Bodyguard Pewaris Tunggal

Bodyguard Pewaris Tunggal
Mendapat perhatian


__ADS_3

Karena takut kenapa-napa dan terjadi sesuatu dengan suaminya, Landa segera menambahkan kecepatannya.


Tidak memakan waktu yang cukup lama, akhirnya sampai juga di depan rumah yang cukup sederhana. Karena tidak ada respon dari sang suami saat mobil berhenti, Landa cepat-cepat membantu melepaskan sabuk pengamannya, dan dirinya segera turun terlebih dahulu.


Dengan pelan, Landa mencoba untuk membangunkan suaminya.


"Bangun, kita sudah sampai." Panggil Landa sambil menggoyangkan badannya agar tersadar dari tidurnya.


Ciko yang merasa ada yang mengagetkan tidurnya, langsung membuka kedua matanya.


"Sudah sampai ya?" tanya Ciko yang langsung mengucek kedua matanya.


"Ya, kita sudah sampai. Badan kamu panas banget, apa sebaiknya kita ke rumah sakit aja langsung?"


"Enggak usah enggak usah, aku baik-baik aja kok. Istirahat aja sudah cukup, gak perlu ke rumah sakit segala." Jawab Ciko menolak ajakan dari istrinya.


Bukannya tidak mau menerima ajakan dari istrinya, melainkan Ciko tidak mau merepotkan pasangannya.


"Tapi badan kamu panas banget loh, nanti kalau kenapa-napa gimana?"


"Aku enggak apa-apa, serius. Palingan juga cuma masuk angin aja, atau gak cuma kecapekan." Kata Ciko mengelak, meski sebenarnya terasa pening bagian kepalanya.


Karena tidak ingin merepotkan istrinya, sebisa mungkin untuk bersikap biasa-biasa saja dan tidak menunjukan apa yang sedang dirasakannya.


"Sini, biar aku bantu kamu jalan sampai ke kamar. Kalau sampai kamunya jatuh, bisa bahaya nantinya." Kata Landa yang sebenarnya khawatir akan keadaan suaminya, lebih lagi mukanya terllihat pucat, tentu saja menjadi cemas.


Dengan hati-hati, Landa membantu suaminya jalan sampai di dalam rumah, hingga sampai ke kamarnya.

__ADS_1


Sampainya didalam kamar, Ciko dengan bantuan istrinya, pelan-pelan berbaring di tempat tidurnya. Kemudian, Landa menyelimuti suaminya.


Fisik yang tidak bisa diajaknya kompromi, alhasil langsung meringkuk saat baru saja berbaring dengan selimutnya sambil memeluk guling.


Landa yang begitu khawatir, langsung cepat-cepat untuk mengompres suaminya.


"Jangan, jangan pergi." Ucapnya lirih saat mengigau.


Sedangkan Landa begitu bingung saat menghadapi suaminya tengah mengigau, juga dengan suhu badannya yang cukup panas yang tinggi.


"Bagaimana ini? mana suhu badannya tinggi banget lagi, wajahnya juga ikutan pucat. Aku telpon dokter pribadinya Papa aja apa ya, kasihan kalau hanya di kompres saja. Mana gak tahu kotak obatnya dimana, ah ... serumit inikah jika tinggal berdua di dalam rumah." Gumamnya dengan gusar, lantaran memikirkan keadaan suaminya dengan suhu badannya yang panas tinggi.


Karena sudah buntu dengan cara berpikirnya, Landa langsung menghubungi dokter pribadi keluarganya untuk segera datang ke rumah.


Sambil menunggu dokter datang, berulang-ulang mengecek suhu badan suaminya sambil mengompresnya. Sedangkan Ciko masih terus menggigil karena kedinginan.


Tidak lama kemudian tedengar suara mobil di depan rumah, Landa segera melihat dan membukakan pintunya. Saat melihat Donter yang datang, langsung meminta untuk segera memeriksa kondisi suaminya.


"Gimana dengan kondisi suami saya, Dok? baik baik aja kan, Dok?" tanya Landa yang begitu khawatir, juga penasaran.


"Suami Nona baik-baik saja, tidak ada gejala apapun mengenai sakit yang serius. Sepertinya kelelahan sama masuk angin. Sudah saya resepkan obatnya untuk penurun panas, juga untuk perut kembungnya." Jawab sang Dokter.


"Terimakasih banyak, Dok. Tapi perasaan dia makannya baik-baik saja loh Dok, apa mungkin ditahan rasa sakitnya."


"Mungkin saja, Nona. Ya udah kalau begitu saya permisi, jangan lupa obatnya diminumkan." Ucap sang Dokter yang langsung berpamitan.


"Ya, Dok, silakan. Sekali lagi terimakasih banyak, Dok." Jawab Landa, dan mengantarkan Dokter sampai rumah, sekaligus untuk mengunci pintunya.

__ADS_1


Setelah itu, kembali ke kamar dan mengecek suhu badannya. Ciko yang masih berbalut dengan selimut tebal, menahan rasa yang begitu teramat dingin.


"Obatnya diminum dulu ya, habis itu istirahat. Nanti aku buatkan sup, biar badan kamu lumayan enakan." Ucap Landa yang melihat suaminya tengah berbaring dengan kedua matanya yang masih terjaga.


Ciko mengangguk pelan, yakni tanda mengiyakan. Kemudian, bangkit dari posisinya untuk duduk sambil bersandar di kepala ranjang tempat tidur.


"Ini obatnya diminum, setelah itu kamu langsung istirahat saja." Ucap Landa sambil membantu suaminya untuk minum obatnya.


"Terima kasih banyak ya, maafkan aku yang sudah merepotkan kamu." Jawab Ciko merasa tidak enak hati karena menyusahkan istrinya.


"Kamu tidak perlu meminta maaf, sudah selayaknya menjadi seorang istri untuk memberi perhatian kepada suaminya. Apalagi sedang sakit, tidak mungkin untuk diabaikan." Ucap Landa sambil membenarkan selimutnya.


"Ini tadi salahku, sebenarnya aku sudah merasakan pusing dan mual dari tadi di rumah kedua orang tuamu. Tapi aku coba tahan, gak tahunnya sampai menjadi seperti ini." Kata Ciko menjelaskan.


"Ya udah kalau gitu, agar badan terasa mendingan, lebih baik kamu sekarang istirahat saja dulu ya. Aku mau buatkan sup ayam dengan irisan jahe, sepertinya segar. Nanti kalau sudah matang, aku bangunkan." Ucap Landa yang kini juga mulai lembut saat bicara dengan suaminya, tidak jutek seperti sebelumnya, sebelum mengenal lebih jauh tentang suaminya.


Ciko kembali mengangguk.


"Kamu tidak terpaksa melakukan ini semua, 'kan?" tanya Ciko yang sedikit canggung saat tangan kirinya memegangi tangan istrinya.


Saat itu juga, Landa langsung mengarahkan pandangannya pada bagian tangannya yang dipegang suaminya.


"Eh maaf, maaf sudah lancang." Ucap Ciko yang langsung melepaskan tangannya.


"Kenapa lancang, bukankah aku ini istri kamu yang sah?"


"Ya sih, tapi kan,"

__ADS_1


'Duh! kenapa denganku?' batinnya yang lupa kontrol dengan detak jantungnya.


Saat itu juga, Landa langsung meraih tangan suaminya. Selain gugup, Ciko menjadi salah tingkah karena ia sadar tidak pernah merayu perempuan lain. Selain sibuk dengan pekerjaannya, juga tidak percaya diri dengan perempuan.


__ADS_2