Bodyguard Pewaris Tunggal

Bodyguard Pewaris Tunggal
Merasa kesal


__ADS_3

Gane yang sudah dapat menghubungi pamannya, merasa lega karena dapat melakukan pertemuan.


Karena tidak ingin membuat orang lain menunggu kabar darinya, Gane bergegas untuk mengirimkan pesan kepada kakak iparnya agar segera menyampaikan pesannya kepada ayah mertuanya juga.


Ciko yang begitu terlelap dari tidurnya bersama sang istri, tak mendengar jika ada panggilan masuk, juga pesan yang dikirimkan oleh adik iparnya.


Begitu lelap tidurnya, terbangun juga sudah hampir gelap. Sama halnya dengan Landa, dirinya ikut terbangun dari tidurnya yang masih dalam posisi yang semula, yakni dalam dekapan sang suami.


"Sudah sore ya, sepertinya aku terlalu nyenyak tidurnya. Sebentar, aku mau ambil ponsel untuk jam berapa sekarang ini." Ucap Ciko sambil meraih ponselnya.


Baru saja menggeser layar sentuhnya, dikejutkan dengan panggilan tidak terjawab, juga pesan masuk atas nama kontak adik iparnya.


"Bos Gane, ada apa ya?" gumamnya saat melihat ada pesan masuk.


Karena penasaran, Ciko segera membuka pesan masuknya.


"Besok siang datang ke rumah, Tuan Hardika datang." Ucapnya lirih sambil membaca pesan masuk dari suami adiknya.


"Siapa?" tanya Landa dengan penasaran.


"Bos Gane, adik iparku. Besok meminta aku untuk datang ke rumahnya, juga Papa diminta untuk datang. Ya udah, aku mau hubungi Papa dulu, setelah itu kita masak untuk makan malam. Ah ya, coba kamu lihat di depan rumah, mungkin belanjaan yang tadi aku pesan sudah di taruh didepan rumah, tepatnya didalam kotak." Jawab Ciko sembari minta tolong pada istrinya untuk mengambil belanjaan yang ia pesan sebelum istirahat.

__ADS_1


"Ya, nanti. Aku mau cuci muka dulu."


"Gak apa-apa kan, kalau aku suruh?"


"Enggak apa-apa, juga cuma di depan rumah." Kata Landa yang justru merasa senang karena dapat berinteraksi baik dengan suaminya.


Karena tidak ingin membuat ayah mertuanya cemas menunggu kabar darinya, Ciko segera menghubungi dan memberitahunya.


Sedang Landa yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah melakukan ritual di kamar mandi, bergegas keluar rumah untuk mengambil belanjaan yang dipesan oleh suaminya.


Baru saja membuka pintu rumah, rupanya sudah ada sosok perempuan yang tengah berdiri di depan pintu.


"Kamu, Aina 'kan?"


Tanpa rasa malu berhadapan dengan istrinya, Aina benar-benar dengan nekad untuk bermain ke rumah Ciko.


"Siapa ya?"


"Minggir," kata Aina yang langsung mendorong Landa dengan asal.


Kemudian, langsung masuk ke dalam untuk menemui Ciko.

__ADS_1


Hampir saja Landa jatuh ke lantai. Namun karena sudah tanggap, Landa dapat menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


"Aina, tau dari mana soal rumah Kakak?"


"Tau dari Kak Doin, sudah lama sih. Dan aku juga tahu kok, perempuan itu baru Kakak nikahi kemarin, 'kan?"


"Ya, terus kenapa?" sahut Landa yang langsung menyambar, tentunya tidak ingin jika harus bersaing dengan perempuan yang menurutnya tidak punya malu, pikirnya.


"Aina, Kakak mohon sama kamu, pulang ya. Mainnya besok lagi bareng Ibu kamu atau Ayah kamu. Kalau kamu datangnya sendirian, yang ada akan membuat kekacauan di rumah Kakak. Di rumah ini ada istrinya Kakak, yang juga harus dijaga perasaannya. Jadi, Kakak mohon dengan sangat, kamu pulang." Ucap Ciko yang sebenarnya mulai merasa risih dengan kehadiran perempuan yang sudah bermain topeng di hadapannya.


"Kak Ciko mah jahat, lagian aku kan dianggap seperti adiknya Kakak sendiri, terus ngapain istri Kakak harus cemburu." Kata Aina yang mulai beralasan.


"Kamu itu ya, perempuan gak tahu malu dan gak punya harga dirinya. Seharusnya kamu itu malu, karena sudah di usir sama pemilik rumah." Ejek Landa dengan sungut.


"Sudah, gak perlu di ladenin." Ucap Ciko sembari menarik lengan istrinya.


"Kamu itu perempuan baru yang datang di kehidupan Kak Ciko, tapi sudah berlagak." Tuduh Aina dengan berani.


Saat itu juga, Ciko langsung menghubungi Doin untuk segera datang.


Setelah itu, Ciko menghampiri kembali.

__ADS_1


"Sudah sudah sudah, kalian tidak perlu berantem, sekarang juga Aina silakan duduk. Dan kamu, ambilkan minum untuknya. Aku mau ke kamar mandi dulu." Ucap Ciko yang malas berdebat, dan memilih untuk kembali ke kamarnya. Tentunya, sudah memberi kode kepada istrinya.


Landa yang merasa dongkol karena harus menerima tamu seperti Aina, mau tidak mau harus menuruti perintah dari suaminya.


__ADS_2