Bodyguard Pewaris Tunggal

Bodyguard Pewaris Tunggal
Tidak ditemukan


__ADS_3

Tinggallah Gane bersama sekretaris Ciko dan Nanney yang masih berada didalam kamar.


Perasaan gundah yang tengah dirasakan oleh kakak-beradik, kini tengah bengong saat kepergian Tuan Herdi yang baru saja berpamitan pulang.


"Sayang, kamu gak apa-apa kan, kalau aku tinggal kamu sebentar. Aku ada sesuatu yang ingin aku cari tahu bersama kakak kamu."


"Soal apa?" tanya Nanney ingin tahu.


"Membuka sesuatu yang penting yang tersimpan di dalam kotak rahasia. Selama ini aku belum membukanya, soalnya aku takut rasa sakit kehilangan kedua orang tua akan menyisakan luka yang begitu dalam." Jawab Gane memberi penjelasan kepada istrinya.


"Ya, Gak apa-apa." Ucap Nanney mengiyakan.


"Nanti aku panggilkan Bibi untuk menemani kamu istirahat, gak apa-apa 'kan?"


Nanney tersenyum dan mengangguk.


"Ya, sayang, gak apa-apa. Jangan lama-lama tapi, ya?"


Gane mengangguk.


"Itu sudah pasti, cuma sebentar kok. Ya udah kalau gitu, aku yang mau pindah ke ruangan kerjaku." Jawab Gane sambil mengusap perut istrinya yang sudah semakin besar.


Kemudian, Gane menc_ium keningnya.


"Kakak pinjam suami kamu dulu, hanya sebentar saja." Ucap sekretaris Ciko ikut menimpali.


"Ya, Kak. Semoga dapat ditemukannya titik terang, aku juga ingin tahu tentang semuanya, soal asal usul keluarga kita." Jawab Nanney.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu, kakak pinjam suami kamu dulu." Ucap sekretaris Ciko bergegas untuk keluar dari kamar bersama adik iparnya.


Sedangkan di tempat keluarga Ningrat, Tuan Herdi baru saja pulang. Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki.


Tuan Herdi menoleh, dan dilihatnya sang istri yang baru saja pulang dari pulau sebrang.


"Hai, Papa. Maaf, Mama baru bisa pulang, juga pulangnya gak bilang-bilang sama Papa. Soalnya tadi pagi buru-buru. Papa baru pulang dari kantor? kok, mukanya kucel gitu. Dimana Landa? apa bikin ulah lagi itu anak?"


"Enggak, Landa nggak bikin ulah. Papa cuma capek banget, gimana keadaan Ommanya Landa, baik-baik saja 'kan?"


"Keadaan Ommanya Landa baik-baik saja, cuma harus sering kontrol. Kemarin Bang Gani dan Bang Reo mau minta tolong sama Papa, tapi Mama Minta untuk bicara langsung sama kamu, Pa." Jawab ibunya Landa.


"Memangnya mau minta tolong apa, Ma?" tanya Tuan Herdi ingin tahu.


"Kita masuk ke kamar dulu, kita bicarakan di dalam kamar."


"Ya udah, ayo kita masuk ke kamar." Jawab Tuan Herdi yang juga rasanya ingin berbaring di atas tempat tidur untuk menghilangkan rasa penat.


Setelah itu, Tuan Herdi dan istrinya duduk bersebelahan di tepi tempat tidur.


"Gini loh Pa, Bang Reo dan Bang Gani mau minta bantuan sama Papa, yakni untuk mengembangkan perusahaan mereka. Kata Bang Gani, aset yang Papa miliki dari harta keluarga Diningrat untuk diminta. Katanya untuk apa itu hartanya keluarga Diningrat, karena jelas jelas sudah meninggal semua." Ucap Ibunya Landa, yakni bunda Elwa.


"Apa, Bang Gani bilang begitu? enggak tetap enggak, harta miliknya keluarga Diningrat tetap akan bertahan tanpa ada yang ikut campur tangan, Ma. Mau bagaimanapun itu, Papa tidak akan mengambilnya walau hanya satu persen harta dari keluarga Diningrat." Jawab Tuan Herdi yang masih merahasiakan keberadaan Ciko, meski terhadap istrinya sendiri.


"Terus, Mama harus bilang apa kalau Bang Gani tanya?"


"Bilang saja kalau adik ipar kamu itu tidak bisa mengambil harta miliknya keluarga Diningrat, apapun alasannya." Jawab Tuan Herdi yang tidak ingin kedua kakak dari istrinya ikut campur atas kepunyaan keluarga Diningrat.

__ADS_1


"Kalau Bang Gani sama Bang Reo marah, bagaimana? apa yang gak takut kalau mereka akan memusuhi kamu, Pa?"


"Biarin, kita jangan sampai ikut campuri sesuatu yang bukan milik kita. Sekarang lebih baik Mama mandi, dan istirahat. Soalnya Papa juga capek, ingin istirahat." Kata Tuan Herdi yang tidak ingin membicarakan sesuatu yang membuat hubungan suami istri menjadi renggang.


Ibunya Landa hanya nurut kepada suaminya, karena tidak tahu menahu atas kepunyaan orang lain.


Sedangkan di dalam kamar, Landa tengah susah payah menghubungi Rafaza yang sempat melakukan pertemuan dalam kerja sama dalam bisnisnya.


"Kenapa sih itu orang, di kirimi pesan juga gak dibales. Apa ya, Rafaza bohongi aku? tega bener dah. Aih! jangan-jangan sudah diancam sama sekretaris Ciko, si_alan." Gerutunya saat merasa kesal ketika membuka ponselnya tidak ditemukan pesan masuk di mailnya.


Berbeda lagi dengan sekretaris Ciko, tengah sibuk membuka kotak rahasia milik orang tuanya. Dengan hati-hati si Gane membukanya dibantu oleh sekretaris Ciko.


"Mungkin itu Cik, coba kamu ambil kunci yang itu. Soalnya aku juga lupa, sudah lama juga sih, aku gak pernah buka itu kotak. Aku mengira isinya hanya sebuah foto kenangan, itu saja. Coba deh cepetan kamu buka kotaknya, aku juga penasaran dengan isinya." Ucap Gane sambil mencari kunci kotak tersebut.


Seketika, Ciko telah berhasil membukanya. Gane pun terbelalak saat melihat isi dalam kotak. Kemudian, keduanya memeriksa isi dalam kotak tersebut.


Ciko yang tengah mengambil lembaran kertas yang tergulung dengan sebuah pita, langsung membukanya.


Penasaran dengan asal usulnya, Gane juga ikutan membaca. Kalimat demi kalimat, keduanya tengah teliti saat membaca tulisan dalam lembaran kertas tersebut.


"Ini mah surat perjodohan kamu dengan adikku, si Nanney." Ucap Ciko saat melihat nama Clara dan Ganenta, tidak untuk adiknya si Regar.


"Iya, ya Cik. Aku kira ada bukti walau hanya satu lembar kertas. Mungkin saja bukti itu semuanya ada pada Tuan Herdi, kalau begitu besok aku akan ikut bersamamu ke rumah Tuan Herdi." Jawab Gane yang merasa kecewa tidak ada asal usul keluarga kakak iparnya.


"Ya juga sih, Bos. Ya udah kalau gitu, sekarang aku pulang saja. Besok aku yang kesini atau kamu yang akan ke rumahku." Ucap sekretaris Ciko yang selalu memanggil adik iparnya sendiri masih seperti yang dulu.


Meski sudah menjadi ipar, panggilan yang sudah terbiasa tidak pernah luntur. Keduanya tetap akrab meski berbeda status sosialnya, bagi keduanya tidak ada pengaruh apapun atas sebutan untuk memanggil.

__ADS_1


Begitu juga dengan Gane, tidak juga memanggil dengan sebutan kakak. Bagi mereka berdua, hanya akan membuat canggung ketika bertemu, pikir sekretaris Ciko maupun Gane sendiri.


Tidak menemukan hal penting soal asal usul keluarga sekretaris Ciko, mereka berdua menutup kembali kotaknya. Kemudian, Gane menyimpannya kembali ke tempat yang menjadi ruang penyimpanan barang berharga.


__ADS_2