
Setelah saling memperkenalkan diri, Tuan Herdi maupun Tuan Hardika menghela napasnya sebelum melanjutkan obrolannya. Sedangkan Ciko dan Gane tengah menjadi pendengar setia untuk sementara waktu, lantaran belum waktunya ikut menimpali.
"Begini Tuan Hardika, kedatangan saya ke sini untuk menguak kebenaran mengenai Tuan Prasetyo yang tengah berada di dalam keluarga Huttama. Pertanyaan dari saya yaitu, sejak kapan Tuan Prasetyo menjadi bagian keluarga Huttama?"
Tuan Hardika tersenyum mendengar pertanyaan dari Tuan Herdi Ningrat.
"Kehadiran Tuan Prasetyo itu belum lama, yakni sejak lulus sekolah. Bahkan, dia memberi ancaman kepada saya, dan menukarkan bayi kami untuk dijadikan senjatanya. Tapi sayangnya, semua harus terbongkar saat insiden kecelakaan Regar dalam kapal menuju pulau kecil." Jawab Tuan Hardika dengan detail.
Tuan Herdi yang mendengar penjelasan dari Tuan Hardika, masih belum mengerti, karena belum mengetahui sangkut pautnya dengan keluarga Ningrat maupun Lingrat, juga Diningrat.
__ADS_1
"Terus, apakah Tuan Prasetyo sangat mengenali ayah Ciko?"
Tuan Hardika mengangguk pelan.
"Benar, saya sendiri pun tahu jika Tuan Prasetyo adalah anak dari orang yang diangkat dari keluarga Lingrat, namun ketamakan nya harus di singkirkan dari keluarga Lingrat. Dan, yang membuang bayi orang tuanya Ciko adalah orang tua Prasetyo sendiri. Maka dari itu, kematian orang tua Gane dan kedua orang tua Ciko memang sudah direncakan oleh Tuan Prasetyo sendiri. Karena ambisi untuk memiliki kekayaan, rela masuk kedalam keluarga Huttama untuk menjadi Pengacaunya." Jawab Tuan Hardika yang akhirnya angkat bicara dan menjelaskan semuanya kebenaran yang ada.
Gane yang mendengarnya, pun merasa geram terhadap pamannya sendiri yang tidak mau menceritakan atas kebenarannya. Begitu juga dengan Ciko, merasa kecewa dengan pengakuan dari Tuan Hardika yang tidak berterus terang atas kebenaran.
"Karena kamu yang akan menjadi ancaman selanjutnya. Masih bersyukur jika kalian masih diberi kesempatan untuk selamat, pikirkan itu. Paman juga butuh waktu untuk ikut menguak kebenaran, dan tidak semudah membalikkan telapak tangan, anakku." Kata Tuan Hardika mencoba untuk memenangkan pikiran keponakannya itu.
__ADS_1
"Jadi benar, Ciko adalah bagian keluarga Ningrat. Terus, Bunan itu siapa?"
Tuan Hardika kembali tersenyum mendengarnya.
"Bunan itu adik tiri Tuan Prasetyo. Atas kecerdikannya, Tuan Prasetyo memperalat Bunan untuk menjadi kaki tangannya dengen iming iming yang menggiurkan. Tentu saja, seorang pemalas seperti Bunan rela melakukan apapun asalkan bisa mendapat imbalan yang besar.
"Jadi sepertinya itu jalan ceritanya, saya sangat bersyukur atas pertemuan putri saya dengan Ciko." Ucap Tuan Herdi merasa lega, lantaran masalah yang menumpuk dalam pikirannya, kini sedikit-sedikit mulai diketahui kebenarannya.
"Beruntunglah jika masih mempunyai kesempatan untuk bertemu, juga dipersatukan dalam ikatan pernikahan." Kata Tuan Hardika yang juga ikut merasa lega, lantaran sudah tidak ada lagi misteri yang menyelimuti keluarga Huttama maupun keluarga Ningrat, juga keluarga Diningrat.
__ADS_1
"Jadi, langkah selanjutnya kita menangkap keluarga Pak Bunan untuk memberi keterangan dalam proses insiden kecelakaan Ciko yang sudah direncakan oleh Tuan Prasetyo sendiri bersama Bunan." Ucap Gane ikut menimpali.
"Ya, benar. Menurut Paman lebih baik laporkan polisi, dan usut sampai tuntas. Kalau tidak segera ditangkap, maka yang akan menjadi sasarannya adalah rumah tangga Ciko sendiri." Kata Tuan Hardika ikut memberi saran.