Bodyguard Pewaris Tunggal

Bodyguard Pewaris Tunggal
Semua dibuatnya penasaran


__ADS_3

Semua yang sudah datang di acara pernikahan Landa bersama sekretaris Ciko, tengah dibuatnya penasaran. Lebih lagi tidak ada foto diantara keduanya yang terpajang di pintu masuk.


Sama halnya dengan para karyawan kantornya, juga dibuatnya penasaran juga rasa ingin tahu. Selama perjalanan menuju tempat resepsi, tidak ada satupun yang tidak dibuatnya ingin tahu. Bahkan, didalam mobil semuanya membicarakan sosok laki-laki yang akan menjadi suami Bosnya.


"Kalian penasaran gak sih, sebenarnya yang akan menjadi suaminya Bos Landa itu siapa ya?"


"Ya mana kita semua tahu, kalaupun tahu, ngapain kita penasaran segala. Ah ya, sekretaris Ciko kok seharian ini gak kelihatan ya." Jawab yang satunya.


"Namanya juga orang kepercayaan dari keluarganya si Bos Landa, tentu saja si sekretaris Ciko mendapat perintah dari Bosnya untuk ini dan itu. Bukankah sudah tahu sendiri, Bos kita aja duduknya di depannya bareng sekretaris Ciko." Timpal satunya lagi ikut bicara.


"Ya juga ya, pasti gajinya sekretaris Ciko besar ya. Yang menjadi istrinya pasti sangat senang, secara gaji suaminya besar." Ucap seorang karyawan yang ikutan nimbrung.


"Sudahlah, gak usah membicarakan sekretaris Ciko. Nanti di acara resepsi juga bakal ketemu, mungkin aja dia di sana tugasnya menyambut para tamu undangan, termasuk kita." Ucapnya yang tidak ingin berisik di dalam mobil.


Karena takut mengganggu supir, semua penumpang diam dan memilih tidak banyak mengobrol.


Disisi lain, sekretaris Ciko tengah bersiap-siap untuk mengenakan pakaiannya yang sudah disiapkan adiknya.


"Wah, tampan sekali Kakakku yang satu ini." Puji Nanney sambil membantu kakaknya Berpenampilan.


"Ya dong, Kakak kamu ini sangat tampan, adiknya saja juga sangat cantik." Jawab sekretaris Ciko sambil mengancing pergelangan bajunya.


"Kakak beneran serius kan, maksud aku itu kalau Kak Ciko beneran niat untuk menikahi Bosnya Kakak."


Sekretaris Ciko mengangguk, dan tersenyum menatap adik perempuan.


"Kakak akan belajar dari hubungan pernikahan kamu yang dulu dengan Bos Gane, yang mana kamu dan dia sama sekali tidak ada cinta. Hanya saja, Kakak dan calon istri Kakak tidak ada dendam apapun. Doakan saja, semoga keputusan Kak Ciko ini tidak menjadi sebuah penyesalan." Jawab sekretaris Ciko menjelaskan.


"Aku do'ain, semoga Kakak bersama calon istri Kakak tidak mengalami hal buruk, dan menjadikan rumah tangga Kak Ciko nanti menjadi keluarga yang harmonis, menerima kekurangannya masing-masing." Ucap Nanney dihadapan kakaknya.


Sekretaris Ciko mengangguk.


"Terimakasih adikku, semoga doa darimu diijabah." Kata sekretaris Ciko.


Setelah semua sudah dikenakan dengan rapi, dan tidak ada lagi yang kurang, segera bersiap-siap untuk berangkat.

__ADS_1


"Sudah siap berangkat atau belum nih?"


"Sudah, semua sudah siap." Jawab Nanney yang merasa tidak ada yang tertinggal ataupun kurang.


"Kamu sudah siap kan, Bro?" tanya Gane sambil merangkul kakak iparnya.


"Aku sudah siap." Jawab sekretaris Ciko sambil berjalan beriringan saat hendak keluar dari kamar.


Baru saja keluar dari kamar, sekretaris Ciko dikagetkan dengan suara ponselnya yang tengah berdering.


"Sebentar, aku mau menerima panggilan telepon dulu." Ucap sekretaris Ciko dan merogoh kantong jasnya.


"Ya, Pak, kalau saya tidak memiliki kesibukan, saya akan datang ke rumah." Jawab sekretaris Ciko yang tidak mungkin untuk mengatakan hal yang sebenarnya jika dirinya akan melangsungkan pernikahannya.


Setelah itu, panggilan telpon pun terputus.


"Siapa, Cik? Aina kah?"


"Ya, Aina. Katanya sering memberontak, dan sulit dikendalikan. Entahlah, aku sendiri gak tahu." Jawab sekretaris Ciko sambil mengantongi ponselnya kembali.


"Sebenarnya sih enggak, kemarin itu waktu di pantai hanya sebuah kebetulan saja."


"Sudahlah, kamu tidak perlu menanggapinya dengan serius. Hari ini adalah hari pernikahan kamu, jangan sampai kamu abaikan. Untuk soal Aina, aku akan memerintahkan anak buahku untuk mencari tahu soal Aina."


"Terserah kamu saja, Bos. Ya udah, ayo kita berangkat." Jawab sekretaris Ciko yang memilih untuk segera berangkat.


Gane mengiyakan dan berangkat bareng, juga bersama Doin yang sudah sedari tadi menunggu di depan rumah ditemani Nenek Aruma.


Ketika tidak ada lagi yang tertinggal, waktunya untuk berangkat ke acara resepsi pernikahan sekretaris Ciko sendiri.


Selama perjalanan, suasana di dalam mobil tidaklah hening. Diantara salah satunya tidak lepas untuk mengajak mengobrol maupun bersenda gurau.


Sedangkan di tempat resepsi, para tamu undangan sudah pada datang dan tengah menunggu acaranya dimulai.


"Wah ... benar-benar sangat mewah ya, dekorasinya. Jarang loh, acaranya semegah ini." Puji salah satu seorang karyawan yang menatapnya takjub dengan dekorasi pernikahan Bosnya.

__ADS_1


"Aku yakin nih, kalau calon suaminya Bos Landa sangatlah tajir melintir. Kalau tidak tajir, gak mungkin acaranya semewah ini." Puji salah satu karyawan yang satunya.


"Kapan ya, kita bisa bernasib bagus kek Bos Landa."


"Ngimpi dulu kalau kita mah, soal untuk kenyataan mungkin akan berbanding terbalik." Kata karyawan yang satunya lagi ikut menimpali.


"Sudahlah, jangan ngomongin soal Bos Landa. Mendingan kita ke sana saja yuk, keknya lebih puas untuk melihat acara pengucapan kalimat sakral." Ajaknya kepada teman-temannya untuk berpindah tempat duduknya agar dapat mengetahui siapa laki-laki yang akan menikahi Bosnya sendiri.


Di lain sisi, Landa tengah dibuatnya sibuk sendiri, lantaran acara pernikahannya akan segera di mulai.


"Landa! tega kamu ya, memberi kabar kek orang jantungan saja kamu ini. Tega ya kamu, kenapa gak dari kemarin kasih kabarnya. Lihat nih, aku kan jadi terburu-buru datang ke acara pernikahan kamu." Ucap Wela yang mendapat kabar atas pernikahan sahabatnya dengan waktu yang begitu mendadak.


Landa yang melihat ekspresi sahabatnya itu, pun tertawa kecil.


"Ya ih, kamu ini tega bener sama kita berdua." Kata teman akrab yang satunya, yakni Naila namanya.


"Naila, Wela, maafkan aku ya. Soalnya nih, pernikahan aku dadakan. Jadi, aku memberi kabarnya mendadak juga sama kalian berdua. Tapi kan, sekarang kalian sudah datang."


"Hem. Padahal tuh, aku pingin menemani kamu tidur sebelum kamu tidur dengan suami kamu." Kata Wela.


"Tenang saja kalau untuk soal tidur mah, bilang aja nanti sama suaminya Landa untuk mengizinkan kita tidur dalam semalam. Sedangkan suaminya Landa biar tidur di kamar lain, ini harus kompak." Ucap Naila memberi ide kepada dua temannya.


Sedangkan Landa sendiri mencoba untuk mencernanya. Saat itu juga, Landa seolah tengah mendapatkan wangsit untuk mengikuti saran dari temannya.


"Ok! aku sangat setuju, kalian bilang saja kalau ingin tidur bersamaku dalam semalam." Ucap Landa begitu semangat, tentu saja sangat mengagetkan kedua temannya, Wela dan Naila.


Kedua temannya langsung menoleh pada Landa, yakni merasa heran dengan dirinya.


"Kamu lagi tidak sedang hangat, 'kan?" tanya Wela sambil mengecek suhu badannya di bagian keningnya.


Landa menggelengkan kepalanya.


"Kalian pikir itu, aku sedang tidak wa_ras, gitu maksudnya?"


Wela nyengir kuda.

__ADS_1


__ADS_2