Bodyguard Pewaris Tunggal

Bodyguard Pewaris Tunggal
Sungguh tidak menyangka


__ADS_3

Sampainya di kantor, sekretaris Ciko segera keluar dan membukakan pintu untuk Bosnya.


Sikap dinginnya kini melebihi es batu yang tergeletak di tengah-tengah salju.


Landa yang tidak pernah merasa bersalah, kini kembali ikut cuek. Tetap saja, kalimat yang pernah dilontarkan oleh sekretarisnya itu cukup menohok di hatinya.


Sambil berjalan beriringan antara sekretaris dan Bos, justru keduanya terlihat begitu serasi. Bahkan, semua karyawan dibuatnya iri ketika melihat dua insan yang sangat serasi.


Semua yang berpapasan telah memberi hormat dengan santun saat Bosnya datang. Tidak seperti saat pertama kalinya masuk ke kantor, semua acuh seperti tak pernah kenal dirinya sebagai pimpinan.


"Tolong pesankan sarapan pagi untukku, juga untuk kamu sendiri." Perintah Landa kepada sekretarisnya sebelum masuk ke ruang kerjanya.


"Baik, Nona." Jawab sekretaris Ciko, dan langsung pergi ke kantin untuk memesan sarapan pagi.


"Aw! kalau jalan lihat-lihat dong. Eh, sekretaris Ciko. Maaf, aku kira siapa."


"Lain kali kalau jalan hati-hati, untung kamu tidak jatuh." Ucap Ciko saat tertabrak oleh karyawan kantor.


"Ya, aku gak tahu. Mau pesan sarapan pagi ya, aku traktir kamu deh, anggap saja ganti rugi karena sudah membuatmu sial." Jawabnya ada rasa ingin mendekati sekretaris Ciko.


"Maaf, saya ada pesanan dari Nona Landa. Jadi, terimakasih atas tawaran darimu, permisi." Ucap sekretaris Ciko segera bergegas memesan sarapan pagi untuk Bosnya.


Sedangkan perempuan yang barusan menabrak sekretaris Ciko, tengah mendengus kesal saat dirinya tidak bisa mentraktirnya, tentu saja untuk mendekatinya.


"Elu kenapa, Len? kelihatan kesal gitu."


"Itu si sekretaris Ciko, belagunya kebangetan. Aku traktir aja gak mau, sok banget jadi cowok."


"Kamu suka ya sama sekretaris Ciko? makanya terus dipepet, entar diembat karyawan yang lain baru tahu rasa Lu."


"Keknya gak deh, soalnya kelihatannya tuh serasi banget sama Bos kita. Mana kalau jalan beriringan, kan bikin aku panas dan cemburu."


"Bukannya Bos Landa itu sudah punya pacar, cowoknya tajir juga kok. Kalau gak salah sih, namanya Alex."


"Tapi kan, tetap aja bikin cemburu." Ucapnya sambil memajukan bibirnya karena cemberut.


"Sudah lah, ayo kita masuk ke ruang kerja kita, sarapannya di dalam aja. Lagi pula cuma roti sama susu kotak, yuk ah." Ajaknya pada Leni.

__ADS_1


Sedangkan sekretaris Ciko yang baru saja memesan sarapan pagi, segera kembali ke ruang kerja.


Saat masuk dan baru saja menutup kembali pintunya, terlihat Bosnya tengah kesulitan dengan pakaiannya yang seperti membuatnya tidak nyaman.


Landa yang mendengar seseorang yang tengah menutup pintu, detak jantungnya berdegup sangat kencang. Landa langsung mendongak, betapa terkejutnya saat sekretaris Ciko sudah ada didepannya.


"Ini sarapan paginya, Nona. Maaf, jika saya tidak menekan tombol bel pintunya. Kalau boleh tahu, ada apa dengan pakaian Nona. Apa perlu aku mengubungi seseorang untuk membantu Nona?"


"Gak usah, aku cuma mau minta tolong aja, itupun kalau kamu gak keberatan."


"Boleh, katakan saja apa yang harus saya lakukan."


"Tolong benerin resleting bajuku ini, soalnya rambutku nyangkut."


"Oh, benerin resleting?"


"Ya, cepetan. Takutnya nanti ada yang masuk dengan cara tiba-tiba."


"Baik, Nona. Sebelumnya saya minta maaf, bukan niat saya untuk lancang."


"Ya, gak apa-apa." Ucap Landa.


Sambil menyibakkan rambut panjang milik Bosnya ke dua sisi kanan dan kiri, dengan hati-hati si Ciko membenarkan resleting baju milik Bosnya.


Saat resleting sudah dapat ia benarkan, alangkah terkejutnya saat melihat tanda luka yang ada di punggung Bosnya itu.


Ingatannya kembali di masa lalunya, masa dimana jika dirinya telah melakukan kesalahan saat bersepeda di taman.


"Tidak, tidak mungkin." Ucapnya langsung menutup punggung milik Bosnya.


Tubuhnya sedikit merasa gemetar, rasa takutnya pun telah menghantuinya kembali.


Landa yang mendengar dengan samar-samar, langsung memutar badannya dan melihat sosok sekretarisnya.


"Kamu kenapa? kok seperti kaget gitu."


"Enggak ada apa-apa, Nona. Tadi saya cuma kaget aja, jari tangan saya tadi hampir saja kena resleting." Jawab sekretaris Ciko beralasan.

__ADS_1


"Oh, gitu. Yakin, kamu gak apa-apa?" tanya Landa yang lupa dengan luka yang ia miliki di bagian punggungnya.


"Ya, gak apa-apa, Nona. Oh ya, sarapan paginya hanya ada bubur ini saja, Nona. Rotinya sudah habis, saya rasa bubur ini bisa menjadi penggantinya." Jawab Ciko sambil menyodorkan sarapannya.


"Kamu yang makan duluan, setelah itu baru aku yang makan." Ucap Landa memberi perintah.


"Tapi, Nona."


"Aku tidak mau alasan apapun darimu, titik."


"Baiklah, jika itu permintaan dari Nona." Jawab sekarang Ciko yang akhirnya membuka cup besar yang berisi bubur.


Sebenarnya merasa ragu, lantaran harus memakan duluan. Tapi mau bagaimana lagi, sudah menjadi tugasnya untuk menjaga Bosnya. Mau tidak mau, sekretaris Ciko menurutinya.


Setelah menelan satu suapan ke mulutnya, sekretaris Ciko mengambil sendok yang masih bersih di wadah yang satunya.


"Ini, Nona, silakan dimakan buburnya." Ucap sekretaris Ciko, bukannya menerimanya, justru Landa menyambar sendok yang ada di tangan kiri milik sekretarisnya.


"Nona, itu kotor, bekas saya."


"Justru ini yang bikin khawatir, bisa saja diolesin racun. Aku gak mau mati dengan sia-sia, karena aku masih ingin menikmati hidupku dengan tidak menyia-nyiakan waktu berharga yang aku miliki. Lebih baik kamu makan yang ini, ok."


"Baiklah, terserah Nona Landa saja." Jawab sekretaris Ciko mengambil sarapan paginya yang belum tersentuh oleh Bosnya.


Sedangkan Landa, langsung menikmati sarapan paginya dengan bubur yang sudah di icip lebih dulu oleh sekretarisnya.


Begitu juga dengan sekretaris Ciko sendiri, tengah menikmati sarapan paginya hingga tidak tersisa. Selesai makan, pandangannya tertuju pada Bosnya yang masih menikmati buburnya.


Sekretaris Ciko terbayang dengan masa lalunya, masa-masa masih sekolah duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Ingatannya pada gadis kecil yang terlihat cantik harus tertabrak sepeda oleh dirinya.


Sebuah kesalahan dimasa lalunya, kini teringat pada luka yang dimiliki oleh Bosnya sendiri yang seperti terkena stang sepedanya.


Tidak mau pusing memikirkan sesuatu yang bikin kepalanya terasa penat, alih-alih si sekretaris Ciko segera membuang wadah buburnya di tong sampah. Kemudian, ia melanjutkan pekerjaannya yang ternyata tidaklah sedikit tumpukan lembaran kertas untuk di koreksi.


Begitu juga dengan Landa, merasa sudah kenyang, segera menyingkirkan bekas wadah buburnya di pojok mejanya. Sekretaris Ciko yang melihatnya, langsung mengambil dan membuangnya ke tong sampah.


"Terima kasih," ucap Landa sambil mengelap mejanya dengan tissue.

__ADS_1


"Ini sudah menjadi tugas saya, Nona." Jawab sekretaris Ciko.


Landa tidak menanggapinya, pandangannya kembali fokus dengan layar komputernya.


__ADS_2