
Sedangkan di perjalanan, Landa terus menerus menggerutu. Tidak lupa juga yang terus mengumpat dan mendengus kesal.
"Kamu juga, kenapa harus mau menerima perintah dari sekretaris Ciko. Kamu itu ya, seharusnya tuh nolak." Ucap Landa dengan kesal, lantaran harus diantarkan pulang oleh teman akrabnya sekretaris Ciko.
"Maaf, Nona, saya tidak bisa untuk mengabaikan panggilan dan juga perintah dari sekretaris Ciko. Mau bagaimanapun kita berdua sudah berjanji untuk saling menolong satu sama lain, tentunya tidak mungkin menolak perintahnya, Nona." Sahut Doin sambil menyetir mobilnya.
"Ah, terserah kamu saja. Cepat kamu tambahkan gasnya, jangan lelet menyetir mobilnya. Jika kamu gak bisa menyetir, biar aku saja yang akan membawa mobilnya." Kata Landa yang sudah tidak sabar untuk pulang, sekaligus mengadu kepada ayahnya.
Tidak lama kemudian, rupanya sudah sampai di rumah. Cepat-cepat ia segera turun dan dan bergegas untuk masuk ke dalam rumah.
"Papa, Mama." Panggil Landa sambil menenteng tas kecil bawaannya.
Kedua orang tuanya yang mendengar putrinya berteriak-teriak memanggil ayah dan ibunya, tetap duduk bersantai di ruang keluarga.
"Kamu kenapa, sayang? teriak-teriak gitu manggilnya. Tuh bibir juga kenapa manyun begitu, lagi marahan ya? cie .. anak Mama sepertinya sedang jatuh cinta."
"Mama apa-apaan sih, gak ada yang namanya sedang jatuh cinta. Yang ada tuh, jatuh sakit."
"Kok jatuh sakit, memangnya kamu sakit kenapa, Nak?" timpal sang ayah ikut bertanya.
"Tanya kenapa, bukannya Papa tadi udah dengar sendiri di telpon?"
Landa langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dengan perasaan yang begitu dongkol, lantaran harus teringat saat berdebat dengan sekretarisnya itu.
"Pa, batalin saja kenapa, pernikahan Landa dengan sekretaris Ciko. Dia itu sudah ada perempuan yang sangat menyukainya, juga sepertinya sekretaris Ciko juga ada rasa dengannya. Mana itu perempuan siap untuk dijadikan wanita simpanan, lagi. Pa, Ma, Landa gak mau kecewa nantinya. Sudah deh, biar Landa mencari jodoh yang lain saja." Ucap Landa dengan lesu, sama sekali tidak bersemangat.
Bukan hanya merasa kecewa dengan sekretarisnya itu, tetapi rasa sakit hati atas kabar yang ia tahu jika kekasihnya telah mmenikah tanpa sepengetahuannya. Tentu saja, Landa semakin frustrasi dengan segala harapannya yang dari awal sudah dibayangkannya untuk memiliki suami yang sayang padanya juga penuh perhatian dan memiliki tanggung jawab yang besar.
__ADS_1
Tapi kenyataannya apa? justru Landa harus menerima kenyataan yang pahit, jika lelaki yang sudah dibanggakan di hadapan kedua orang tuanya itu, yang tidak lain lelaki pengkhianat.
"Kita tunggu sekretaris Ciko pulang, lebih baik sekarang kamu masuk ke kamar dan segeralah mandi. Nanti kalau sekretaris Ciko sudah datang, Papa akan panggil kamu."
"Ya, Pa." Jawab Landa dengan ketus, dan bergegas masuk ke kamarnya.
Sedangkan kedua orang tuanya masih menunggu calon menantunya pulang.
"Memangnya Papa sudah yakin kalau sekretaris Ciko itu dapat dipercaya omongannya? kalau gak, bagaimana?"
"Papa sudah menghubungi Tuan Gane, dan juga sudah menjelaskan semuanya kepada Papa soal perempuan yang bernama Aina." Jawab Tuan Herdi.
"Siapa perempuan itu, Pa? apakah kekasihnya sekretaris Ciko? terus, Papa tahu darimana bisa mengetahui soal perempuan itu, termasuk namanya juga.
"Bukan, mereka hanya bertukar saling berterima kasih saja. Soal Papa tahu darimana, orang kepercayaan Papa sudah Papa perintahkan untuk mengikuti kemana perginya mereka berdua." Kata Tuan Herdi.
"Begini ceritanya, kata Tuan Gane, sekretaris Ciko sempat di tolong oleh kedua orang tuanya Aina saat mengalami kecelakaan. Saat itu juga, ternyata putrinya harus mendapatkan masalah dalam keadaan depresi karena harus ditinggal menikah saat hari pernikahannya tinggal menghitung hari." Jawab Tuan Herdi berhenti sejenak untuk menarik napasnya, dan membuangnya dengan pelan.
"Terus, kelanjutannya bagaimana?" tanya istrinya yang begitu penasaran dan antusias untuk mengetahuinya.
"Saat sekretaris sudah sembuh dari lukanya, tak pernah berhenti kedua orang tuanya Aina selalu menjenguk sekretaris Ciko. Meski sudah mendapatkan penanganan khusus dari Tuan Gane, tetap saja memberi perhatian penuh kepada sekretaris Ciko. Setelah sembuh dari sakitnya, gilirannya untuk menjadi penghibur putrinya. Bahkan, jejak kesengajaan dari insiden kecelakaan pun, sampai sekarang tidak ada titik terangnya. Begitulah cerita yang sesungguhnya. Makanya, sekretaris Ciko merasa berhutang budi pada keluarga Aina. Meski sering didesak untuk menikahi putrinya, tetapi sekretaris Ciko selalu menolaknya." Jawab Tuan Herdi kembali menceritakan kebenaran yang didapat dari kakak iparnya sekretaris Ciko sendiri.
"Jadi begitu ceritanya? tapi, apa yang menjadi kendala sekretaris Ciko tidak mau menikahi perempuan itu, Pa?"
"Soal itu Papa tidak tahu, mungkin ada alasan lainnya kenapa sekretaris Ciko menolak. Sudahlah, kita tunggu saja kedatangannya. Sebenarnya Tuan Gane juga mau datang, tetapi niatnya diurungkan karena istrinya tidak mau ditinggal pergi." Jawab Tuan Herdi, ibunya Landa akhirnya dapat mengerti dengan cerita tentang sekretaris putrinya.
Sedangkan di tempat lain, kini sekretaris Ciko tengah menemani Aina bersama kedua orang tua pasien.
__ADS_1
"Kamu makan dulu ya, Ai." Ucap sekretaris Ciko sambil menyodorkan satu suapan kepada Aina.
"Kakak bener kan, gak akan pergi?"
"Ngobrolnya nanti lagi, sekarang kamu makan dulu. Kalau kamu terus menerus memberi banyak pertanyaan kepada Kakak, nanti takutnya akan timbul perdebatan, gak baik." Kata sekretaris Ciko mencoba untuk mengalihkan pertanyaan dari Aina.
"Ya, Nak, kamu harus makan. Kalau terus bertanya sama Kak Ciko, kamunya gak makan-makan, dan yang ada kamu ditinggal pulang." Timpal ibunya ikut bicara.
"Ya, Ai, kamu harus semangat." Kata sang ayah ikut menimpali.
"Buka mulutnya, A' a ..."
Aina menerima suapan dari sekretaris Ciko hingga tidak terasa sudah habis satu piring.
"Pintar, sudah habis satu piring nih. Sekarang minumnya dihabiskan juga, biar gak dehidrasi." Ucap sekretaris Ciko sambil menyodorkan air minum dalam gelas, Aina menerimanya.
"Papa tinggal sebentar ya, Papa mau ada perlu sama Ciko. Sekarang kamu disini dulu bareng Ibu, nanti kita berdua balik lagi." Ucap ayahnya dengan sangat hati-hati, takutnya akan membuat putrinya bertambah menjadi emosinya yang terkadang sulit untuk dikendalikan.
"Tunggu sebentar ya, Ai. Kakak mau ada perlu sama ayah kamu." Ucap sekretaris Ciko sebaik mungkin. Mau bagaimanapun harus hati-hati ketika berbicara dengannya.
"Ya, tapi jangan lama-lama." Jawab Aina.
Setelah itu, ayahnya Aina dan sekretaris Ciko segera keluar.
Sambil duduk bersebelahan, sekretaris Ciko mencoba untuk tetap tenang.
"Nak Ciko, maafkan Bapak ya, sudah membuat istrimu marah, juga sudah banyak merepotkan kamu. Jujur, Bapak sangat membutuhkan kamu untuk berada di dekat putri Bapak. Tapi, Bapak juga tidak mempunyai hak untuk memaksa kamu." Ucap ayahnya Aina yang tidak mempunyai kendeli untuk memaksa sekretaris Ciko.
__ADS_1