
Saat itu juga, Ciko langsung mendongak dan memberanikan diri untuk mempertanggung jawabkan atas kesalahan dimasa lalunya.
"Saya meminta maaf atas kesalahan di masa lalu, Tuan." Ucap Ciko dan berhenti sejenak untuk mengatur napasnya.
"Kenapa kamu masih panggil dengan sebutan Tuan, panggil saja Papa." Kata Tuan Herdi, Ciko mengangguk.
"Saya mengaku salah atas kejadian yang dulu, yang mana saya sudah membuat celaka gadis kecil yang tidak bersalah. Bahkan, saya sendiri telah lari dari tanggung jawab, dan sekarang saya siap menanggung konsekuensinya, apapun itu. Sekalipun saya harus dilaporkan, saya akan menerimanya." Sambungnya lagi setengah menunduk, karena merasa bersalah atas perbuatannya yang sudah mencelakai istrinya di masa kecilnya.
"Papa tidak menyalahkan kamu atas kecelakaan pada diri Landa, dan kamu tidak bersalah di waktu itu. Papa sudah menyelidikinya, dan kebetulan kamu yang dijadikan sasarannya. Papa masih ada keraguan, tapi masih dalam penyelidikan lebih lanjut. Yang jelas, ada unsur kesengajaan untuk menyingkirkan putri Papa yang bernama Landa, juga kamu."
"Maksudnya Papa itu apa? unsur kesengajaan? oh, jangan-jangan dia ini ikut andil untuk mencelakai Landa, ya kan, Pa?"
"Kamu itu ya, kalau Papa sedang bicara jangan hanya di dengerin saja, tapi dicerna setiap kalimatnya." Kata Tuan Herdi yang merasa greget sama putrinya yang salah tanggap atas penjelasan yang sudah cukup jelas.
Sedang Ciko sendiri tengah berpikir soal kejadian di masa lalunya yang mendadak rem sepeda miliknya tidak berfungsi.
"Saya ingat, waktu itu memang saya sempat melihat ada orang yang mencurigakan gerak geriknya saat kami sedang istirahat dipinggiran taman." Ucap Ciko sembari mengingat memori di masa kecilnya.
"Alah, bilang aja kalau kamu itu mau ngeles. Ya lah, biar gak dilaporin." Celetuk Landa yang tiba-tiba mengganggu konsentrasi suaminya yang tengah mengingat sesuatu di masa lalunya.
"Landa, jaga bicaramu itu. Tidak baik berbicara seperti itu terhadap suami kamu sendiri. Sudah Papa katakan, suami kamu tidak bersalah. Lebih baik kamu masuk ke kamar, daripada harus mengganggu obrolan Papa dengan suami kamu."
__ADS_1
"Papa ini gimana sih, sama aja kepincut tipu dayanya." Kata Landa yang langsung bangkit dari posisinya dan bergegas pergi ke kamarnya, dan diikuti oleh ibunya.
Kini, tinggallah Ciko bersama ayah mertuanya yang masih duduk di ruang keluarga.
"Gimana dengan ciri-ciri orang itu, apakah kamu masih ingat?" tanya ayah mertua ingin tahu.
"Saya belum mengingatnya, Pa. Apa mungkin itu Tuan Hardika sama Tuan Pras? tapi saya rasa itu tidak mungkin jika yang ada di taman itu adalah Tuan Hardika, apa mungkin Tuan Pras?"
"Tuan Hardika, siapa dia?"
"Mereka keluarga Huttama, keluarganya Bos Gane."
Saat itu juga, Tuan Herdi baru saja mengingatnya.
"Saya juga merasa tidak mungkin jika Tuan Hardika yang merusak rem sepeda saya. Yang saya tahu, Tuan Hardika orang yang baik, sedangkan Tuan Pras lah yang sudah menjadi dalang atas kematian kedua orang tua Bos Gane dan juga kedua orang tua saya sendiri."
"Berikan alamat tahanan Tuan Pras, Papa ingin mengeceknya langsung keberadaannya. Kalau kamu tahu alamatnya, bisa antar Papa sekarang juga di tempat tahanan Tuan Pras." Pinta Tuan Herdi yang tiba-tiba memiliki rasa penasaran yang begitu kuat terhadap seseorang yang pernah menjadi dalang dalam pembunuhan keluarga Huttama.
"Baik, Pa. Saya sempat ikut mengurus proses tahanan Tuan Pras, dan sepertinya masih di tempat yang sama." Kata Ciko mengiyakan.
Karena tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, akhirnya Tuan Herdi bersama menantunya bergegas untuk menuju lokasi tahanan, tentunya tidak lupa untuk meminta bantuan adik iparnya Ciko sendiri agar bisa menemani untuk menemui Tuan Pras.
__ADS_1
"Kalian berdua mau kemana?" tanya ibunya Landa saat mendapati suami dan menantunya yang kelihatan mau pergi entah kemana.
"Kita berdua ada keperluan yang sangat penting, Mama dan Landa lebih di rumah saja." Jawab Tuan Herdi.
"Hati-hati diperjalanan, jangan lupa untuk meminta beberapa orang untuk mengikuti kalian dari belakang. Mama takut terjadi sesuatu pada kalian, jangan abaikan pesan dari Mama." Kata ibunya Landa yang khawatir jika terjadi sesuatu pada suaminya, juga menantunya.
"Mama tenang saja, semua aman dan baik-baik saja. Papa sama Ciko mau berangkat dulu." Ucap Tuan Herdi berpamitan.
Setelah berpamitan, Tuan Herdi bersama menantunya segera berangkat ke tempat tujuan. Sedangkan istrinya Tuan Herdi tengah menemani putrinya yang masih menyimpan kekesalan, lantaran pengaduannya telah diabaikan oleh ayahnya sendiri.
Bahkan, suaminya sendiri tidak dianggapnya salah atas insiden yang sudah mencelakai dirinya.
"Anak Mama kok masih cemberut gitu. Kan Papa udah bilang sama kamu, kalau suami kamu itu tidak salah. Jadi, udah dong marahnya. Oh ya, tadi kamu sudah sarapan pagi belum di rumah suami kamu? kalau belum, sarapan dulu. Jangan abaikan perut kosong kamu itu. Kalau nanti kamu jadi sakit, bagaimana?"
"Landa udah sarapan kok tadi, sama roti dan susu." Jawab Landa dengan ketus.
"Kalau masih marah sama suami kamu. Terus, kalau suami kamu di rebut sama perempuan yang bernama Aina, gimana? kamu rela?"
Seketika, Landa langsung bangkit dari posisinya yang tengkurap. Tentu saja, ingatannya kembali pada saat dirinya merasa kesal ketika suaminya harus menemui perempuan yang bernama Aina.
Saat itu juga, ibunya menahan tawanya ketika melihat putrinya berubah menjadi cemas.
__ADS_1
"Nah kan, akhirnya takut kehilangan suami."
"Mama, apa-apaan sih. Itu perempuan memang meresahkan, dan juga gatel sama cowok." Kata Landa dengan asal.