
Selesai membicarakan perihal tentang Tuan Prasetyo, Tuan Hardika merasa lega, begitu juga dengan Ciko sendiri yang sama halnya merasa tidak ada lagi beban yang menghimpit pikirannya.
Setelah itu, Tuan Herdi berpamitan untuk pulang ke rumah. Juga dengan Ciko, yang sama seperti ayah mertuanya yang memilih untuk langsung pulang.
"Kak Ciko mau pulang juga?" tanya Nanney yang merasa keberatan saat harus di tinggal pulang oleh kakak iparnya.
"Ya, Kakak harus pulang. Kakak masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, juga ada hal penting lainnya yang perlu untuk ditindak lanjuti. Dan kamu Bos Gane, selalu berada di dekat ponsel, aku bisa menghubungimu kapanpun." Jawab Ciko dan tak lupa memberi pesan kepada adik iparnya.
"Siap, Kakak ipar."
"Cih! karena sudah menikah, lantas kamu panggil aku Kakak ipar, tidak lucu. Sudahlah aku mau pulang, jaga adikku dan calon keponakanku dengan baik, awas saja kalau kenapa-napa, ingat itu." Kata Ciko yang dengan sengaja memberi ancaman kepada adik iparnya.
"Bah! ancaman macam itu, ya jelas lah jika aku yang bertanggung jawab atas istriku. Sudah sudah sudah, buruan kamu pulang, bikin gaduh aja di rumahku." Ucap Gane yang tak mau kalah dari kakak iparnya.
Ciko yang juga ingin segera pulang, ia langsung mengajak istrinya untuk pulang ke rumah.
Setelah berpamitan, Ciko bersama istrinya segera pulang dari rumah adik iparnya. Selama dalam perjalanan, Ciko tidak lagi pusing untuk memikirkan sesuatu yang beberapa hari ini menguasai pikirannya.
__ADS_1
"Kita mau langsung pulang nih?" tanya Landa sambil menatap lurus ke depan.
Ciko langsung menoleh pada istrinya sambil menyetir.
"Memangnya maunya kamu pergi kemana?" tanya Ciko balik pada istrinya.
"Gimana kalau kita pergi ke danau kecil, kan kamu sudah janji."
"Oh ya ya, lupa. Ok lah kalau maunya ke danau, sekalian makan siang di sana."
"Tapi, kalau nanti bertemu Aina lagi, gimana? awas ya, kalau danau itu sudah pernah kamu datangi bersama Aina. Pokoknya aku bakal mogok makan, titik."
"Enggak enggak, tapi gak tahu juga jika Aina menyuruh orang suruhannya untuk mengikuti kita. Tapi tenang aja, aku sudah siapkan beberapa anak buahku untuk mengikuti kita dari belakang." Ucap Ciko yang tidak ingin membuat cemas kepada istrinya.
Landa yang mendengar kata anak buah, langsung menoleh ke belakang, juga memeriksanya lewat kaca spion.
"Mana, gak ada mobil yang seperti orang tengah mengikuti kita. Kamu bohong, ya?"
__ADS_1
Landa yang belum percaya, sedikit melengos.
Lagi-lagi Ciko kembali tersenyum melihat ekspresi istrinya yang tengah cemburu.
"Namanya juga mata-mata, masa ya nunjukin posisi dengan terang terangan, kamu ini." Kata Ciko sambil menyetir, hingga sampai tidak terasa sudah berada di parkiran yang ada di danau.
Landa yang melihat keramaian orang yang berlalu lalang, menyimpan rasa penasaran dan ingin secepatnya turun dari mobil dan melihat danaunya.
"Kita sudah sampai, mau makan dulu apa jalan-jalan dulu."
"Jalan-jalan dulu aja, makannya nanti nunggu lapar." Kata Landa yang sudah tidak sabar ingin melihat keindahan danaunya.
"Ya, sayang. Ya udah, ayo kita turun."
"Panggil apa tadi? agak gak kedengaran."
Dengan sengaja, Landa meminta suaminya untuk mengulangi kalimatnya.
__ADS_1
"Sayang, sayangku." Kata Ciko yang semakin mendekatkan wajahnya.
Landa tersenyum dan langsung menc_ium pipi kiri milik suaminya.