Pewaris Tunggal

Bodyguard Pewaris Tunggal
Memilih kamar


__ADS_3

Sampailah di rumah yang sederhana, rumah yang jauh dari kata mewah, namun didalamnya masih menyimpan kenangan adik perempuannya yang dulu pernah disandera oleh Bosnya dulu yang kini telah menjadi adik iparnya.


Saat baru saja sampai di depan rumah, sekretaris Ciko segera turun dari mobil. Kemudian, diikuti oleh Landa yang kini sudah resmi menjadi istri sekretarisnya.


"Ini beneran rumah kamu?" tanya Landa sambil mengamati di sekitaran rumah suaminya.


"Ya, ini rumahku, pemberian dari adik iparku." Jawab sekretaris Ciko tanpa harus menutup-nutupinya.


"Oh, kirain."


"Kenapa? malu ya, punya suami yang tidak setajir keluarga Nona."


"Enggak, bukan begitu maksud aku. Maksud aku rumah kerja keras kamu, itu saja kok. Dan aku tidak bermaksud untuk menyinggung. Tadi kan, aku cuma tanya, hanya itu saja kok. Maaf, jika sudah membuatmu salah paham."


"Oh, enggak apa-apa." Kata Landa, dan menggigit bibir bawahnya, karena takut jika dirinya disangka telah menyinggung suaminya.


"Ayo kita masuk ke dalam, Nona. Maaf, jika rumahnya tidak nyaman untuk Nona tempati. Saya tidak bisa janji, tapi saya akan berusaha bekerja keras untuk membahagiakan Nona." Ucap sekretaris Ciko saat sudah berada di depan pintu utama untuk masuk.

__ADS_1


Tanpa menjawab ucapan dari suaminya, Landa mengikutinya dari belakang suaminya untuk masuk kedalam rumah.


Sambil celingukan, pandangan dari sosok Landa tengah mengamati isi ruangan tersebut. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah bingkai besar yang tedapat foto anak kecil dan lelaki yang belum juga remaja telah terpajang pada dinding yang kokoh.


"Itu foto siapa?" tanya Landa saat dirinya merasa penasaran dan tertarik untuk mengetahuinya.


"Foto masa kecilnya adik perempuanku bersama lelaki yang sekarang ini telah menjadi suaminya, namanya Nanney dan Gamenta. Keduanya terpisah dengan waktu yang begitu lama, dan dipertemukan di usia yang sudah sama dewasanya." Jawab sekretaris Ciko menjelaskan.


"Oh, perempuan yang hamil tadi itu ya, yang bareng suaminya." Ucap Landa memastikan.


"Ya, benar."


"Benar sekali, Nona. Tapi kenyataannya masih hidup, dan sudah menikah lagi dengan perempuan lain."


"Oh, jadi benar kakaknya Regar. Kok menikah lagi, memangnya istri pertamanya kemana?"


"Istri pertamanya juga sudah menikah lagi, Nona. Sudahlah, tidak penting membicarakan hal pribadi orang lain. Lebih baik sekarang ini Nona segera istirahat, atau mau membersihkan badan dulu, siapa tahu Nona merasa gerah." Jawab sang suami.

__ADS_1


"Ya, dimana kamar untukku?" tanya Landa soal tempat tidur yang dikhususkan untuk dirinya.


"Kamar tidur untuk Nona?" tanya suaminya balik.


"Ya, kamar untukku. Masa ya, akunya harus tidur dengan kamu, yang benar saja. Kita ini nikah karena perjodohan. Jadi, tidak ada alasan apapun untuk tidur di kamar masing-masing." Jawab Landa.


"Oh, jadi Nona ingin tidur sendirian?" tanya sang suami untuk memastikannya.


"Ya lah, masa tidurnya bareng kamu, jangan mimpi. Siapa juga yang mau tidur denganmu, ingat ya jangan kepedean." Kata Landa dengan ketus.


"Baiklah, Nona tinggal pilih mau tidur dimana. Itu, itu, ada kamar dua, Nona silakan pilih sendiri." Ucap suaminya sambil menunjuk ke arah dua kamar secara bergantian.


Landa yang tidak mau salah memilih kamar untuk dijadikan tempat tidurnya, langsung mengeceknya. Sedangkan suaminya mengikutinya dari belakang, takutnya mendapat pertanyaan dari sang istri.


Begitu jelinya saat memeriksa ruangan tersebut, Landa pindah untuk memeriksa kamar yang satunya lagi.


"Aku pilih yang ini, titik." Ucap Landa sesuai dengan pilihannya, yakni kamar milik suaminya sendiri.

__ADS_1


"Baiklah, mulai dari sekarang Nona bisa menempatinya. Untuk soal kualitas, saya harap kepada Nona untuk tetap menerimanya." Jawab sang suami.


Setelah itu, Landa bergegas untuk segera keluar dari kamar yang ia pilih untuk mengambil kopernya. Kemudian, ia kembali lagi ke kamarnya.


__ADS_2