
Ciko yang mendapat sambaran ciuman dari istrinya, pun langsung ikutan mencium kening milik perempuan yang statusnya menjadi istri sahnya.
"Sudah ah, ayo kita turun." Ajak Ciko yang takut akan terpancing oleh sikap istrinya sendiri.
Landa yang baru saja turun dari mobil, langsung menghirup udara yang masih terasa segeran.
Saat itu juga, Ciko langsung menggandeng tangan milik istrinya terlihat mesra. Meski usia yang jaraknya cukup jauh, tidak mengurangi keserasian diantara keduanya. Mau bagaimanapun, usia Ciko jauh lebih dewasa ketimbang istrinya.
"Landa, hei sayang." Panggil seseorang yang tiba-tiba berada di hadapannya.
"A-Alex."
Seperti mimpi, Landa menyebut nama mantan kekasihnya.
Lelaki yang ada didepannya, pun tersenyum pada Landa. Pandangannya ikutan tertuju pada kedua tangan yang terlihat tengah bergandengan.
"Siapa laki-laki ini, sayang?" tanya Alex dengan berani. Meski sebenarnya tahu statusnya diantara keduanya, tentu saja Alex dengan sengaja untuk berpura-pura belum mengetahuinya.
"Aku suaminya, kenapa?"
"Aku gak tanya kamu, hei lelaki yang berstatus ajudan." Ejek Alex dengan berani.
Ciko yang mendapat ejekan dari mantan kekasih istrinya, bertambah kesal, juga sangat geram mendengarnya.
"Kau!" Dengan mengepalkan tangannya seraya seperti ingin melayangkan tinjuannya, Landa langsung menghentikan niat suaminya yang sudah siap intuk meninju.
__ADS_1
"Stop! gak perlu kita meladeni orang seperti Alex, hanya buang-buang waktu juga energi. Kita pergi dari sini akan jauh lebih baik, daripada meladeni orang yang tidak punya etika." Ucap Landa yang mencoba untuk meredakan emosi pada suaminya.
Bukannya menjawab, justru Alex tertawa puas saat mendengar ucapan dari Landa, perempuan yang sudah disia-siakannya.
Landa yang tidak mau suasana hati semakin panas, langsung menarik lengan suaminya dan mengajaknya pulang.
"Ayo kita pulang saja, tidak ada gunanya jika kita masih berada disini, yang ada kita akan terus diganggu oleh Alex." Ucap Landa sambil menarik lengan suaminya.
"Ya, aku tahu, tapi gak gini juga caranya. Lepaskan tanganmu, aku masih bisa jalan sendiri." Jawab Ciko berusaha untuk melepaskan tangan istrinya, takut jika salah satunya terjatuh karena terburu-buru.
Landa yang mengerti maksud dari suaminya, langsung melepaskannya, dan segera masuk kedalam mobil.
Alex yang melihatnya, tak kalah beda yang sama halnya mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
Landa dan suami yang sudah berada dalam mobil, Ciko segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Terus, kita mau kemana?" tanya Landa, dan menggigit bibir bawahnya karena tak tahu harus bicara apa.
"Maunya kamu kemana? itu si Alex sepertinya mengikuti kita. Itu lihat, mobilnya Alex bukan?"
Karena penasaran, Landa langsung mengeceknya lewat kaca spion.
"I-i-ya, itu mobilnya Alex. Bagaimana ini, kalau sampai Alex melakukan hal konyol yang dapat membahayakan kita." Jawab Landa bercampur dengan perasaan takut, juga was-was.
Ciko yang tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya, sepintar mungkin untuk melabuinya dengan caranya.
__ADS_1
"Pejamkan kedua mata kamu, dan jangan lupa berpegangan. Ingat, jangan membuka mata sebelum mendapat perintah dariku." Perintah Ciko kepada istrinya, juga tak lupa menambahkan kecepatannya.
Landa yang takut akan terjadi sesuatu awalnya menolak, tapi tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti perintah dari suaminya.
Landa mengangguk, yakni tanda mengiyakan. Saat itu juga, Ciko langsung menghubungi Gane untuk dimintai bantuan. Tentu saja untuk menyelamatkan dirinya bersama sang istri.
"Apa! Kak Ciko dalam bahaya?" tanya Nanney yang sempat mendengar pembicaraan suaminya lewat sambungan telponnya.
Gane mengangguk dan berpesan kepada istrinya untuk tetap berada di rumah, dan dilarang untuk ikut.
"Sayang, aku takut kamu kenapa-napa."
"Tenang saja, aku akan baik-baik saja. Yang harus kamu lakukan itu, tetap berada di rumah ini. Aku akan menghubungi Regar untuk ikut denganku, juga Henny untuk menemani kamu di rumah." Jawab Gane sambil memegangi kedua pundak milik istrinya.
Nanney yang juga khawatir akan keselamatan kakaknya bersama kakak iparnya, bercampur aduk rasanya yang juga ikut memikirkan keselamatan suaminya sendiri.
"Ya udah, aku berangkat. Kalau kamu butuh apa-apa, bilang aja sama pelayanan atau Bibi." Ucap Gane sebelum menyusul kakak iparnya.
Sedangkan Tuan Herdi yang baru saja sampai di rumah, langsung dihentikan langkah kakinya.
"Tuan, ini ada kiriman dari orang yang tidak dikenal. Orangnya baru saja pergi setelah memberikan amplop besar ini." Ucap seorang penjaga rumah sambil menyodorkan amplop besar kepada Tuan Herdi.
Karena penasaran ingin melihat isinya, Tuan Herdi langsung merobek bagian pinggirnya. Setelah itu, dengan seksama membaca lembaran kertas yang bertuliskan pena hitam.
"Putrimu dan menantumu dalam bahaya. Siap-siap kamu akan kehilangan mereka, waktumu tidak lagi lama, Tuan Herdi Ningrat." Ucap Tuan Herdi saat membaca isi lembaran kertas yang baru ia terima dari penjaga rumah.
__ADS_1