Bodyguard Pewaris Tunggal

Bodyguard Pewaris Tunggal
Berusaha untuk tidak bertengkar


__ADS_3

Landa yang kebetulan dapat mendengarkan semuanya, langsung menutup kembali pintunya yang tanpa ia sadari telah mengeluarkan bunyi cukup didengar dari dalam ruangan, dan mengagetkan orang yang ada dalam ruangan tersebut.


Seketika, sekretaris Ciko dibuatnya kaget, juga penasaran dengan siapa yang tengah menutup pintunya.


"Kak Ciko." Panggil Aina saat sekretaris Ciko hendak berjalan menuju pintu.


Sekretaris Ciko langsung menoleh ke belakang.


"Kakak mau lihat sebentar, kamu di situ saja sama Ibu." Jawab sekretaris Ciko sambil memberi kode dengan tangan kanannya.


"Aina gak izinin Kakak untuk keluar, titik. Kak Ciko pasti mau menemui perempuan tadi, 'kan? enggak, pokoknya Aina gak izinkan Kakak untuk bertemu dengannya. Dia perempuan tidak baik, dia jahat." Ucap Aina yang terlihat ingin memberontak.


Sang ibu pun berusaha untuk menenangkan putrinya.


"Aina, tenangkan pikiranmu dulu, Nak. Kamu harus bisa menerima semuanya, bahwa Ciko sudah mempunyai istri, dan juga harus menjaga perasaan istrinya." Ucap ibunya mencoba untuk menenangkan pikiran putrinya.


Sekretaris Ciko yang bingung harus mementingkan siapanya, sungguh sulit untuk memilih. Bukan karena soal cinta, melainkan soal tidak ingin di antara keduanya terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya.


Di satu sisi ada Aina yang tidak mau ditinggal pergi olehnya. Di sisi lain, ada Bosnya yang sudah menjadi tanggungjawabnya, juga terlihat seperti tengah marah pada dirinya juga dengan Aina.


Sekretaris Ciko yang masih berdiam diri, ia mencoba untuk menentukan pilihannya. Karena tidak ingin keduanya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, berusaha untuk membujuk Aina maupun Bosnya. Berharap, semua akan mengerti satu sama lainnya, meski semua itu sangatlah sulit.


Sekretaris Ciko mendekatinya.


"Aina, Kakak mohon jangan seperti anak kecil. Istri Kakak juga penting, dan kesehatan kamu juga penting. Jadi, biarkan Kakak untuk menemui istri Kakak, dan meminta pengertian kepada istri Kakak. Dan kamu juga, Kakak mohon untukmu memberi pengertian padanya. Kamu tunggu disini sebentar, nanti Kakak akan kembali lagi, janji." Ucap sekretaris Ciko yang merasa benar-benar begitu penat untuk memikirkannya.


"Janji, jangan bohong." Jawab Aina sambil menjulurkan jari jemarinya dengan kode jari kelingkingnya yang siap untuk berjanji.


Tidak ingin berlama-lama, akhirnya sekretaris Ciko mengiyakan dan menuruti keinginannya.


"Kakak pergi dulu, kamu disini dulu ditemani sama Ibu." Ucap sekretaris Ciko.


Aina mengangguk, pertanda mengiyakan.

__ADS_1


Takut terjadi sesuatu dengan Bosnya yang juga memiliki sifat yang sama keras kepalanya seperti Aina, sekretaris Ciko segera mencari keberadaan Bosnya.


"Kemana lagi aku harus mencarinya. Apa iya Nona Landa langsung pulang. kalaupun iya, terus gimana ini? Aina, Nona Landa, sungguh sudah menguras pikiranku." Gumamnya terasa penat, dan langsung mengusap wajahnya dengan kasar.


Tidak disadarinya jika Bosnya sudah berada di belakangnya.


"Ternyata benar, kamu sangat khawatir dengan perempuan yang bernama Aina itu. Kenapa gak dinikahi saja itu perempuan, dan batalin saja pernikahan kita." Ucap Landa yang tiba-tiba nyeletuk di belakang sekretarisnya.


Seketika, sekretaris Ciko memutar balikkan badan dan menatap Bosnya.


"Nona, saya mohon jangan memperkeruh keadaan dengan kondisi yang sedang tidak baik-baik saja. Saya tidak mempunyai hubungan apapun mengenai Aina, dia mengalami depresi berat karena ditinggal calon suaminya. Jadi, saya mohon untuk mengerti." Jawab sekretaris Ciko dengan tatapan serius.


"Ah! sudahlah, urus saja perempuan itu. Kamu gak usah khawatir, nanti aku akan bicara langsung kepada kedua orang tuaku untuk membatalkan pernikahan kita. Dan kamu, nikahi saja itu perempuan yang bernama Aina."


"Nona!"


Kali ini sekretaris Ciko mulai geram, dan terpaksa harus membentak Bosnya. Tidak peduli jika mendapat aduan dari Bosnya.


Saat itu juga, sekretaris Ciko segera menghubungi Doin untuk datang ke rumah sakit, tentunya untuk menjemput Bosnya. Karena tidak ingin bertengkar terus menerus karena suatu kesalahpahaman, akhirnya memilih untuk tidak pulang bersama dari pada harus berdebat.


"Sebentar lagi si Doin akan datang menjemput Nona, silakan untuk ditunggu sebentar."


"Tuh kan,"


"Ada apa, Nona? bukankah Nona sendiri yang awalnya meminta kepada saya untuk membatalkan pernikahan? terus, kenapa Nona menjadi emosi. Seharusnya Nona sangat senang, jika pernikahan kita dibatalkan." Ucap sekretaris Ciko dengan kalimatnya yang cukup dapat membungkam mulut Bosnya itu, yang mana apa yang menjadi kemauannya terpenuhi, termasuk menikah dengannya.


Landa yang mendengar ucapan dari sekretarisnya itu, rasanya begitu sakit mendengarnya. Kalimat yang pernah ia dengar, seolah menjadi cambuk pada dirinya sendiri.


Karena sudah diminta untuk mengikuti kemana perginya, Doin sudah datang sesuai perintah dari sekretaris Ciko.


"Ada apa kamu menghubungi aku, Bro?" tanya Doin yang tiba-tiba sudah datang.


"Aku mau minta tolong sama kamu untuk mengantarkan Nona Landa sampai di rumahnya, nanti aku menyusul. Katakan kepada Tuan Herdi, bahwa diriku masih ada kendala yang belum bisa untuk dijelaskan. Secepatnya aku akan segera pulang, tolong berhati-hati ketika mengendarai mobil." Jawab sekretaris Ciko yang tak lupa untuk berpesan kepada teman akrabnya.

__ADS_1


"Ok, Bro. Tapi benar ya, buruan pulang."


"Ya, nanti aku akan segera pulang setelah urusanku selesai."


Landa yang seolah tengah diabaikan, ingin rasanya memberontak dan maki-maki sekretarisnya itu. Namun, niatnya diurungkan.


"Nona, silakan pulang bersama Doin. Nanti saya akan segera menyusul, hati-hati dijalan." Ucap sekretaris Ciko kepada Bosnya, sekaligus calon istrinya.


Tidak merespon sama sekali, Landa langsung pergi meninggal sekretarisnya.


"Yang sabar, Bro. Namanya juga perjuangan, pasti akan ada masalah yang harus kamu lewati dan juga dijalani. Aku pulang dulu, selesaikan baik-baik antara kamu dengan Aina. Mau bagaimanapun, kamu sudah menerima permohonan dari Tuan Herdi. Aku yakin jika Nona Landa sudah menaruh hati denganmu." Ucap Doin memberi suport kepada teman akrabnya.


"Ya udah, cepetan kamu susul Nona Landa. Aku tidak ingin emosinya semakin memuncak. Mau bagaimanapun sudah menjadi tanggung jawabku."


Doin mengangguk sambil menepuk salah satu pundak milik sekretaris Ciko. Kemudian, Doin segera mengejar calon istri temannya.


Sekretaris Ciko yang merasa lega, akhirnya dapat peluang untuk menemui Aina.


"Maafkan saya, Nona. Jika saya sudah membuat Nona kesal dan juga marah. Akan saya usahakan untuk segera pulang." Gumamnya sambil berjalan menuju ruangan yang ditempati Aina.


Sambil berjalan, sekretaris Ciko berulang kali mengusap wajahnya dengan kasar, lantaran begitu penat untuk memikirkan dua wanita yang sama kerasnya.


"Maafkan Bapak ya, Nak Ciko." Ucap ayahnya Aina yang tiba-tiba sudah berjalan beriringan.


Tentu saja, sekretaris Ciko dibuatnya sangat kaget dengan kehadirannya Beliau.


"Bapak, kirain siapa. Sebenarnya Bapak tidak perlu meminta maaf, karena sejatinya kalau Bapak itu tidak mempunyai salah."


"Gara-gara Aina, kamu harus berantem dengan istri kamu."


Sekretaris Ciko berhenti, dan menggelengkan kepalanya.


"Namanya juga rumah tangga, Pak. Hal kecil saja terkadang menjadi hal yang sangat besar." Jawab sekretaris Ciko sambil berjalan beriringan.

__ADS_1


__ADS_2