Bodyguard Pewaris Tunggal

Bodyguard Pewaris Tunggal
Jatuh pingsan


__ADS_3

Tuan Herdi menghela napasnya pelan.


"Silakan diminum, Tuan." Ucap Gane kembali.


"Terima kasih, Tuan Gane." Jawab Tuan Herdi sambil meraih gelas yang berisi air putih.


Setelah minum, sedikit tenang pikirannya.


"Kalau boleh tahu, apakah Tuan Herdi mengenal ayah dari Ciko?" tanya Gane penasaran.


Tentu saja, ingin mengetahui kebenarannya.


"Ceritanya sangat panjang, semua berawal dari wasiat." Jawab Tuan Herdi dengan napasnya yang masih terasa sesak.


"Wasiat, maksud Tuan Herdi wasiat apakah itu?"


"Begini ceritanya, Tuan Gane. Ayah sekretaris Ciko yang bernama Wicaksono itu sebenarnya penerus keluar Diningrat, nama yang sejajar dengan kami. Orang tua kami berasal dari anak angkat oleh keluarga besar Lingrat. Tapi, nama itu di hapus. Pembagian warisan dengan jumlah yang sama, dan membuat keluarga masing-masing dengan nama yang berbeda, satu Diningrat, yang satunya Ningrat."


"Tunggu, saya masih belum jelas." Ucap Gane yang merasa sulit untuk mencerna.


"Jadi, antara ayah Tuan Wicaksono dan ayah saya adalah berawal dari anak jalanan yang diadopsi dari keluarga Lingrat yang tidak mempunyai keturunan sama sekali, Lingrat adalah Tunggal. Tidak ingin membebani kami, maka di pecahlah nama itu. Diningrat dan Ningrat, agar membentuk keluarga masing-masing tanpa ada keterikatan. Tapi, kenyatannya insiden masa kecil Tuan Wicaksono telah diculik. Kami susah payah mencari keberadaannya, sama sekali tidak kami temukan titik terang. Dan saat kami menemukannya, ternyata keberadaan Tuan Wicaksono diberitakan telah meninggal dunia bersama keluarga Huttama. Berita tersebar, semua telah meninggal dunia, hanya kedua cucunya." Jawab Tuan Herdi menjelaskan begitu panjang lebar.


Gane yang mendengar penjelasan dari Tuan Herdi, seperti tidak percaya. Tapi memang benar, jika Tuan Herdi sedang tidak mengada-ngada.

__ADS_1


Sedangkan dua orang yang sedari tadi mendengarnya, bagai tersambar petir saat mendengar langsung penjelasan dari Tuan Herdi Ningrat ketika menjelaskan semuanya begitu detail.


"Nanney!" teriak sekretaris Ciko langsung menangkap tubuh adiknya yang hendak jatuh ke lantai.


Saat itu juga, Gane yang sebagai suaminya terperanjat kaget dan langsung lompat ke belakang dari tempat duduknya. Begitu juga dengan Herdi, sangat terkejut saat melihat istrinya Gane jatuh pingsan.


"Cepat, kamu hubungi dokter." Perintah Gane pada kakak iparnya.


Sekretaris Ciko yang khawatir, langsung menghubungi Dokter.


Sedangkan Gane segera membawanya ke kamar, dan diikuti oleh Tuan Herdi yang juga ikutan khawatir. Gane berulang kali terus menepuk kedua pipi istrinya, berharap sadar dari pingsannya.


"Maafkan saya, Tuan Gane. Saya telah ceroboh berbicara di rumah Tuan, sekali lagi saya meminta maaf."


Sekretaris Ciko yang sudah menghubungi Dokter, segera menemui adiknya. Tentu saja am sangat khawatir dengan keselamatan adiknya.


"Nanney, bangun Nan, ini Kakak." Ucap sekretaris Ciko sambil mengusap minyak angin untuk memberi respon.


Tidak lama kemudian, dokter datang dengan tepat waktu.


"Dok, tolong periksa keadaan istri saya."


"Ya, mohon untuk minggir sebentar. Saya akan memeriksa kondisi istrinya Tuan." Jawab sang dokter yang hendak memeriksa keadaan istrinya Gane, yang tidak lain adik perempuan satu-satunya milik sekretaris Ciko.

__ADS_1


Dengan serius, sang Dokter memeriksanya.


"Bagaimana dengan keadaan istri saya, Dok?" tanya Gane begitu khawatir.


"Keadaannya baik-baik saja, hanya sedikit shock. Kalau boleh tahu, apakah tadi ada yang mengagetkannya?"


"Ya, Dok. Tadi saya yang sudah mengagetkan istrinya Tuan Gane." Jawab Tuan Herdi yang merasa bersalah.


"Untuk lain kali hati-hati jika berada di dekat perempuan hamil, resikonya sangat tinggi jika tidak bisa menerimanya. Saya hanya mengingatkan saja, karena kondisi setiap orang itu berbeda-beda." Ucap sang dokter mengingatkan.


"Baik, Dok." Jawab semuanya serentak, termasuk Tuan Herdi.


Setelah memberi resep obat, Dokter yang sudah memeriksa keadaan Nanney, pamit pulang.


Kini, tinggallah Tuan Herdi bersama pemilik rumah dan sekretaris Ciko.


"Tuan Gane, maafkan kesalahan saya yang sudah lancang." Ucap Tuan Herdi merasa bersalah besar kepada pemilik rumah.


"Tidak apa-apa, ujungnya juga bakalan tahu. Dia lah yang bernama Ciko Wicaksono, seorang ayah yang sederhana, dan sangat bertanggung jawab." Jawab Gane.


Kemudian, Gane menatap kakak iparnya.


"Dan kamu, Ciko. Tuan Herdi lah yang akan menguak semua tentang keluarga kamu, bukan keluargaku sang pemilik cerita selanjutnya, tetapi Tuan Herdi. Kita tunggu istriku sadar, setelah kita bicarakan dengan kepala dingin. Ingat, tidak ada dendam atau yang lainnya." Ucap Tuan Gane sebelum membicarakan hal yang lebih serius untuk menguak masa lalu.

__ADS_1


__ADS_2